Oleh: H. Ahmad Subehan, Lc, S.Pd.I | 20 Desember 2008

PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN EVALUASI KURIKULUM

PERENCANAAN, PELAKSANAAN DAN EVALUASI KURIKULUM
OLEH : H MUNADI
I. PENDAHULUAN
Untuk dapat merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi pelaksanaan dan bahkan mengevaluasi sebuah kurikulum seorang guru diperlukan pemahaman yang baik tentang kurikulum itu sendiri, karenanya dalam makalah ini akan dijelaskan secara singkat mulai dari konsep kurikulum, yang meliputi pengertian kurikulum , peranan kurikulum :fungsi kurikulum , model pengembangan kurikulum, tingkat/ jenis kurikulum, desain konsep kurikulum, pengembangan kurikulum, lalu kemudian bagaimana merencanakan dan merubah kurikulum menjadi pengajaran yang meliputi perencanaan jangka panjang, perencanaan pelajaran harian, dasar-dasar pelaksanaan pengajaran, pelaksanaan kurikulum dalam pembelajaran, dan terakhir bagaimana mengevaluasi pengajaran serta mengevaluasi kurikulum itu sendiri
II. KONSEP KURIKULUM
A. PENGERTIAN KURIKULUM
Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu Curriculum, bentuk jamak dari curicula yang berarti tempat lari (curere=berlari), yang dipakai dalam lomba pacuan kuda, marathon, dsb.
Dalam perkembangan selanjutnya istilah kurikulum dipakai dalam dunia pendidikan, dimana pengertiannya dapat kelompokkan kedalam 2 versi pengertian
1. Pengertian Tradisional
a. Dalam Webster’s New Word Dictionary, dikemukakan :
“ All the courses of study given in an educational institution”
b. Dalam buku Modern Elementary, dikemukakan :
“ The subjects matters taught in school, or the course of studi “
c. Curriculum Planing For Better Teaching and Learning, dikemukakan
“ The Curriculum is frequently considered to be those things we wish children to learn in school”
d. Dalam Webster’s International Dictionary, dikemukakan :
“ a specified fixed course of study, as in a school or College, as one leading to a degree”
Dari beberapa pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kurikulum menurut pengertian tradisional, adalah “sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan yang harus ditempuh /dipelajari/ dikuasai oleh peserta didik untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau Ijazah”.
2. Pengertian Modern
a. Dalam buku Re organizing the High School Curriculum, dikemukakan :
“ All of activities that are provide for student by the shool contitute”
b. Dalam buku The Emerging High Curriculum, dikemukakan :
“ The Curriculum is looked upon as being composed of all the actual expriences pupils have under school direction, writing a course of study becomes but small part of curriculum program“
c. Dalam buku Curriculum Planing For Better Teaching and Learning, dikemukakan :
“ The Curriculum is the sum total of the school’s effort to influence learning whether in the class room”
d. Dalam buku Building The High School Curriculum, disebutkan :
“ Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities and experiences wich pupils have under the direction of the school, wether in the clas room or not “
e. Dalam Buku “ Azas-azas Kurikulum, dikemukakan :
“ Semua kegiatan atau pengalaman belajar murid di bawah tanggung jawab sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan”
Dari beberapa pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kurikulum menurut pengertian Modern, adalah “Sejumlah mata pelajaran, kegiatan, pengalaman,kondisi dan situasi yang direncanakan di dalam sekolah( baik di dalam atau di luar kelas ) serta harus dilalui oleh peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan”.
B. PERANAN KURIKULUM
Sebagai repleksi dari kebudayaan , kurikulum sebagaimana kurikulum Mata Pelajaran lainnya mempunyai peranan, sbb. :
1. Peranan Konservatif
Kurikulum mempunyai tanggung jawab terhadap kelestarian budaya (menafsirkan dan mewariskan nilai-nilai dasar budaya, yang kalau masyarakatnya agamis, maka nilai yang mendasarinya pun berdasarkan ajaran agama ) melalui pembinaan prilaku peserta didik di mana kurikulum itu diterapkan.
2. Peranan Kreatif
Kurikulum harus mampu mendesain/mendorong/ melakukan kegiatan kreatif dan konstruktif terhadap pengalaman belajar yang bersumber dari norma-norma (MP.PAI bersumber dari ajaran agama Islam) dan kehidupan kemasyarakatan, seperti unsur lapisan sosial, pengelompokan sosial, sistem kelembagaan sosial, maupun nilai-nilai yang berkembang di tengah masyarakat, dalam bentuk mata pelajaran PAI yang akan disajikan kepada peserta didik, untuk menjadikan peserta didik sebagai anggota masyarakat yang agamis dan berbudaya.
3. Peranan Kritis dan Evaluatif
Kurikulum harus punya peran sebagai kontrol sosial dengan menekankan pada unsur berfikir kritis terhadap budaya yang ada dan akan diwariskan, dimana yang sesuai dengan perkembangan zaman diakomodir dan tidak sesuai tidak diakomodir dalam bentuk Mata Pelajaran, yang diharapkan mampu membentuk integritas pribadi peserta didik dengan kehidupan nyata di masyarakat.
C. FUNGSI KURIKULUM
Dilihat dari sudut kurikulum sebagai Konsep ideal atau yang dicita-citakan, memiliki fungsi sebagaimana diungkapkan Alexander Inglis dalam The Principles of Secondary Education, adalah (1) The Adjustive of adavtive function, (2) The Integrating Function, (3). The differentiating function,(4) The Prapaedatic function, (5). The Selective Function, (6) The Diagnostic Function.
1. Fungsi Penyesuaian (The Adjustive of adavtive function )
Kurikulum harus mampu menata ajaran agama dan keadaan masyarakat yang selalu dinamis untuk dibawa ke lingkungan sekolah sebagai objek pembelajaran peserta didik, agar nantinya peserta didik dapat mengamalkan ajaran agama di masyarakat dan mengadaptasikan diri mereka secara menyeluruh dalam lingkungan kehidupan mereka.
2. Fungsi Pengintegrasian(The Integrating Function )
Kurikulum harus dapat menyiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik yang mengacu kearah pengintegrasian peserta didik dengan norma-norma dan realitas kehidupan yang ada di masyarakat, agar manakala peserta didik terjun ke masyarakat mereka dapat berintegrasi(memadukan diri) dengan masyarakatnya dalam mengamalkan ajaran agama yang diterimanya.
3. Fungsi Deferensiasi(The differentiating function )
Kurikulum harus mampu melayani pengembangan potensi-potensi peserta didik yang pada dasarnya selalu memiliki perbedan antar mereka, sehingga semua potensi peserta didik dapat dikembangkan ke arah yang dapat dimanfaatkannya dikehidupan mereka selanjutnya.
4. Fungsi Pernyiapan(The Prapaedatic function)
Kurikulum harus mampu memberikan bekal bagi peningkatan Ilmu Pengetahuan peserta didik ke jenjang yang lebih tinggi/ mendalam dan memberikan bekal pegangan hidup bagi peserta didik dalam kehidupannya di masyarakat.
5. Fungsi Seleksi/ Pemilihan(The Selective Function )
Kurikulum harus mampu menyiapkan program yang sesuai dengan bakat dan minat peserta didik, sehingga peserta didik dapat memilih program sesuai dengan bakat dan minatnya.
6. Fungsi Diagnostik(The Diagnostic Function)
Kurikulum harus mampu memahami bakat dan minat peserta didik, dengan upaya pelayanan dimana peserta didik mampu memahami dirinya, mengarahkan dirinya, mengembangkan dirinya dan pada gilirannya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupannya.
Sedangkan kurikulum ditinjau dari sudut aktuaisasinya bagi lingkup sekolah , maka dapat ditinjau dari 3 segi seperti yang dikemukakan oleh Winarno Surachmad dalam Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum,yaitu Fungsi bagi sekolah yang bersangkutan, fungsi bagi sekolah pada tingkat di atasnya dan fungsi bagi masyarakat.
1. Fungsi Bagi Sekolah Yang Bersangkutan
Disini kurikulum harus dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan sebagai acuan mengatur kegiatan yang dilaksanakan di sekolah mengarah kepada pencapaian tujuan pendidikan di sekolah itu.
2. Fungsi Bagi Sekolah pada tingkat Diatasnya
Kurikulum harus mampu memelihara keseimbangan dan kontinuitas program pendidikannya, ia harus dapat menyesuaika diri atau menjadi dasar acuan kelanjutan program pendidikan bagi sekolah yang setingkat berada di atasnya
3. Fungsi Bagi Masyarakat
Kurikulum harus mampu mencerminkan segala kebutuhan masyarakat, agar peserta didik dengan disiplin ilmu dan profesi yang didapatnya, dia dapat diterima di tengah masyarakat
Dalam lingkup kerangka sistem Administrasi pendidikan yang lebih luas, maka kurikulum dapat berfungsi sebagaimana yang dikemukakan oleh Drs. H.Murjani dalam “Tinjauan Administrasi Pendidikan tentang Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.”, yaitu “(1)Fungsi Kurikulum dalam rangka mencapai Tujuan Pendidikan, (2) Fungsi Kurikulum bagi murid/ siswa, (3) Fungsi Kurikulum bagi guru, (4) Fungsi Kurikulum bagi Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah, (5) Fungsi Kurikulum bagi orang tua murid, (6) Fungsi Kurikulum bagi Sekolah pada Tingkat di atasnya, (7) Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Pemakai Lulusan.”
1. Fungsi Kurikulum dalam rangka mencapai Tujuan Pendidikan
Sebagai mana di atas di jelaskan, kurikulum harus dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam semua aktifitas di suatu sekolah yang mengarah kepada tercapainya tujuan Institusional sekolah itu, dimana tujuan institusi tersebut sedemikian rupa dikembangkan dari Tujuan Pendidikan Nasional yang juga dikembangkan dari Tujuan Nasional. Maka pada hakekatnya kurikulum secara herarchis harus mampu mencapai tujuan pendidikan nasional dan tujuan nasional.
2. Fungsi Kurikulum bagi murid/ siswa
Kurikulum harus mampu memberikan bekal bagi para peserta didik untuk hidup di tengah masyarakat dan atau mendalami/ melanjutkan studi keilmuan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
3. Fungsi Kurikulum bagi guru
Bagi guru sebagai tenaga kependidikan utama di sekolah, kurikulum harus mampu menjadi :
a. Pedoman dalam merencanakan dan melaksanakan tugas mendidik~melatih dan Mengajar, dalam bentuk penyusunan dan pengorganisasian pengalaman belajar yang akan disajikan kepada peserta didik.
b. Pedoman dalam merencanakan dan melakukan evaluasi terhadap perkembangan daya serap peserta didik terhadap pengalaman belajar yang telah disajikan kepada mereka.
4. Fungsi Kurikulum bagi Kepala Sekolah dan Pembina Sekolah
Kurikulum harus dapat dijadikan pedoman dalam melakukan tugas-tugas sebagai administrator/ Manager (merencanakan, melaksanakan, mengontrol, mengevaluasi kegiatan pendidikan dan pengajaran ) dan supervisor (pengawasan dan bimbingan perencanaan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran) dalam rangka memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah tersebut.
5. Fungsi Kurikulum bagi orang tua murid
Kurikulum harus dapat dijadikan acuan peran partisipatif orang tua dalam rangka memajukan pendidikan dan pengajaran bagi anak-anaknya yang menjadi peserta didik di suatu sekolah. Peran aktif tadi bisa dilakukan mereka seperti dalam musyawarah kependidikan sekolah, memberi saran dan masukan bagi pengembangan Visi ~ Misi ~ Mutu pendidikan dan pengajaran, menjadi konsursium pendanaan dan penyedia fasilitas sekolah, atau membantu tenaga/ pikiran/ dana lewat organisasi BP 3 sekolah
6. Fungsi Kurikulum bagi Sekolah pada Tingkat di atasnya
Sebagaimana dikemukakan di atas, Kurikulum harus mampu memelihara keseimbangan dan kontinuitas program pendidikannya, ia harus dapat menyesuaikan diri atau menjadi dasar acuan kelanjutan program pendidikan bagi sekolah yang setingkat berada di atasnya
7. Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Pemakai Lulusan
Juga sebagaimana dkemukakan diatas, kurikulum harus mampu mencerminkan segala kebutuhan masyarakat, agar peserta didik dengan disiplin ilmu dan profesi yang didapatnya, dia dapat diterima di tengah masyarakat.
Kaitannya dengan hal tersebut, paling tidak ada 2 hal yang harus dilakukan masyarakat :
a. Ikut memberikan masukan/ kritik konstruktif bagi perencanaan dan pelaksanaan serta peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran di sekolah
b. Ikut membantu penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah yang membutuhkan kerjasama yang produktif dengan masyarakat, bagi pencapaian visi, misi dan mutu sekolah tersebut.
D. MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Model konsep dan pengembangan kurikulum adalah suatu konstruksi dasar sebuah kurikulum , yang merupakan lambang acuan teoritik dalam melakukan pengembangan sebuah kurikulum.
Berikut dikemukakan beberapa model kurikulum, yang sering dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
a. Model Kurikulum Roger
1. Model I
Model ini menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri atas kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran/Materi Pelajaran) dan ujian (Evaluasi), maka kurikulum pun dikembangkan mengacu kepada dua hal tersebut.
Dari model ini, akan dapat dimunculkan 2 pertanyaan pokok, yaitu :
a) Apa yang saya ajarkan ?
b) Bagaimana hasil pengajaran saya ?
2. Model II
Model ini merupakan penyempurnaan dari model I, dimana dalam pengembangannya disamping pengembangan materi dan evaluasi juga dipikirkan pemilihan metode dan penyusunan organisasi bahan pelajaran secara sistematis.
Dari model ini, akan muncul empat pertanyaan pokok bagi seorang pengajar, yaitu :
a) Apa yang saya ajarkan ?
b) Bagaimana hasil pengajaran saya ?
c) Bagaimana saya mengajar ?
d) Bagaimana organisasi bahan yang akan saya ajarkan ?
3. Model III
Model ketiga merupakan penyempurnaan model II, yaitu dengan memasukkan unsur teknologi pendidikan, dimana dalam mengembangkan sebuah kurikulum disamping pengembangan materi dan evaluasi juga dipikirkan pemilihan metode dan penyusunan organisasi bahan pelajaran secara sistematis serta penggunaan teknologi yang tepat digunakan dalam penyampaian materi tersebut.
4. Model IV
Model keempat merupakan penyempurnaan model III, yaitu dengan memasukkan unsur Tujuan pendidikan, dimana Tujuan merupakan arah utama dalam mengembangkan sebuah kurikulum baik dalam pengembangan materi , evaluasi , pemilihan metode dan penyusunan organisasi bahan pelajaran serta penggunaan teknologi yang tepat digunakan dalam penyampaian materi tersebut.
b. Model Pengembangan Kurikulum Robert S. Zais
Model pengembangan kurikulum Rpbert S.Zais ini sering disebut model administratif atau model garis dan staf atau bisa juga disebut model dari bawah ke atas.
Disebut demikian karena dalam pengembangannya, sbb. :
1. Pejabat pendidikan yang berwenang membentuk panitia pengarah
2. Panitia pengarah merencanakan, mengarahkan dan menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan umum pendidikan ( terdir dari pengawas, kepala sekolah dan guru inti )
3. Panitia pengarah membentuk Panitia kerja yang terdi dari staf pengajar dan ahli kurikulum.
4. Komisi-komisi dari panitia kerja melakukan uji coba.
5. Hasil uji coba dievaluasi oleh panitia pengarah untuk kemudian diuji cobakan lagi, baru diputuskan untuk dilaksanakan
c. Model Pengembangan Kurikulum Gree – Roots
Pengembangan model kurikulum ini ingin dilakukan secara demokratis, yaitu berawal dari bawah, sbb. :
1. Inisiatif rancangan kurikulum datang dari bawah ( dari pelaksana dilapangan )
2. Diarahkan para administrator
3. Diseminarkan/ dilokakaryakan dengan melibatkan semua pihak
4. Baru dilaksanakan hasilnya.
d. Model Pengembangan Kurikulum G.A.Beauchamp
Berdasarkan model ini, ada 5 langkah pokok dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Penentuan arena pengembangan ( kelas, sekolah, kawasan pemakai regeonal atau nasional )
2. Menentukan para pengembang (specialis kurikulum, wakil kelompok profesional dan wakil masyarakat umum )
3. Menentukan prosedur perencanaan kurikulum dan membentuk dewan kurikulum yang bertugas menyusun kurikulum
4. Melaksanakan kurikulum di sekolah
5. Melakukan penilaian terhadap kurikulum yang dilaksanakan
e. Model Pengembangan Kuikulum terbalik Hilda Taba
Berdasarkan model ini, ada 5 langkah pokok dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Menyusun unit – unit kurikulum
2. Uji coba kurikulum oleh staf pengajar
3. Menganalisis dan merevisi hasil uji coba
4. Menyusun kerangka kerja teoritis
5. Menyusun kurikulum secara menyeluruh
E. TINGKAT/ JENIS KURIKULUM
1. Tingkat Kurikulum
Tingkatan kurikulum dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Kurikulum Tingkat Institusi
Kurikulum Tingkat Institusi adalah kurikulum yang harus dipedomani dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran secara umum di suatu sekolah.
Kurikulum Tingkat Institusi ( lembaga ) ini dikenal dengan Buku I Tingkat Lembaga, yang biasanya memuat Tujuan Umum dan Khusus suatu lembaga, Ruang Lingkup dan Jabaran Mata Pelajaran yang harus diajarkan pada suatu lembaga berikut dengan alokasi waktu per mata pelajaran tersebut.
Kurikulum Tingkat Lembaga ini biasanya juga dilengkapi dengan pedoman umum penyelenggaraan kegiatan, seperti pedoman administrasi ( sekolah dan guru ), pedoman evaluasi, dll.
b. Kurikulum Tingkat Mata Pelajaran
Kurikulum Tingkat Mata Pelajaran dikenal dengan GBPP ( garis-garis Besar Program Pengajaran ) atau Syllabus atau Kurikulum Mata Pelajaran.
Kurikulum pada tringkat ini, memuat Pengertian, Tujuan, rambu-rambu dan Program pengajaran untuk MP tertentu.
Kurikulum pada tingkat ini biasanya juga ditunjang dengan pedoman strategi pembelajaran dan pedoman evaluasi program.
c. Kurikulum Tingkat Operasional
Kurikulum Tingkat Operasional adalah Lesson Plan ( Rencana Pelajaran) yang dibuat dan akan dilaksanakan oleh guru di dalam pertemuan tatap muka.
Hal yang minimal harus ada dalam sebuah Rencana Pelajaran adalah Tujuan Pembelajaran Khusus yang dikembangkan dari Tujuan Pembelajaran dalam GBPP, Uraian Materi Esiensial, Langkah PBM dan Alat Evaluasi.
Suatu rencana pelajaran, biasanya berdasarkan acuan Program dan Analisis Materi Pelajaran yang harus dibuat sebelumnya.
Untuk mengevaluasi apakah sebuah rencana sudah bagus atau bagaimana, maka Rencana Pelajaran pun harus dilengkapi dengan Analisis Hasil Ulangan Harian dan Program Tindak lanjutnya.
2. Jenis Kurikulum
Jenis kurikulum diperlukan untuk diketahui, sebab kurikulum yang telah dibuat tenaga ahli pendidikan yang sering disebut kurikulum ideal, harus dikaji, dianalisis dan dikembangkan lagi menjadi kurikulum aktual yang akan digunakan dalam proses pembelajaran peserta didik, yang tentunya harus berorientasi ketujuan yang ingin dicapai dan memperhatikan kematangan peserta didik dalam menerima dan mengembangkan potensi diri mereka, kesempatan yang diberikan dan faktor-faktor yang terkait dengan PBM, seperti ketersediaan alat, situasi dan kondisi, dan lain sebagainya.
Jenis-jenis kurikulum dapat kita lihat dari 2 segi, yaitu :
1. Wujudnya
Wujud kurikulum dapat dibedakan dalam 3 (tiga) jenis, yaitu :
a. Kurikulum Ideal (Ideal Curriculum), yaitu kurikulum yang dicita-citakan sebagai acuan tertulis dari penyelenggaraan pendidikan, seperti kurikulum Tingkat Institusi (Buku I) dan Kurikulum Tingkat Mata Pelajaran (GBPP).
b. Kurikulum Aktual (Actual Curriculum), yaitu aktualisasi / penerapan kurikulum yang dicita-citakan (kurikulum ideal) dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran peerta didik di sekolah.
Apa yang dapat terlaksana di lapangan dari kurikulum ideal, itulah kurikulum aktual.
Kurikulum aktual bisa sesuai atau hanya mendekati dengan harapan kurikulum ideal, hal ini tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sesuai atau tidaknya dengan tuntutan kurikulum, seperti kemampuan pelaksana, ketersediaan sarana prasarana, dll.
c. Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curiculum), adalah semua kegiatan dan kondisi yang diciptakan di sekolah dan tidak tersurat dalam kurikulum ideal, namun direncanakan sedemikian rupa untuk membawa anak ke arah pencapaian Tujuan Pendidikan yang diharapkan oleh lembaga pendidikan itu.
Umpama sekolah mengadakan lomba-lomba keagamaan, untuk mengkristalkan pengamalan ajaran Islam dan sikap prilaku Islami di kalangan peserta didik, yang direncanakan sebagai upaya pencapaian salah satu tujuan pendidikan di sekolah itu, maka yang demikian dapat dikelompokkan dalam Hidden Curriculum ini.
2. Strukturnya :
Struktur kurikulum, adalah susunan program suatu kurikulum, yang mencakup dua segi yaitu susunan bahan dan sistem pelaksanaan.
Jika dilihat dari struktur ini, maka kurikulum dapat kita bedakan jenisnya, sebagai berikut :
a. Struktur Horisontal ( Struktur sajian bahan )
1. Kurikulum Mata Pelajaran Terpisah ( Subject Matter Centred Curriculum )
Kurikulum Mata Pelajaran terpisah ( Subject Matter Centred Curriculum ), adalah kurikulum yang menyajikan bahan pelajaran (Subject Matters) walaupun berhubungan, secara terpisah satu sama lain.
Kurikulum ini menyajikan bahan secara sistematis dan logis, berurutan yang sederhana ke yang lebih kompleks, seperti dari pengertian terus kebidang bahasan yang lebih luas.
Contoh Mata Pelajaran yang menggunakan kurikulum ini, seperti Ilmu Bumi, Ilmu Hayat, Nahwu, Sharaf, dll.
2. Kurikulum Korelatif (Correlated Curriculum)
Kurikulum Korelatif (Correlated Curriculum) adalah kurikulum yang mengharuskan adanya hubungan antara berbagai mata pelajaran, sehingga satu sama lainnya saling memperkuat dan saling melengkapi.
Korelasi itu sendiri dapat dilakukan, berupa :
a. Korelasi Okasional (insidental), yaitu korelasi yang dilakukan manakala ada hubungan antara Mata Pelajaran tertentu dengan Mata Peajaran lainnya, seperti Sejarah dengan Geografi, dll.
b. Korelasi Ethis, yaitui korelasi yang ditujukan untuk Pendidikan Akhlak/ Budi Pekerti, misalnya untuk MP. PAI maka di korelasikan dengan bahan ajar tata cara menerima tamu, menghormati guru, teman, dll.
c. Korelasi Sistematis, yaitu korelasi yang memang direncanakan sedemikian rupa oleh si pendidik. Dalam Pengajaran Biologi dibahas juga tentang tata cara memelihara kebun, dll.
d. Korelasi in formal, yaitu korelasi yang dilakukan dengan kerjasama bersama guru lain, misalnya Pengajar Aqidah akan turut membicarakan Al Qur’an Hadits dan Fekih, begitu juga pengajar Al Qur’an Hadits juga turut berbicara tentang SKI dan Akidah Akhlak, … dst.
e. Korelasi Formal, yaitu korelasi yang dilakukan oleh Team guru Mata Pelajaran yang berbeda secara bersama-sama dalam satu kesatuan. Misalnya Topik yang berkaitan dengan Akhlak Mahmudah, dibahas bersama oleh guru Akidah-akhlak, Guru Fekih, Guru Al Qur’an Hadits dan Guru SKI, untuk dibicarakan secara tuntas dalam satu kesatuan.
f. Korelasi Kelompok Mata Pelajaran, yaitu korelasi yang lebih cenderung ke arah peleburan dari berbagai mata pelajaran yang memiliki ciri-ciri yang sama, ke dalam satu Mata Pelajaran. Kurikulum yang mengkorelasikan kelompok Mata Pelajaran ini juga sering di sebut Kurikulum Kelompok Mata Pelajaran atau Curriculum Broad Field, misalnya Fisika + Kimia + Biologi, karena sama-sama berbicara tentang gejala alam, maka disatukan dalam Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
3. Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum)
Kurikulum Kesatuan Mata Pelajaran (Integrated Curriculum), yaitu kurikulum yang memadukan beberapa mata pelajaran dengan tidak ada lagi batas-batas pemisahnya.
Bahan Pengajaran yang menggunakan kurikulum jenis ini, disajikan dalam bentuk unit.
Unit seperti yang dikemukakan oleh Hollis L Caswell, dalam Educational in The Elementary School, adalah “ …a series of related activities engaged in by children in the process of realizing a dominating purpose which compatible with the aims of education”
Ini berarti bahwa setiap unit anak melakukan serangkaian kegiatan yang semuanya bermakna bagi pencapaian tujuan yang diharapkan. Misalnya : Mata Pelajaran Nahwu, Mata Pelajaran Sharaf, Mata Pelajaran Muthalaah, Mata Pelajaran Muhadatsah, Mata Pelajaran Imla,Mata Pelajaran Insya dan Mata Pelajaran Khat dipadukan dalam satu kesatuan Bahasa Arab yang penyajiannya memakai unit-unit. Pada setiap unit terkandung materi Nahwu, Sharaf, Muthalaah, Muhadatsah, Imla, Insya dan Khat yang disusun sedemikian rupa dalam satu kesatuan yang padu.
4. Kurikulum Pengembangan Kegiatan (Deplopmental Activity Curriculum)
Kurikulum Pengembangan Kegiatan (Deplopmental Activity Curriculum), adalah kurikulum yang didasarkan atas tingkat perkembangan peserta didik.
Kurikulum ini artinya harus memperhatikan perbedaan perseorangan peserta didik yang antara lain meliputi kebutuhan, kebiasaan, masalah yang mereka hadapi dan pengalaman mereka.
Menurut Dr.Iskandar Wiryokusumo,M.Sc dalam “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum”, hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kurikulum ini, adalah :
1) Memberikan kegiatan tertentu dengan mempelajari pengalaman-pengalaman pada diri mereka
2) Memberikan media perkembangan keahlian ilmiah
3) Kurikulum ini harus berbentuk penyusunan fakta pengetahuan dasar yang sistematis
4) Kurikulum harus memberikan kesempatan serta bahan pada anak-anak untuk mengungkapkan yang kreatif pada salah satu bidang pengajaran.
5) Fungsi Kurikulum ini mampu mendewasakan anak-anak secara terintegrasi.
Misalnya kita menyusun kurikulum muatan lokal tentang Lingkungan Hidup, yang ditujukan agar peserta didik secara bertahap dapat dikembangkan aktifitasnya bagaimana mau peduli dan berbuat bagi lingkungan hidup sekitarnya, seperti diversifikasi lingkungan sekolah, dsb.
Namun pembuatan kurikulum ini harus dibarengi juga dengan kemampuan si pengajarnya, seperi cara mengajar, cara mengatur efektivitas pembelajaran, merancang pekerjaan yang bermutu, memodifikasi pembelajaran agar menarik, dan lain sebagainya.
b. Struktur Vertikal
Struktur Vertikal kurikulum, maksudnya adalah sistem pelaksanaan kurikulum itu sendiri bagi pendidikan dan pengajaran peserta didik.
Ada 3 jenis kurikulum, dilihat dari segi pelaksanaannya ini, yaitu :
1) Kurikulum Sistem Kelas
Program yang ada di dalam kurikulum di atur sedemikian rupa berdasarkan tingkatan kelas. Misalnya program untuk kelas I, II dan seterusnya.
Seorang siswa baru dapat mengikuti program di kelas yang tertinggi, manakala ia dinyatakan telah menyelesaikan dan lulus untuk program satu tingkat di bawahnya, yang biasanya ditentukan dengan naik kelas atau lulus.
2) Kurikulum Sistem Non Kelas
Program yang ada di dalam kurikulum di atur sedemikian rupa berdasarkan satuan program.
Seorang siswa dapat mengikuti program lanjutan atau program lain yang tidak dibatasi oleh suatu prasyarat, tanpa tergantung oleh keadaan temannya. Jadi para siswa yang berkemampuan di atas teman-temannya ia akan dapat untuk menyelesaikan suatu program dan mengambil program lain lebih cepat dari temannya.
Misalnya Program pada Kursus Komputer. Si A yang menguasai dan dinyatakan lulus sistem DOS, ia bisa meneruskan ke program lain, umpamanya Exell for Windows atau Microsoft Word For Windows, dll.
3) Kurikulum Kombinasi antara Sistem Kelas dan Non Kelas
Sistem Kredit Semester adalah kombinasi antara sistem kelas/ Semester dengan non kelas, dimana mereka yang memperoleh IPS tinggi akan diberi kesempatan berbeda dapat menempuh beban pengambilan studi pada semester berikutnya, misalnya 2,00 – < 2,5 hanya diberi kesempatan menempuh maksimal 20 sks, sedangkan 2,5 – < 3 dapat menempuh maksimal 23 sks dan IPS 3 – 4 dapat menempuh 24 sks.
F. DESAIN KONSEP KURIKULUM
1. ANATOMI KURIKULUM
Kurikulum merupakan sebuah sistem yang di dalamnya ada berbagai komponen yang satu sama lain tidak bisa dipisah-pisahkan.
Komponen pokok kurikulum menurut Pratt seperti yang dikutip Winarno Surachmad, adalah tujuan. Isi, organisasi dan strategi.
a. Tujuan
Kurikulum dalam lingkup sekolah, memiliki tujuan, sbb. :
1) Tujuan institusional, yaitu tujuan yang ingin dicapai setelah peserta didik menyelesaikan seluruh program pendidikan dan pengajaran pada sekolah tersebut.
Tujuan ini terdapat pada buku I kurikulum tingkat lembaga di suatu sekolah.
2) Tujuan kurikuler, yaitu tujuan yang ingin dicapai setelah peserta didik menyelesaikan seluruh program untuk mata pelajaran/ bidang studi/ vak/ mata kuliah tertentu.
Tujuan ini terdapat pada buku II atau GBPP atau kurikulum mata pelajaran/ bidang studi tertentu.
b. Isi
Isi kurikulum disebut juga muatan kurikulum atau program atau juga disebut syllabus, meliputi:
1) Pokok Bahasan
2) Sub Pokok Bahasan
3) Uraian inti materi
c. Organisasi
Dimaksudkan organisasi disini adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka program pengajaran yang akan disajikan kepada siswa.
Struktur ini, meliputi :
1) struktur horisontal; struktur yang berhubungan dengan bahan yang akan disampaikan, seperti integratif, korelated dan atau sabjek matter
2) Struktur vertikal; yaitu struktur yang berhubungan dengan masalah pelaksanaan kurikulum di sekolah, seperti sistem kelas, non kelas atau gabungan keduanya.
d. Strategi
Strategi ini merupakan cara yang ditempuh dalam menerapkan kurikulum baik dalam melaksanakan pengajaran, penilaian, bimbingan konseling dan karier, pengaturan kegiatan sekolah secara keseluruhan, pemilihan metode, alat dan media, dsb.
Misalnya dalam pelaksanaan pengajaran dilakukan dengan pendekatan PPSI atau cara lainnya seperti Modul, paket pelajaran, dsb.
Komponen-komponen kurikulum tadi memang diakui sebagai bagian-bagian dari sebuah kurikulum, namun satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan, saling terkait dan berhubungan erat, misalnya Tujuan komponen yang tidak bisa dipisahkan dari isi dan strategi, sebab tujuan yang ada pada kurikulum itu merupakan arah dan bahkan batas akhir dari pengembangan isi dan strategi. Begitu juga isi tak mungkin ada dan terarah serta dapat disistematikakan ke arah tertentu, manakala Tujuan belum ada ditetapkan. Strategi yang baik tak mungkin dapat dikembangkan manakala tujuan dan atau isi tidak ditetapkan terlebih dahulu.
III PENGEMBANGAN KURIKULUM
A. PENGERTIAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum di suatu sekolah, meliputi kurikulum tingkat Institusi (biasanya dikenal dengan sebutan Buku I) dan kurikulum tingkat mata pelajaran (dikenal dengan Buku II) yang disebut juga GBPP ( Garis-garis Besar Program Pengajaran) atau Syllabus Mata Pelajaran, yang merupakan pengembangan dari kurikulum tingkat institusi (lembaga) tadi.
Pengembangan kurikulum PAI adalah kegiatan menjabarkan Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Pelajaran PAI ke dalam Program Pengajaran Tahunan, Program Pengajaran Catur Wulan, Program Pengajaran Mingguan dan Program Pengajaran Tatap Muka (berupa Satuan Pelajaran dan Rencana Pengajaran ) untuk nantinya dijadikan pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran peserta didik.
B. DASAR-DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM
Ada beberapa dasar ( azas ) dalam pengembangan kurikulum, yaitu :
1. Azas Filosofis
Filsafat yang mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara atau yang umum di anut oleh suatu bangsa/ negara, seperti sekuler, agamis, aties, dll akan menentukan bentuk tujuan umum pendidikan, yang tentunya akan menjadi arah bagi pelaksanaan pendidikan suatu negara itu, dan dalam pengembangan kurikulum itu harus diperhatikan hal ini, kalau tidak maka pendidikan dan out putnya tidak akan diterima secara umum di negara itu.
2. Azas Sosiologis
Kehidupan sosial kemasyarakatan yang berbeda-beda juga harus menjadi azas utama dalam pengembangan kurikulum, agar out put dan lembaga itu bisa hidup dan diterima di lingkungan masyarakat itu. Masyarakat industri, agraris, modern atau tradisional, masyarakat daerah pegunungan atau di daerah lembah, dsb punya kebutuhan dan kehidupan yang berbeda-beda yang harus diakomulasikan ke dalam muatan kurikulum agar proses dan hasil pendidikan dapat bermanfaat dan diterima oleh masyarakat ( sesuai dengan kebutuhan mereka ).
Karena memegang azas inilah maka kurikulum hendaknya setiap saat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan hidup masyarakat.
3. Azas Organisatoris
Azas organisatoris perlu mendapat perhatian, sebab akan menentukan bagaimana penyusunan dan penyajian muatan kurikulum itu sendiri, baik mengenai urut-urutannya atau pun keluasan cakupannya.
4. Azas Psikologis
Agar bisa dilaksanakan dengan baik dan dapat berhasil secara maksimal, maka pengembangan kurikulum harus berdasarkan kepada psikologi, seperti memegang prinsip perkembangan anak dan taraf pengembangannya, psikologi belajar seperti teori teori gestalt, asosiasi, dll.
Azas psikologi yang dijadikan acuan dasar penyusunan sebuah kurikulum ini, akan mempengaruhi sampai kepada bagaimana seharusnya melaksanakan dan mengevaluasi pelaksanaan sebuah kurikulum.
• PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM
Ada beberapa prinsip dasar dalam pengembangan kurikulum yang pernah diterapkan ( kurikulum 1975, 1984 dan 1994 ), dan prinsip seperti ini menjadi patokan utama dalam pengembangan sebuah kurikulum, yaitu . :
5. Prinsip relevansi
Prinsif relevansi maksudnya bahwa kurikulum harus serasi, sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Relevansi ini, meliputi :
a. Relevansi dengan lingkungan peserta didik
b. Relevansi dengan kehidupan sekarang dan akan datang
c. Relevansi dengan tuntutan dunia kerja
d. Relevansi dengan perkembangan IPTEK
6. Prinsip efektivitas dan efesiensi
a. Prinsip efektivitas
Efektivitas maksudnya apa yang termuat dalam kurikulum memang berhasil guna untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Misalnya efektivitas mengajar guru, dimaksudkan bagaimana pembelajaran yang dilakukan guru berhasil guna mencapai tujuan pendidikan. Begitu juga efektivitas belajar murid dalam mencapai tujuan pembelajaran akan banyak ditentukan oleh berbagai faktor yang semuanya harus diperhatikan, agar belajar mereka efektif mencapai tujuan yang ditetapkan.
c. Prinsip Efesiensi
Penyusunan dan pengembangan kurikulum harus memegang prinsip efisiensi atau prinsip pemberdaya gunaan, maksudkan muatan program harus betul-betul direncanakan sesuai dengan perencanaan waktu, tenaga dan peralatan serta biaya yang digunakan.
7. Prinsif kuntinuitas
Prinsip kontinuitas ( kesinambungan ) maksudnya kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kontinuitas program dengan jenjang di bawah dan atau di atasnya. Untuk ini ada 2 hal yang harus diperhatikan :
a. Bahan pelajaran yang diperlukan untuk jenjang yang lebih tinggi, dan
b. Bahan Pelajaran yang diperlukan pada jenjang dasar di bawahnya.
8. Prinsip Fleksibilitas
Fleksibilitas maksudnya tidak kaku atau elastis, maksudnya kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dengan memperhatikan kemudahan dalam bertindak, seperti bagi peserta didik disediakan adanya program pilihan dan penjurusan serta program specialisasi sesuai dengan minatnya. Kurikulum juga memberi ruang gerak yang leluasa bagi peserta didik yang punya kelebihan ( IQ ) untuk menyelesaikan program pendidikan lebih cepat.
Begitu juga fleksibilitas dalam pengembangan program bagi guru
9. Prinsip berorentasi ke Tujuan
Pertama yang dilakukan dalam pengembangan kurikulum adalah penetapan tujuan, kemudian baru segala sesuatunya seperti materi, metode, alokasi waktu, media, evaluasi, dsb. dikembangkan dengan mengacu kepada tujuan tersebut.
10. Prinsip Pendidikan seumur hidup
Kurikulum dikembangkan dengan harapan dapat memenuhi tuntutan dalam mencetak “pelajar seumur hidup”, karenanya apa yang ada di dalam kurikulum harus mampu memberikan dasar-dasar bagi peserta didik untuk menjadi pelajar seumur hidup itu, termasuk menghadapi masa mereka keluar dari lembaga pendidikan formal.
11. Prinsip mengacu pada model pengembangan kurikulum
Kurikulum pada harus dianggap sebagai sesuatu yang siap dikembangkan ~ dilaksanakan ~ di evaluasi ~ dianalisa/ direvisi dan selanjutnya dikembangkan kembali.
Karena memegang berbagai prinsif ini maka kurikulum hendaknya setiap saat dikembangkan relevan dengan perkembangan lingkungan peserta didik, penyiapan kehidupan sekarang dan akan datang, perkembangan tuntutan dunia kerja dan atau perkembangan dunia Ilmu Pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat dan canggih, untuk terus menerus mencari hal yang lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang maksimal, berupaya mencari model pengembangan yang paling maksimal dalam mencapai tujuan , menuju arah yang semakin dapat menjamin fleksibelitas pendidik dan peserta didik serta dapat mengupayakan peletakan dasar-dasar yang semakin mumpuni bagi peserta didik untuk menjadi pelajar seumur hidup.
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHPENGEMBANGAN KURIKULUM
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, yaitu :
a. Filsafat dan Tujuan Pendidikan
Filsafat pada dasarnya adalah suatu pandangan hidup yang dianut oleh setiap orang, yang menjadi dasar untuk memandang dan melandasi suatu tindakan/ perbuatan.
Manakala suatu filsafat sudah menjadi sistem nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka ia dapat menjadi acuan yang tentu sangat mempengaruhi segala apa yang dibuat dan dilakukan oleh bangsa itu, termasuk penentuan tujuan pendidikannya.
Selanjutnya Tujuan Pendidikan itu akan terus mempengaruhi dan menentukan arah pendidikan di negara itu, termasuk pembuatan dan pengembangan kurikulum di negara itu.
b. Sosial Budaya Penyusunan Kurikulum
Karena sekolah sebagai suatu institusi sosial dibentuk dan dikembangkan untuk memenuhi tuntutan dan harapan masyarakat, maka dengan sendirinya kekuatan sosial budaya akan sangat berpengaruh bagi kurikulum suatu sekolah.
Ada berbagai kekuatan sosial yang sangat berpengaruh terhadap kurikulum yang menurut Ganjar Nugraha Jiwa Praja adalah unsur pokok kebudayaan, yaitu :
1) Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan
2) Organisasi ekonomi
3) Sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antar para anggota masyarakat agar menguasai alam sekitar.
4) Perlengkapan dan peralatan hidup manusia
5) Sistem kemasyarakatan
6) Bahasa
7) Kesenian
8) Sistem Pengetahuan
9) Relegi ( sistem kepercayaan )
c. Psikologi Penyusunan Kurikulum
Kurikulum merupakan acuan dan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik, maka muatan kurikulum yang merupakan pengalaman belajar harus selaras dengan perkembangan kejiwaan peserta didik yang disesuaikan dengan faktor yang mempengaruhi belajar mereka.
Ada berbagai landasan psikologis, yang manakala ditetapkan sebagai penyusunan kurikulum akan mempengaruhi terus menerus dalam pengembangan kurikulum itu, yaitu :
1) Pandangan tentang pengertian belajar
2) Teori belajar
d. Siswa sebagai dasar Penyusunan Kurikulum
Pendidikan akan lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik manakala ia disesuaikan dengan kebutuhan jasmani, sosial dan intelektual peserta didik.
Segala hal yang berhubungan dengan siswa yang harus diperhatikan dan tentu akan berpengaruh bagi pengembangan kurikulum yaitu :
1) Siswa sebagai anggota masyarakat
2) Siswa sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik aspek pertumbuhan dan perkembangan fisiologisnya, aspek psikologisnya atau pun perubahan yang datang dari pengaruh lingkungan dan kultur dimana ia hidup.
3) Siswa sebagai indvidu yang memiliki kebutuhan pokok yang menurut Tyler , meliputi : kesehatan, hubungan sosial, hubungan sosial, hubungan dengan kewajiban sebagai warga negara, konsumen, jabatan dan kedudukan serta rekreasi.
4) Deplopmental Task
Deplopmental Task yaitu tugas-tugas yang muncul dalam periode tertentu dalam kehidupan seseorang, yang biasanya merupakan dasar bagi kebahagiaan dan keberhasilan menjalankan tugas-tugas tertentu dalam perkembangan dan pertumbuhan dia selanjutnya.
e. Prinsip, Organisasi, Bentuk dan Struktur Kurikulum
Suatu prinsif, organisasi, bentuk atau pun struktur kurikulum yang ditetapkan untuk penyusunan kurikulum, tentu akan sangat mempengaruhi pengembangan kurikulum selanjutnya.
Misalnya pada penyusunan kurikulum ditetapkan berorientasi kepada tujuan sebagai salah satu prinsipnya, maka secara otomatis pengembangan kurikulum tersebut sampai tingkat aktualisasinya harus berorientasi kepada tujuan itu, dan begitulah seterusnya, termasuk organisasi, bentuk dan struktur kurikulum itu jika kita tetapkan sebagai sesuatu hal yang harus jadi landasan utamanya.
D. INSTITUSI PENGEMBANG KURIKULUM
Sebagaimana dikemukakan di atas, tingkatan kurikulum dapat dibedakan dalam 3 tingkatan, maka kita meninjau lembaga pengembang kurikulum ini pun berdasarkan tingkatan-tingkatan tersebut, sebagai berikut :
e. Kurikulum Tingkat Institusi
Kurikulum Tingkat Institusi adalah kurikulum yang harus dipedomani dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran secara umum di suatu sekolah.
Kurikulum Tingkat Institusi ( lembaga ) ini dikenal dengan Buku I Tingkat Lembaga, yang biasanya memuat Tujuan Umum dan Khusus suatu lembaga, Ruang Lingkup dan Jabaran Mata Pelajaran yang harus diajarkan pada suatu lembaga berikut dengan alokasi waktu per mata pelajaran tersebut.
Kurikulum Tingkat Lembaga ini biasanya juga dilengkapi dengan pedoman umum penyelenggaraan kegiatan, seperti pedoman administrasi ( sekolah dan guru ), pedoman evaluasi, dll.
Lembaga pengembang pada tingkatan ini adalah mereka yang punya kewenangan menentukan arah/ dan kebijakan umum lembaga-lembaga pendidikan yang diselenggarakannya, dan merekalah yang bertugas mengembangkan kurikulum pada tingkatan ini, seperti Depdiknas ( secara nasional ) , Dep. Agama ( lembaga pendidikan diselenggarakannya ) , Dep.Hankam ( lembaga pendidikan yang diselenggarakannya ), dll atau Yayasan tertentu yang juga menyelenggarakan pendidikan sendiri.
f. Kurikulum Tingkat Mata Pelajaran
Kurikulum Tingkat Mata Pelajaran dikenal dengan GBPP ( garis-garis Besar Program Pengajaran ) atau Syllabus atau Kurikulum Mata Pelajaran.
Kurikulum pada tringkat ini, memuat Pengertian, Tujuan, rambu-rambu dan Program pengajaran untuk MP tertentu.
Kurikulum pada tingkat ini biasanya juga ditunjang dengan pedoman strategi pembelajaran dan pedoman evaluasi program.
Lembaga pengembang pada tingkatan ini adalah instansi atau lembaga atau yayasan penyelenggara penidikan, seperti Depdiknas ( secara nasional ) , Dep. Agama (lembaga pendidikan diselenggarakannya ) , Dep.Hankam ( lembaga pendidikan yang diselenggarakannya ), dll atau Yayasan tertentu yang juga menyelenggarakan pendidikan sendiri atau nanti untuk di era otonomi daerah maka bisa juga suatu badan yang secara khusus menangani penyelenggaraan pendidikan, baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten dan bahkan bisa jadi untuk kurikulum MP tertentu dibuat oleh lembaga yang bersangkutan (tentu dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait dan punya kompetensi dalam hal itu), tentu dengan tetap memperhatikan aspek-aspek kepentingan nasional.
g. Kurikulum Tingkat Operasional
Kurikulum Tingkat Operasional adalah Lesson Plan ( Rencana Pelajaran) yang dibuat dan akan dilaksanakan oleh guru di dalam pertemuan tatap muka.
Pada tingkatan ini lembaga pengembangnya adalah Guru atau Tenaga Kependidikan yang bertugas melakukan aktualisasi kurikulum itu dalam kegiatan tatap muka sehari-hari.
IV. MERENCANAKAN DAN MERUBAH KURIKULUM MENJADI PENGAJARAN
1. PERENCANAAN JANGKA PANJANG
1.1 Pengembangan Konsep
Kadang siswa membutuhkan bantuan untuk fokus pada konsep utama sebuah pelajaran. Maka pada saat memulai pelajaran, guru dapat mengajukan beberapa pertanyaan, menyajikan garis besar pengajaran secara sederhana, dan memberikan siswa beberapa kata kunci guna membantu mereka memahami konsep utama pelajaran tersebut. Strategi yang disebut dengan advanced organizer ini dapat menjadi sarana yang efektif dalam memfokuskan perhatian siswa dan mengarahkannya pada pelajaran. Harrison (1990, p. 503-504) menawarkan 10 tahap yang dapat dilakukan guru guna membantu siswa mengidentifikasi dan akrab dengan materi pelajaran, diantaranya:
• Menyajikan berbagai definisi konsep dan contohnya
• Menekankan pada ciri utama pelajaran dan minta siswa untuk mengenali lebih jauh ciri utama tersebut
• Minta siswa untuk memberikan contoh
• Minta siswa membandingkan dan membedakan gagasan utama dalam pelajaran
• Minta siswa mereview konteks yang terjadi
• Jelaskan aplikasi konsep yang ada
• Identifikasi faktor-faktor lingkungan yang mendukung dan menghambat aplikasi konsep
• Rumuskan definisi operasional yang melibatkan tahapan terakhir proses ini
• Diskusikan konsekuensi dalam tataran solusi untuk permasalahan yang dihadapi

Salah satu metode yang dapat digunakan guru untuk membantu siswa menerapkan konsep adalah studi kasus (Kowalski, Weaver, & Henson, 1994), yang memungkinkan siswa memisahkan informasi yang relevan dan yang tak relevan. Sehingga mereka dapat memahami konsep dengan lebih jelas.
1.2 Rencana Unit
Bab 6 fokus pada penetapan tujuan, sasaran dan maksud; dan bab 7 fokus pada pemilihan isi dan aktifitas yang dibutuhkan guna meraih tujuan, sasaran dan maksud tersebut. Meraih tujuan, sasaran dan maksud juga memerlukan perencanaan jangka panjang, atau unit rencana. Guru mata pelajaran sains ilmu bumi di SMP ingin mengajarkan pemahaman pada siswanya tentang astronomi, ekologi, meteorologi, oceanografi, palaentologi, mineralogi, dan geografi fisik. Untuk tiap bidang tersebut, guru harus merencanakan unit studi yang akan dipelajari untuk beberapa hari atau beberapa pekan dan memuat topik yang guru yakini penting untuk memahami ilmu bumi secara umum.
1.2.1 Perencanaan Unit
Guru dan siswa harus bersama-sama bekerja dalam merencanakan unit pembelajaran. Studi yang ekstensif yang dilakukan guru tentang mata pelajaran yang dia bina akan memberikan dia wawasan tentant apa yang siswa harus ketahui dari unit pelajaran tersebut – wawasan yang jarang siswa miliki. Sehingga, guru akuntabel dalam mengidentifikasi beberapa gagasan atau konsep pokok yang akan digunakan dalam unit pelajaran serta menjelaskan pentingnya bahan tersebut bagi siswa. Fungsi penting peranan guru dalam perencanaan adalah membeirkan kesmepatan bagi siswa untuk menyarankan topik yang mereka ingin pelajari. Melibatkan siswa dalam perencanaan juga memiliki keunggulan lain. Menurut Hart (1983, p. 77), dikarenakan kelas tidak memberikan kekayaan dalam pelajaran, dan pada kebanyakan lembaga, membatasi apa yang dapat otak lakukan, maka siswa menjadi terbiasai dengan keterbatasan tersebut. Melibatkan siswa dalam perencanaan pembelajaran dapat meningkatkan komitmen emosional terhadap bahan ajar.
Peranan ketiga yang dimainkan guru dalam perencanaan pembelajaran adalah membantu siswa memilih aktifitas yang diperlukan guna mempeklajari isi pelajaran. Ketika menyajikan pilihan aktifitas kelas, guru harus membuat daftar aktifitas yang mungkin dapat dikerjakan, aman dan konsisten dengan kebijakan sekolah. Ketertarikan siswa pada aktifitas tertentu akan menjadikan aktifitas tersebut lebih bermakna. Kelompok lain juga penting untuk dilibatkan dalam pertencanaan pembelajaran. Diantaranya adalah orang tua; diakrenakan mereka memiliki kepentingan dengan sekolah dan kemampuan mereka dalam mempengaruhi siswa secara positif, ornag tua harus selalu dilibatkan dalam perencanaan kurikulum.
1.2.2 Bagian-bagian Perencanaan Unit
Unit pelajaran, atau unit rencana, lebih dari sekedar sebuah garis besar materi yang akan dibahas. Meksi terdapat banyak variasi, kebanyakan unit rencana memuat bagian-bagian seperti judul, pernyataan pilosofi, pernyataan tujuan, isi yang akan dibahas, aktifitas guru dan siswa yang dirancang untuk meningkatkan tujuan, dan metode evaluasi guna memahami perkembangan selama pelajarn (lihat gambar 10). Pernyataan pilosofi adalah deklarasi keyakinan guru tentang isu-isu seperti tujuan sekolah, sifat generasi muda, bagaimana anak muda belajar dan tujuan hidup secara umum. Namun pernyataan pilosofi ini paling sering diabaikan oleh guru karena mereka lebih banyak menggunakan waktunya untuk menyusun bagian lain unit pelajaran.
Pernyataan tujuan adalah daftar harapan umum guru dari unit tersebut. Berbeda dengan tujuan pembelajaran yang digunakan pada pelajaran sehari-hari yang dinyatakan secara spesifik, dapat diamati dan dapat diukur, maka tujuan pada unit bersifat umum. Pemilihan isi unti pelajaran harus memeprtimbangkan tiga hal berikut:
a. Signifikasi unit tersebut dalam pencapaian tujuan pembelajaran
b. Pentingnya isi pelajaran bagi masyarakat; dan
c. Minat dan kebutuhan siswa
Tiap unit pelajaran harus memuat dua atau tiga jenis kinerja siswa; kognitif, afektif dan psikomotor; dan memuat berbagai jenis ukuran seperti tes tertulis, tes lisan, debat, PR, dan sebagainya. Jenis evaluasi seperti ini, yang mengevaluasi produk pembelajaran dinamakan evaluasi produk. Jenis evaluasi lain yang harus digunakan dalam unit pelajaran adalah evaluasi proses. Evaluasi ini merupakan deskripsi dari efektifitas pelajaran. Evaluasi proses menganalisa berbagai bagian unit untuk menentukan apakah unit tersebut harus dikembangkan serta untuk melihat bagaimana bagian-bagian unit saling berhubungan satu sama lain. Unit pelajaran harus memuat beberapa informasi praktis, termasuk judul, mata pelajaran, tingkat/kelas, daftar sumber, dan sebagainya. Tiap unit harus memuat tujuan kinerja yang dinyatakan dalam tataran perilaku dan menjabarkan kondisi serta menspesifksikan tingkat kinerja minimum yang dapat diterima.
1.2.3 Contoh Rencana Unit
Dua contoh renana unit disajikan disini. Judul tiap unit menjabarkan unit tersebut; pernyataan tujuan menjabarkan perubahan yang diinginkan dari siswa; dan evaluasi dihubungkan dengan tujuan yang dinyatakan pada pembukaan unit. Rencana unit pada kotak 10.1 dipilih karena ringka dan sederhana. Gambar 2 menunjukan bagian-bagian umum dalam sebuah unit pelajaran. Catat bahwa beberapa bagian yang termuat pada gambar 2 tidak termuat pada kotak 10.1. pernyataan pilosofi membantu guru dalam menjelaskan keyakinan dasar tentang kehidupan, sekolah dan kedewasaan dan menunjukan kedewasaan dalam belajar. Tujuan harus sesuai dan merefleksikan keyakinan tersebut. Ada juga guru yang lebih memilih memuat pernyataan dasar pemikiran pembelajaran daripada pilosofi. Dengan menulis dasar pemikiran, guru menyesuaikan unti dengan dirinya; kemudian menggunakan dasar pemikiran tersebut untuk meyakinkan siswa bahwa unit pelajaran tersebut bermanfaat bagi mereka.
Kotak 10.2 menunjukan sebuah unit pelajaran yang dirancang untuk digunakan di kelas sebelas. Unit ini lebih komprehensif dan sedikit memiliki kelemahan sebab memuat bagian-bagian yang dirasa penting oleh pendidik guna dimuat dalam unit tersebut. Menelaah kekuatan dan kelemahannya, perhatian struktur dan organisasi keseluruhan unti tersebuyt, maka anda akan dapat mengembangkan unit tersebut.
1.3 PERENCANAAN PELAJARAN HARIAN
1.3.1 Rencaan Pelajaran Harian (RPP)
Dikarenakan unit pelajaran berorientasi pada isi dan tidak menspesifikasikan pengalaman yang dibutuhkan untuk mempelajari tiap pelajaran harian, maka strategi haris diperlukan guna membantu siswa bergerak mendekati tujuan pelajaran. Bagi kebanyakan guru, pendekatan ini dinamakan rencana pelajaran harian. Guru yang mengajar tanpa rencana pelajaran nampak seperti pilot yang terbang menuju ke tempat tujuan tanpa memiliki peta. Seperti sebuah peta, rencana pelajaran memberikan arah bagi tujuan pelajaran. Jika pelajaran tersesat, maka rencana pelajaran akan membimbing kembali pelajaran pada jalur yang seharusnya. Studi yang dilakukan menunjukan bahwa kebanyakan guru tidak memulai proses perencanaan dengan tujuan pelajaranl; tapi dengan isi pelajaran.
1.3.2 Faktor-faktor RPP yang Mempengaruhi Prestasi
Romberg dan Carpenter (1986) melakukan studi pada sebuah kelas matematika dan menemukan tiga variabel signifikan bagi prestasi siswa. Pertama, bukannya mengajarkan konsep yang dibutuhkan guna memahami pelajaran, guru malah memuat berbagai topik pada pelajaran yang sama untuk tingkat/kelas yang sama pula. Hal ini akan mengurangi waktu dalam mempelajari konsep pokok pelajaran. Kedua, jumlah waktu yang digunakan guru untuk membahas topik atau konsep dibandingkan dengan jumlah waktu yang dialokasikan untuk pelajaran tersebut. Waktu yang siswa gunakan dalam mengidentifikasi dan mengembangkan konsep juga mempengaruhi prestasi. Dalam pengembangan pelajaran, siswa harus menggunakan waktu dalam mendiskusikan kenapa sebuah konsep itu penting? Bagaimana konsep atau keterampilan saling berhubungan? Dan bagaimana menggunakan hubungan yang lebih luas guna memperkirakan jawaban atas suatu masalah. Ukuran kelas (jumlah siswa per kelas) juga berpengaruh terhadap prestasi siswa. Meski riset menunjukan bahwa dampak positif kelas yang lebih kecil minimal, Carson & Badarack (1989) berpendapat bahwa dampak kumulatifnya akan sangat signifikan. Johnston (1990) melaporkan bahwa salah satu keunggulan kelas yang lebih kecil adalah mengembangakn moral guru.
1.3.3 Apa yang Menjadikan RPP Bagus?
RPP disusun dalam berbagai bentuk dan variasi. Rentang dan gaya sebuah RPP tidak menjadikan RPP tersebut lebih baik dibanding yang lain. RPP yang baik bersifat komprehensif, yakni disusun dengan menggunakan kata-kata yang formal, diketik dengan rapih, dan dijilid. RPP yang baik memuat bahan ajar yang menantang siswa selama jam pelajaran. RPP harus dianggap sebagai sebuah alat, dan alat tersebut efektif ketika digunakan.
a. Menetapkan tujuan
Ketika merencanakan pelajaran untuk satu unti/bab pelajaran, maka RPP hariannya harus dimulai dengan memikirkan hal-hal sebagai berikut: dengan cara apa RPP ini merubah siswa saya? Apa yang akan mampu siswa saya lakukan setelah pelajaran ini?
b. Mengorganisir Bahan Ajar
Setelah memutuskan bahan ajar apa yang akan digunakan, maka selanjutnya guru harus menyusun bagaimana bahan ajar tersebut disajikan. Kadang sifat sebuah pelajaran menegasakn cara bagaimana penyajiannya, sehingga guru dapat menggunakan gagasan utama dalam pelajaran tersebut untuk menentukan apakah ada rangkaian yang alami terkandung dalam pelajaran tersebut atau tidak. Jika empat atau lima tujuan RPP harian tidak memiliki susunan alami, maka guru dapat mencoba menentukan apakah rangkaian tertentu dapat memudahkan pelajaran untuk dipahami. Mislanya, guru kimia tidak akan mengajarkan berbagai rumus sebelum siswa memahami berbagai simbol kimia.
c. Memilih Pengalaman Belajar
Secara umum, penekanan lebih harus diletakan pada pengalaman belajar bukan pada isi, sebab pendidik saat ini mengakui bahwa pengalaman yang dimiliki siswa merupakan jalan utama pembelajaran. Untuk alasan tersebut, RPP harus menjabarkan apa pengalaman belajar yang akan guru gunakan untuk mengajarkan isi pelajaran. Dikarenakan siswa akan lebih belajar ketika mereka berpartisipasi dalam pelajaran (Finn, 1993), maka RPP harus memuat pengalaman yang bermakna bagi siswa. Tiap pengalaman belajar harus memuat tugas yang tidak akan dapat dikerjakan siswa kecuali mereka memahami isi pelajaran yang diajarkan pada bagian pembelajaran sebelumnya.
d. Menerapkan RPP
RPP tidak menjamin keberhasilan pembelajaran. Bahkan, RPP terbaik sekalipun harus dimodifikasi ketika siswa berinteraksi dengan bahan ajar dan aktifitas pembelajaran (Green dan Smith, 1982). Dalam merangkum beberapa studi dalam RPP, Shavelson (1984) menegaskan bahwa perencanaan yang menghasilkan dapat kontraproduktif jika guru berpikiran sempit dan tidak mengadaptasi pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Ketika mengembangkan keterampilan siswa, guru harus mempertimbangkan cara dalam merubah rencana yang tidak efektif.
e. Manajemen Waktu
Ciscell (1990, p. 218) menegaskan bahwa guru dapat mengembangkan penggunaan waktu dengan cara mendelegasikan tugas pada orang lain. Dia menyarankan langkah-langkah berikut untuk mencapai tujuan tersebut:
• Tetapkan kalender pertemuan
• Selalu tepat waktu dalam menghadiri rapat dan janji
• Mulai dan akhiri rapat dengan tepat waktu dan mengikuti agenda yang sudah ditetapkan
• Batasi waktu dalam memperbincangkan hal-hal yang tak perlu
• Tutp selalu pintu kelas guna menghindari kolega masuk dengan tiba-tiba
• Organisasikan dan kelola kelas dengan efisien
• Bekerja di ruangan lain – cari tempat untuk sembunyi
Guru yang efektif mampu membedakan berbagai informasi penting (Corno, 1981) dan menyederhanakan konsep umum bagi siswanya; dikarenakan guru pemula sering tak memiliki kemampuan menyederhanakan kegiatan di kelas, waktu yang digunakan dalam mengidentifikasi konsep dan prinsip umum pada sebuah disiplin akan menjadi investasi yang bijak.
f. Merangkum RPP Harian
RPP harus diakhiri dengan review gagasan utama yang termuat dalam pembelajaran, namun rangkuman tidak perlua melakukan review secara rinci pelajaran yang termuat. Harrison (1990, p. 503) menyarankan untuk melakukan rangkuman dan review sebuah pelajaran: Apakah siswa sudah mampu menyebutkan anlalogi dan metapora; lalu bandingkan hal tersebut dengan gagasan utaama. Review harus menunjukan hubungan antara gagasan utama dan mengikat semua bagian dalam pembelajaran.
B. Dasar-dasar Pelaksanaan Pengajaran
1. Teori Siklus Pembelajaran
Sebuah teori pengajaran yang disebut dengan teori siklus pembelajaran (Lawson, Abraham dan Renner, 1989) menggunakan pendekatan siklus pembelajaran dalam pengajaran guna membantu siswa meningkatkan level pemahaman mereka. Program tersebut memiliki tiga bagian: ekspolrasi, pengenalan konsep, dan aplikasi. Tahapan pengenalan memungkinkan siswa mengembangkan pemahaman deskriptif dan kualitatif. Selama tahapan aplikasi, siswa diberi tugas yang membiarkan mereka menerapkan konsep-konsep dengan cara yang berbeda.
2. Kebutuhan akan Individualisasi
Tanpa perencanaan yang benar, guru dapat disibukan oleh berbagai tantangan dalam merancang pengajaran bagi siswa yang memiliki begitu beragam kemampuan dan tingkat motivasi. Oleh karena itu guru harus mengindividualisasikan pengajaran, yakni pengajaran yang memnuhi semua kebutuhan siswa. Marshall (1919, p.225) menyatakan bahwa jika siswa tidak belajar dengan cara yang kita ajarkan, maka kita harus mengajarkan mereka cara bagaimana mereka belajar. Pengajaran yang diindividualisasikan didasarkan pada dasar pemikiran bahwa siswa berbeda dan tiap ssiwa memiliki kebutuhan belaajr yang unik dimana guru harus melakukan usaha khusus untuk memenuhinya. Kegagalan dalam menyusun rencana untuk berbagai kebutuhan siswa akan menghasikan kebosanan dalam diri siswa sebab mereka tidak merasa tertantang. Berikut ini beberapa pendekatan umum yang dapat sekolah atau guru gunakan untuk mengindividualisasikan pengajaran.
3. Kemampuan Pengelompokan dalam Kelas
Pendekatan umum yang biasa dilakukan dalam mengajar siswa dalam jumlah besar atau dengan beragam kebutuhan adalah dengan membentuk sub kelompok siswa yang memiliki kemampuan dan minat yang sama. Namun sayangnya, pengelompokan seperti ini tidak selalu berhasil; meski mampu meningkatkan pembelajaran. Analisa pada lebih dari 40 kelompok siswa berdasarkan kemampuan menemukan bahwa pengelompokan hanya memberikan kontribusi kecil bagi peningkatan pengajaran dan kontribusi besar bagi peningkatan motivasi siswa (Julik, 1981).
4. Individualisasi Pengajaran
Seberapa efektifnya pengelompokan kemampuan dalam meningkatkan pembelajaran tergantung pada bagaimana guru menyesuaikan pengajaran pada tiap kelompok. Secara umum, siswa yang kurang memiliki kemampuan membutuhkan bahan ajar yang konkrit serta contoh tentang cara untuk menerapkan konsep yang baru dipelajari pada dunia nyata; dan siswa yang memiliki kemampuan lebih membutuhkan tantangan yang lebih tinggi dan berbeda. Guru yang menggunakan kemampuan untuk pengelompokan harus menggunakan lebih banyak waktu dengan siswa yang memiliki kemampuan kurang. Good, Reys, Gorouws dan Mulryan (1990-1991) mengatakan bahwa ktika kelompk sudah terbentuk, siswa dengan kemampuan lebih tinggi cenderung mendominasi kelompok atau tidak mau berpartisipasi. Sementara siswa dengan kemampuan rendah akan semakin rendah kinerjanya jika dikelompokan dengan siswa yang sama-sama rendah kemampuannya (Calfee dan Brown, 1979).
5. Treatment Diferensial yang Tak Disengaja
Dalam melakukan pengelompokan, guru harus memiliki kemampuan untuk mengajar dengan cara yang berbeda pada tiap kelompok yang bereda. Guru cenderung memperlakukan siswa berdasarkan tingkat kemampuan mereka. Brophy (1983) melaporkan bahwa perlakuan guru terhadap siswa seeprti itu akan seperti berikut:
• Menunggu waktu yang tepat untuk menjawab pertanyaan
• Memberikan jawaban atau meminta siswa lain untuk menjawab
• Membeirkan penguatan yang tak semestinya
• Mengkritik siswa dengan kinerja rendah
• Memuji siswa dengan kinerja rendah
• Gagal untuk memberikan umpan balik pada respon publik
• Kurang berinteraksi dengan siswa yang kinerjanya rendah dan kurang menaruh perhatian pada mereka
• Jarang meminta siswa yang rendah kinerjanya untuk tampil
• Meminta siswa yang kinerjanya rendah untuk meningkatkan kinerjanya
• Jarang senyum, jarang berkontak mata, dan kurang memberikan sikap pada siswa yang kinerjanya rendah.
6. Perbedaan dalam Evaluasi
Guru mungkin akan memilih cara evaluasi non-tradisional bagi siswa dengan kemampuan lebih dan siswa dengan kemampuan terbatas. Sebagai contoh, tes tidak bertujuan untuk mengukur pertumbuhan kelompok siswa tersebut. Proyek tim mungkin dapat digunakan dalam evaluasi.
7. Pencegahan/Hati-hati
Ketika mengelompokan sisw berdasarkan kemampuan, guru harus hati-hati sebab bagi siswa yang dieklompokan dengan yang berkemampuan tinggi, mereka akan merasa bangga dan superior sedangkan bagi rasa rendah diri akan muncul pada siswa yang dimasukan dalam kelompok yang kemampuannya kurang. Guru tidak bolah mengeluarkan komentar yang bernada membandingkan antar kelompok dan melarang siswa berkomentar dengan membanding-bandingkan antar kelompok.
8. Kemampuan mengelompokan antar kelas
Pada beberapa sekolah, pengelompokan kemampuan tergantung pada guru – tes yang berstandar menentukan penempatan siswa pada tiap kelompok. Pengelompokan antar kelas dan intra kelas dapat menghasilkan jenis persaingan yang berbeda. Ketika siswa dikelompokan pada satu kelas, maka mereka akan bersaing dengan teman sekelasnya; sedangkan jika dikelompokan antar kelas, mereka akan bersaing dengan siswa dari dua atau lebih kelas. Selama berabad-abad, sekolah-sekolah di Inggris memiliki sebuah rumah. Rumah adalah sekelompok siswa yang kemampuannya heterogen. Rumah-rumah tersebut biasanya bersaing baik dalam debat maupun dalam pertandingan olahraga. Hal ini akan mendorong kerjasama; bukan persaingan antar rumah.
9. Kontrak Peringkat
Kontrak peringkat adalah sebuah metode yang menganggap bahwa siswa lebih termotivasi oleh beberapa topik tertentu dari pada topik yang lain. Metode ini memungkinkan individu untuk lebih menekankan pada topik tertentu. Pada awal studi tiap unit, siswa disodori kontrak. Menurut kemampuan siswa dan minatnya pada suatu topik, siswa mneyetujui untuk melakukan pekerjaan guhna mencapai peringkat tertentu. Kotak 10.5 adalah contoh dari kontrak tersebut. Kontrak juga dapat digunakan untuk membeirkan siswa peluang untuk memperoleh waktu bebas dan reward lainnya.
10. Menggunakan Model Instruksional
Cara lain untuk mengorganisasikan pelajaran adalah dengan menggunakan format model instruksional. Keunggulan model ini adalah telah ditelaah, diuji, dan dibuktikan secara teori dan parktik. Lewellen (1990, p. 63) mengatakan bahwa sebuah model harus sistematis, deskriptif, eksplanatroi dan aplikatif. Contoh model intruksional adalah pengajaran langsung, pengajaran inkuiri, pencapaian konsep dan model pertanyaan Socratic.
11. Model Proses Informasi
Model kontemporer untuk menelaah dan menjabarkan pelajaran adalah dengan mnelaahnya secara mekanik, seperti anda menjabarkan proses penggunaan komputer untuk menyimpan dan memperoleh informasi. Dengan menggunakan lima hal untuk mengumpulkan informasi (gambar 10.3), manusia mulai memutuskan inormasi mana yang akan disimpan. Penyaringan perseptual digunakan untuk menyaring informasi yang tak diinginkan (gambar 10.4).
Informasi terpilih disimpan pada dua tempat. Informasi yang akan segera digunakan disimpan pada memori jangka pendek; dan informasi lain disimpan pada memori jangka panjang. Setelah anda memperkenalkan informasi baru pda siswa, maka anda dapat membantu siswa memilah informasi penting, sehingga mempengaruhi informasi yang tersimpan. Lalu bantu siswa menghubungkan informasi baru dengan informasi yang sudah ada.
C. Pelaksanaan Kurikulum dalam Pembelajaran
1. Pembelajaran Penguasaan
Tahun 1963, JB. Carroll, seorang profesor dari Harvard University menulis sebuah artikel berjudul “Sebuah Model Pmebelajaran sekolah”, dimana dia menentang keyakinan banyak oang bahwa IQ menentukan keberhasilan akademik seseorang. Carroll berhipotesis bahwa jika empat persyaratan terpenuhi, maka setidaknya 90%-95% siswa SMA mampu mencapai tujuan pembelajaran. Keempat syarat tersebut diantaranya adalah:
a. Berikan ssiwa waktu yang cukup
b. Motivasi siswa
c. Berikan siswa kesempatan untuk mengulang/remediasi
d. Sajikan pelajaran dengan cara yang sesuai dengan gaya belajar individu

Dengan menggunakan model Carroll ini, Benjamin S. Bloom dan mahasiswanya di University of Chicago mengembangkan sebuah system yang dinamakan belajar untuk menguasai (LMF). Sistem ini berbasis kelompok dan berpusat pada guru. Dengan kata lain, guru memimpin pelajaran dan kelas berperan sebagai pengikut. Semua program pembelajaran penguasaan memiliki karakteristik yang sama. Pertama, menyediakan siswa berbagai macam rentan waktu pelajaran untuk menguasai suatu topik bagi siswa . kedua, memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengulang beberapa topik yang sulit tanpa mendapatkan hukuman. Ketiga, semua progam pengajaran penguasaan menggunakan evaluasi formatif; dan terakhir, semua program pengajaran penguasaan menggunakan evaluasi berbasis kriteria.
Namun, program ini bukannya tanpa kritik. Meski beberapa studi menunjukan bahwa program ini lumayan berhasil, namun beberapa kritik muncul terhadap program ini. Arlin (1984) melaporkan beberapa kritik tersebut. Beberapa kritik mengatakan bahwa program penguasaan menyetarakan kemampuan belajar siswa adalah berlebihan. Ada juga yang mengatakan bahwa program pelajaran penguasan aalah sebuah “jebakan psikologi”: tidak memiliki konsep dasar yang jelas. Arlin sendiri berpendapat bahwa melalui studi yang dia jalankan, dia menemukan bahwa semua siswa yang memiliki kemampuan setara harus diinterpretasikan dengan hati-hati.
2. Menyesuaikan Gaya Mengajar dengan Gaya Belajar
Dunn, et al (1984) memulai menulis artikelnya dengan mengutip beberapa pernyataan dalam publikasi National Asscociatuon of Secondary School Prioncipals bahwa gaya belajar memberikan dorongan yang kuat bagi pendidik untuk menganalisa, memotivasi, dan membantu siswa di sekolah. Gaya belajar merupakan fondasi ssungguhnya dari pendekatan modern dalam pendidikan. Gambar 10.5 menunjukan lima kategori karakteristik yang mempengaruhi pembelajaran: lingkungan, emosi, sosiologi, fisik dan psikologi. Beberapa studi melaporkan keberhasilan aplikasi pergerakan penyesuaian gaya. Studi tersebut menyebutkan bahwa penyesuian yanhg konsisten akan meningkatkan prestasi akademik, menignkatkan sikap terhadap sekolah dan mengurnagi masalah disiplin.
3. Bagaimana Cara Menyesuaikan Gaya
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menyesuaikan antara gaya mengajar dengan gaya belajar. Pertama, guru dapat disesuaikan dengan siswa yang memiliki kepribadian yang sama. Namun banyak yang menentang cara ini. McDonald (1972) menemukan bahwa kesesuaian antara guru dan siswa tidak mempengaruhi interaksi di kelas. Cara kedua adalah dengan memilih metode mengajar yang sesuai dengan gaya belajar siswa. Selain itu, guru dapat juga menjalankan gaya belajar inventori untuk seluruh kelas. Guru dapat mengelompokan siswa menurut gaya yang mereka suka.
4. Menggunakan Mikro-Komputer untuk Mengindividualisasikan Pelajaran
Mikro-komputer menawarkan cara untuk mengindividualisasikan pelajaran yang sebelumnya tak pernah dapat dilakukan. Magney (199) mengatakan bahwa komputer dapat menjadi jendela masuk bagi pada berbagai realitas akademik. Awalanya komputer digunakan untuk memberi aturan dan informasi kepada pengguna, tapi sekarang, komputer digunakan untuk mengambil keputusan tentang pengguna.
5. Program bagi Siswa Beresiko
Perhatian yang lebih harus diberikan untuk membantu kesuksesan siswa yang beresiko. Jutaa siswa terancam drop out dari sekolah. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga miskin atau tak memiliki keluarga sama sekali. Siswa yang beresiko kebanyakan berprestasi rendah, pringkatnya rendah, memiliki masalah perilaku, angka kehadiran yang buruk, status sosial-ekonomi yang rendah, dn kehadiran di sekolah dengan teman yang kebanyakan dari kalangan miskin (Morris, 1991). Beberapa kondisi berkontribusi pada besarnya jumlah siswa yang beresiko. Misalnya, setangah dari jumlah keluarga di Amerika pada semua kelompok sosial kadang terlibat dalam perilaku yang membahayakan, 1 juta anak di Amerika lari dari rumah, meningkatnya angka bunuh diri, penggunaan obat terlarang, obesitas dan sebagainya.
Penggunaan gaya belajar alternatif dapat membantu anak yang beresiko. Seorang direktur program (Friedman, 1991) mengatakan bahwa kami menghormati bahwa setiap orang memiliki gaya belajar berbeda; dan kami memperkuat siswa agar menerima tanggungjawab dalam memaksimalkan potensi belajar mereka. Cara lain dalam membantu siswa beresiko adalah dengan meningkatkan keterlibatan, penguatan dan personalisasi. Program untuk anak yang beresiko memiliki beberapa karakteristik umum, diantaranya adalah:
a. Menggunakan aturan kelas
b. Menetapkan harapan dan tujuan yang jelas
c. Menggunakan pengajaran yang terarah
d. Melakukan pengawasan terhadap perilaku siswa
Pada sebuah riset menegnai siswa yang beresiko, Finn (1993) mengemukakan bahwa perhatian lebih harus diberikan oleh guru dan peneliti untuk mendoorng potensi siswa yang marjinal. Siswa tersebut tidak menunjukan perilaku bersiko, misalnya, kehadiran yang buruk, kegagaan dalam mengerjakan PR, dan gagal dalam ujian.
6. Beberapa Cara Lain untuk Melibatkan Siswa
a. Buku teks
Buku teks pernah mendominasi kurikulum pendidikan. Pertama, buku teks menentukan isi yang akan dipelajari. Buku teks dapat digunakan dengan dipadukan pada materi ajar yang lain. Dalam penggunaan buku teks, sekolah harus memberikan kebebasan kepada guru untuk mengembangkan kurikulum sehingga tidak teralu bersandar pada buku teks semata. Namun, meski sekolah memberikan kebebasan dalam penggunaan buku teks, pastikan jangan terlalu bersandar pada buku teks dalam melakukan pengajaran. Akan lebih baik jika buku teks dijadikan sebagai bahan untuk tugas atau pekerjaan rumah.
b. Diskusi
Saat ini siswa ingin dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Mereka mearasa bahwa opini dan penilaian mereka berharga sehingga mereka ingin berbagi hal tersebut. Untuk itu, metode diskusi dalam belajar terus berkembang. Diskusi melibatkan semua partisipan; dimana mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menghubungkan topik dengan pengalaman mereka sendiri. Berbagi perspektif ini dapat memperkaya pemahaman dan pengetahuan individu yang berpartisipasi. Namun diskusi yang tanpa arah dan hanya berbagi kebodohan harus dihindari.
c. Kunjungan lapangan
Metode ini kini hampir mati dan mulai ditinggalkan orang. Alasan untuk itu banyak; diantaranya adalah sekolah tidak mau mengambiol resiko yang terjadi sebagai akibat dari dilaksanakannya kunjungan lapangan. Hal ini dikarenakan kunjungan lapangan memiliki potensi yang unik. Sebenarnya, tak ada cara yang lebih baik dalam mengajar siswa tentang kebudayaan suatu daerah selain dengan menggunakan kunjungan lapangan ke daerah tersebut. Namun sebelum nerancang sebuah kunjungan lapangan, guru harus memperhatiakn kebijakan sekolah. Harus dipastikan bahwa kunjungan lapangan memang dibutuhkan dan memiliki tujuan yang jelas.
d. Laporan lisan
Selama beberapa dekade, laporan lisan populer pada sekolah dasar, menengah dan lanjutan. Namun, keberhasilan tekhnik ini sangat tergantung pada bagaimana peenrapannya. Ketika memutuskan akan menggunakan tekhnik ini, pertama-tama putuskan apa tujuan laporan tersebut. Misalnya, jika laporan dirancang untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menyelidiki atu aspek sebuah topik, maka laporan dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbagi informasi dan secara simultan memungkinkan teman sekelasnya memeproleh manfaat dari informsi tersebut. Dalam memberikan tugas laporan, guru harus memastikan kepada siswa apa tujuan laporan tersebut dengan jelas. Untuk mengindari siswa menyampaikan laporan yang asal-asalan, kredit dapat diberikan pada siswa yang menyampaikan laporan secara berbobot. Penetapan waktu juga merupakan hal penting dalam laporan lisan. Tetapkan berapa menit waktu yang dimiliki siswa untuk menyampaikan laporan sehingga alokasi wkatu belajar dapat dimaksimalkan.
e. Proyek
Apapun pelajarannya, memberi tugas proyek akan tetap benriali bagi guru. Guru memberikan berbagai jenis protyek baik yang jangka pendek maupun jangka menengah. Tidak semua proyek harus dialporkan dengan lisan, tapi juga diperbolehkan untuk membuat laporan proyek secara tertulis. Salah satu keunggulan proyek adalah memungkinkan siswa untuk memperoleh manfaat dari pelajaran yang mungkin dia tidak mampu peroleh dari pelajaran biasa di kelas.
f. Pekerjaan Rumah
Menurut Solomon (1989), tujuan PR adalah mempersiapkan siswa untuk pelajaran berikutnya atau menguatkan konsep dan keterampilan yang dipelajari pada pelajaran sebelumnya. Solomon mengatakan bahwa PR memiliki peranan penting dalam prestasi siswa. Namn selama tahun 1960an dan 1970an, PR kehilangan posisinya sebagai salah satu metode yang unggul, akan tetapi, pada tahun 1970an, PR kembali memeproelh reputasinya. Ada banyak alasan kenapa banyak PR kurang memberikan hasil yang maksimal diantarnya adalah ketidakjelasan tujuan guru dalam memberikan PR. Berikut ini hal-hal yang perlu guru perhatikan ketika memberikan PR (Lee dan Pruitt, 1978, p. 31).
• Praktik – dirancang untuk memperkuat keterampilan dan informasi yang dipelajari di kelas
• Persiapan – guna mempersiapkan siswa untuk pelajaran berikutnya
• Perluasan – menentukan apakah siswa dapat memperluas konsep atau keterampilan yang sudah dipelajari
• Kreatif – dirancang untuk mengintegrasikan berbagai keterampilan dan konsep
Berikut ini adalah panduan dalam memberikan PR:
• Kejelasan tugas yang diberikan
• Tugas PR individu
• Kreatif
• Beralasan
• Harus dapat diitndaklanjuti
Dan tahapan-tahapan dalam memberikan PR adalah sebagai berikut:
• Sebagai alternatif, rencana tugas yang harus diselesaikan pada suatu waktu pada jam sekolah dengan cara diawasi
• Pastikan tujuan tiap PR jelas
• Sesuaikan PR dengan semua siswa, pastikan semua siswa memperolah tugas yang sama dan setara
• Pastikan bahwa siswa mengetahui ketentuan-ketentuannya
• Periksa PR ketika batas waktunya tiba
• Jangan memberikan PR pada siswa yang tidak belajar dengan benar di kelas
• Ingat bahwa tugas yang menggunakan pendekatan multisesorik juah lebih efektif
Peranan ornag tua dalam PR juga penting. Guru dapat mendorong orang tua untuk melakukan hal-hal berikut mengenai PR (Solomon, 1989: 63):
• Menetapkan waktu yang tepat baik kapan awalnya dan kapan akhirnya di rumah dengan tanpa gangguan
• Menyediakan lingkungan belajar yang mendukung di rumah
• Menyediakan bahan yang dibutuhkan
• Menyuruh anak mengorganisir brbagai hal yang dibutuhkan seperti buk, catatan, tugas, dan kertas
• Minta anak untuk membuat daftar PR harian
• Dukung dan pandu siswa jika mereka merasa pusing dan pristrasi dengan PR yang diberikan.
D. Mengevaluasi Pengajaran dan Kurikulum
1. Telaah Masa Lalu
Literatur mengirimkan pesan yang meyainkan tentang cara guru dalam menyalahgunakan atau tidak menggunakan evaluasi (Frymer, 1979; Helding & Shughnessy, 1990; Parson & Jones, 1990; Wiggins, 1989; & Winton, 1991). Semua yang mengetahui sistem pendidikan di Amerika sepenuhnya pasti mengetahui bagaimana seringnya tes digunakan sebaga instrumen untuk memperkuat dan menegakan perilaku baik dan menghukum perilaku buruk. Banyak yang mencatat adanya kesalahan dalam penggunaan evaluasi. Parsond dan Jones (1990, p. 17) mengatakan dengan jelas bahwa kita akan gagal menggunakan semua yang kita ketahui tentang evaluas, sayangnya pengetahuan kita tentang evaluasi di kelas tidak sesuai dengan praktik kita sebagai guru. Kegagalan guru dalam menggunakan pengetahuan tentang evaluasi dan pengujian sangat besar, sehingga potensi utama evaluasi dalam meningkatkan pengakatan jadi terabaikan.
Kegagalan guru dalam menggunakan pengetahuan tentang evaluasi dan pengujian paralel dengan kegagalan mereka dalam menggunakan riset secara umum (Egbert, 1984, Brown, 1990), dan kegagalan ini dapat disebabkan oleh satu alasan yang sama seperti kegagalan pada riset (Marshall, 1991). Faktor lain yang berkontribusi pada kegagalan guru dalam menggunakan data yang tersedia adalah kekeliruan kosnep mereka tentang penggunaan evaluasi dan pengujian yang benar. Misalnya, banyak guru yang dikrtik karena mengajar hanya demi tes.
2. Kebutuhan akan Evaluasi Formatif
Dipelopori oleh Carroll (1963) dan dikembangkan oleh Bloom, Hastings, dan Madaus (1971) serta Block, Efthim, dan Burns (1989), evaluasi formatif kini menerima perhatian luas berkat dorongan usaha reformasi pendidikan. Berbeda dengan evaluasi sumatif, yang biasanya digunaka untuk menentukan dan membedakan antara siswa yang berhasil dan siswa yang gagal, evalusi formatif memiliki satu tujuan utama – meningkatkan pembelajaran. Hal tersebut dicapai melalui peningkatan kebiasaan studi, pengajaran, dan kurikulum.
Dagley dan Orso (1991, p. 73) mengomentari evaluasi formatif sebagai berikut: “evaluasi formatif adalah sebuah proses yang berjalan; dirancang untuk meningkatkan kinerja guru.” Evaluasi formatif memugnkinkan guru memonitor pengajaran sambil tetap melakukan pengajaran (Oliva, 1992). Sederhananya, siswa membutuhkan tes untuk mengukur kemampuan tanpa harus menerima hukuman sehingga mereka mengtahui bagaimana menyesuaikan tekhnik studi mereka. Menurut Markle, Johnston, Geer dan Meichtry (1990), tes dapat menjadi pengklarifikasi yang kuat atas harapan guru, sehingga memandu siswa menuju hasil yang diharapkan. Salah satu contoh tes evaluasi formatif adalah take-home test (Tes yang dijadikan PR). Jenis tes ini memberikan siswa akses terhadap sumber informasi dan menyediakan siswa waktu lebih banyak untuk menginternalisasikan informasi tersebut. Menurut Parson dan Jones (1990, p. 17), take-home tes memberikan jawaban bagi guru yang ingin mengevaluasi kemajuan siswa pada situasi masalah yang rumit dan panjang.
3. Laporan Progresif
Angka peringkat diganti dengan laporan kemajuan yang dapat mengungkapkan lebih banyak hal dibanding peringkat model tradisional. Winton (1991, p. 40) menjelaskan:
Penggunaan progres report merupakan alternatif yang bagus sebab hal tersebut dapat memberi informasi – informasi tentang apa yang diajarkan, alternatif aktifitas siswa yang telah dikerjakan, dan bagaimana siswa memahami amteri ajar. Tak ada peringkat menggunakan angka atau huruf disini.
Keunggulan lain dari progress report adalah hal tersebut bersifat kontinyu; terus belrangsung. Berbeda dengan latihan tradisional, yang hanya memberikan hasil sekaligus dalam satu waktu, prosedur tes berjalan lebih membeirkan pandangan yang kompehensif terhadap kemajuan siswa.
4. Evaluasi Sumatif
Dagley dan Orso (1991, p. 73) mengemukakan salah satu penggunaan evaluasi sumatif sebagai berikut: “Tujuan evaluasi sumatif adalah memutuskan apakah guru mampu memenuhi standar akuntabilitas minimal atau tidak.” Evaluasi sumatif juga digunakan untuk mengukur kinerja siswa guna menentukan sebuah keputusan mengenai peringkat, lulus atau gagal. Dikarenakan guru menggunakan tes dengan tujuan utama menentukan peringkat siswa, maka dapat diasumsikan bahwa dengan semua praktik tersebut, guru secara sistematis merubah skor mentah menjadi angka/huruf peringkat. Namun sebenarnya tidak demikian: tiap guru nampak memiliki sistem masing-masing dan banyak guru yang menggunakan sistem berbeda dari satu masa pemeringkatan ke masa yang lain. Kenapa? Karena kebanyakan guru tak pernah menemukan sistem yang memuaskan. Tak ada sistem tunggal yang benar untuk digunakan dalam melakukan evaluasi. Kemampuan untuk mengenali kelemahan dan kekuatan berbagai sistem pemeirngkatan akan memabntu guru dalam memilih dengan bijak sistem mana yang akan digunakan.

5. Tes Acuan Norma versus Tes Acuan Kriteria
Sistem evaluasi yang mendorong siswa bersaing satu sama lain disebut acuan-norma, dan evaluasi yang tidak mengharuskan siswa bersaing mealinkan belajar sesaui dengan standar penguasaan yang sudah ditetapkan disebut acuan-kriteria. Secara tradisional, dengan menggunakan tes acuan norma, sekolah mengharuskan siswa untuk bersaing dengan teman sekelasnya. Banyak guru yakin bahwa persaingan antar siswa sangat penting sebagai motivasi, namun persaingan di kelas sering merusak, khususnya ketika persaingan antar siswa dengan kemampuan yang tak setara. Winton (1991, p. 40) menentang penggunaan cara persaingan antar siswa sebab menurut dia evaluasi harus dilakukan dengan tujuan meningkatkan pembelajaran; sehingga evaluasi harus dijalankan secara positif, dengan cara yang mendukung peningkatan pengajaran.
6. Tes Berstandar
Reformasi pendidikan telah meningkatkan penggunaan tes berstandar. Tes berstandar memiliki beberapa ciri umum. Pertama, tes tersebut berdasarkan norma yang berasal dari rata-rata skor ribuan orang yang pernah mengambil tes tersebut. Tes bersatndar biasanya digunakan untuk mengukur atau memperingkatkan kurikulum sekolah. Tes berstandar memberikan sarana untuk membandingkan prestasi siswa di tingkat lokal dengan siswa ditingkaty nasional; selain itu, tes berstandar juga dapat secara tak sengaja membentuk kurikulum sekolah. Namun kekeliruan dalam penggunaan tes berstandar dapat memunculkan masalah. Reformis pendidikan menekankan akuntabilitas penggunaan tes ini.

7. Kurva Normal
Siswa juga didorong untuk berkompetisi dengan siswa lain ketika pemeringkatan dilakukan dengan kurva normal (juga disebut dengan kurva probabilitas normal atau kurva probabilitas). Kurva tersebut juga dinamakan kurva alami atau kurva peluang, sebab merefleksikan distribusi natural dan peluang. Kurva norma dibagi menjadi dua bagian setara. Garis vertikal ditengah-tengah kurva merepresentasikan rata-rata keseluruhan populasi. Tiap garis vertikal ke sebelah kanan mean merepresentasikan rata-rata (standar) unit deviasi diatas mena. Sedangkan tiap garis vertikal ke sebelah kiri merepresentasikan deviasi dibawah mean. Guru yang menggunakan kurva normal dalam menetapkan peringkat siswa di kelas harus membuat beberapa asumsi kasar. Pertama, seperti halnya skema evaluasi lain yang berdasarkan persaingan antar siswa, kurva yang normal bersandar pada asumsi bahwa tingkat kinerja siswa dibadningkan dengan rata-rata kelompok siswa, adalah penting. Kedua, penggunaan kurva normal mengasumsikan bahwa semua siswa memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil. Ketiga, penggunaan kurva normal berasumsi bahwa jumlah siswa yang digunakan sebagai norma cukup besar guna merefleksikan karakteristik semua siswa pada satu tingkatan tertentu.
8. Skor Stanine
Istilah Stanin berasal dari dua kata Standar Nine, skor ini diperoleh dengan menggunakan kurva distribusi normal skor pada sembilan kategori. Modifikasi kurva normal menghilangkan A, B, C, D dan E. Keunggulannya adalah bahwa skor ini mengilangkan stigma yang berhubungan dengan angka/huruf pemeringkatan. Keunggulan lainnya adalah bahwa penggunaan sembilan kategori skor memberikan guru lebih banyak kelompok yang harus dievaluasi secara subjektif.
9. Standar yang Digunakan di Sekolah
Cara yang lebih popular dibanding kurva normal adalah penetapan standar untuk sekolah yang bersangkutan. Disini, sekolah memiliki standar tersendiri yang mereka tetapkan. Jenis evaluasi ini sering memunculkan asumsi palsu bahwa tingkat kesulitan tes akan sesuai dengan kemampuan siswa secara tepat.
10. Evaluasi Kasus versus Evaluasi Kompetitif
Peneliti dan pendidik baru-baru ini menemukan bukti yang menunjukan bahwa pemeringkatan di sekolah menengah harus sangat menekankan pada individu – melibatkan guru dan siswa. Banyak pendidik kontemporer yakin bahwa peringkat harus merefleksikan usaha siswa. Tes acuan kriteria lebih memberikan kotnribusi bagi siswa dibanding tes acuan norma (Fantini, 1986, p. 132). Ada anggapan bahwa persaingan memiliki dampak positif dimana hal tersebut dapat memotivasi siswa. Asumsi tersebut memang benar bagi siswa yang memiliki kemampuan untuk melakukan yang terbaik. Namun, mendorong siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk berkompetisi hanya akan semakin membuat dia tertekan. Kompetisi juga memiliki dampak buruk bagi siswa yang unggul sebab mereka dapat berubah sikap menjadi sombong dan merendahkan teman sekelasnya.
11. Persaingan dan Siswa yang Beresiko
Kebutuhan akan terus dilakukannya evaluasi kurikulum terus menjadi penekanan. Dikarenakan kondisi masyarakat terus berubah, guru dan ahli kurikulum harus menyelaraskan kurikulum dengan lingkungan dan misi sekolah. Kegagalan dalam menyelaraskan pengalaman di sekolah dengan diluar sekolah akan menyebabkan ketidaksesuaian yang kontraproduktif dengan pengajaran sekolah dan tujuan sosial pendidikan. Prestasi kognitif menjadi lebih sulit untuk dicapai siswa yang mengahdapi ketidaksesuaian antara kehidupan sekolah dengan kehidupan di rumah (Delgado-Gaitan, 1991). Agar berhasil, siswa yang berasal dari berbagai latar belakang kultur harus memahami kultur sekolah. Tanpa bantuan kurikulum, siswa yang berasal dari kelompok minoritas tidak akan mampu melintasi jembatan keberhasilan. Evalusi kurikulum yang berkelanjutan dibutuhkan untuk menjamin bantuan tersebut, atau bahkan menyediakannya.
12. Portofolio
Portfolio adalah kumpulan produk-produk yang menjadi bukti keterampilan siswa. Banyak pendidik yang meyakini bahwa terdapat manfaat dalam melibatkan siswa dalam proses evaluasi yang berjalan. Keberhasilan portfolio tergantung pada tujuan portfolio ketika disusun. Barton dan Collins (1993, p. 202) menjelaskan:
Karakteristik pertama pengembangan portfolio adalah keskeplisitan tujuan. Guru dan siswa bersama-sama secara eksplisit menetapkan tujuan portfolio sehingga pembelajar mengetahui apa yang diharapkan dari mereka sebelum mereka memulai mengembangkan bukti keterampilan mereka.
Penggunaan protfolio memunculkan gagasan bahwa penilaian atas siswa harus dipandang dan digunakan dalam menetapkan peringkat mereka. Pertanyaan yang umum muncul berkenaan dengan portfolio adalah, “Apakah kmau yakin contoh pekerjaan ini merepresentasikan kemampuan kamu yang terbaik? Bagaimana kamu yakin kalau pekerjaan kamu sekarang sebanding denganpekerjaan kamu sebelumnya?”
Kebutuhan akan Sistem Pemeringkatan Komplementer
Salah satu kekuatan program reformasi pendidikan adalah tuntutan merka agar digunakannya berbagai jenis pengukuran kinerja siswa. Eipstein dan McIver (1990, p. 39) merekomendasikan perpaduan evaluasi kinerja dan peringkat kemajuan: Sebuah sekolah yang dengan resmi memberikan penghargaan atas peningkatan dengan peringkat kemajuan serta peringkat kinerja dapat mencegah setidaknya 1,7% lebih sedikit siswa laki-laki yang driop out.”
Kebutuhan akan Pemeringkatan dengan Multi-Kriteria
Meski beberapa program reformasi diperkuat oleh penggunaan evaluasi nontradisional, namun terdapat kelemahan umum dari reformasi pendidikan yakni terlalu eksklusif menggunakan tes yang berstandar. Tak ada tes yang dapat dengabn akurat mengukur kemajuan siswa pada semua hasil yang diharapkan. Meski istilah pemeringkatan dan pengujian sering digunakan secara sinonim, namun hal tersebut adalah sebuah kekeliruan. Dikarenakan tak ada satu tes yang mampu mengukur kemampuan siswa dengan sempurna, maka berbagai variasi pengukuran dibutuhkan. Peringkat harus merepresentasikan semua aktifitas umum siswa yang terlibat dalam kelas. Penggunaan beberapa tes dalam bentuk tugas harian, proyek tim, dan diskusi harian membeirkan kepuasan lebih pada peirngkat akhir yang dihasilkan.
Penugasan untuk Kredit Ekstra
Untuk menantang siswa yang paling mampu, guru biasanya memasukan pertanyaan bonus pada tiap tes. Guru menawarkan rkedit ekstra bagi siswa yang mengikuti jam pelajaran khusus dan melengkapi tugas ekstra pada bidang yang mereka anggap sulit. Praktik ini juga dapat digunakan untuk memotivasi siswa. Keputusan apakah akan memberikan kredit ekstra harus didasarkan pada probabilitas yang akan siswa pelajari dari tugas tersebut.
Sistem Pemeringkatan
Dikarenakan kebanyakan guru memiliki ruang gerak yang bebas dlam memilih kriteria apapun yang akan mereka gunakan dalam menilai peringkat siswa, maka semua pemeringkatan, termasuk sistem acuan kriteria sangat bersifat subjektif. Jelas bahwa tiap pilosofi guru atas pemeringkatan akan menentukan pilihan guru terhadap sistem pemeringkatan apa yang akan digunakannya. Dan pilihan tersebut akan membentuk program pengajaran. Guru sering hanya bersandar pada skor tes untuk menentukan peringkat siswa. Parson dan Jones (1990, p. 20) menjelaskan bahwa terdapat kekuatan dalam menggunakan berbagai kriteria dalam menilai peringkat. Idealnya, guru memiliki berbagai aktifitas yang akan menjadi dasar penentuan peringkat; misalnya proyek kelas, presentasi, tugas, PR dan sebagainya.
Penilaian Berbasis Kinerja
Winograd dan Jason (1992, p. 37) mengatakan bahwa sejak dahulu, guru yang baik mengunakan penilaian kinerja untuk memonitor kemajuan siswanya. Reformis pendidikan pda tahun 1990an meyakini penilaian acuan kinerja sebagai sarana untuk memotivasi guru dan siswa guna meningkatkan pencapaian aakdmeik mereka. Penilaian berbasis kinerja muncul dalam banyak bentuk. Penilaian tersebut dapat berbentuk kinerja verbal, penulisan, atau keterampilan manipulatif. Fever dan Fulton (1993, p. 478) mengatakan bahwa evaluasi kinerja lebih baik dipahami sebaagi sebuah format kontinuum yang membentang dari respon terstruktur siswa yang paling sederhana ke demonstrasi komprehensif. Bentuk lain penilaian berbasis kinerja adalah pertunjukan antar siswa atau antar kelompok siswa.
Pendidikan Berbasis Outcome
Tak ada praktik reformasi yang memancing kontroversi selain pendidikan berbasis outcome (OBE). Brandt (1994) mengatakan bahwa kontroversi OBE sendiri membingungkan sebab istilah tersebut berbeda satu sama lain; antar orang yang berbeda. Salah satu keunggulan penggunaan OBE menurut Marzano (1994, p. 44) adalah:
Yang menjadi alasan utama penggunaan OBE adalah karena hal tersebut menyediakan informasi mengenai kemampuan siswa untuk menganalisa dan menerapkan informasi – kemampuan mereka untuk berpikir.
Tes Otentik
Tes dirancang untuk mengembangkan keterampilan siswa yang akan diukur melalui tes berstandar yang disebut dengan tes otentik. Disebut tes otentik sebab fakta bahwa rtes tersebut menguji pemahaman yang bernilai dan aktifitas tes tersebut juga bernilai. Panel studi khusus untuk indikator pendidikan pada Pusat Statistik Pendidikan Nasional (1991) menyatakan abhwa otentik, alterantif dan kinerja adalah semua istilah yang diterapkan pada tekhnik pengujian yang akan muncul. Apapun namanya, denomiantor umumnya adalah bahwa tes tersebut mengharuskan siswa untuk menerapkan pemikiran dan keterampilan nalar untuk menghasilkan respon terhadap permasalahan yang diberikan pada mereka. Keberhasilan tes otentik mensyaratkan agar guru mulai menyusun perencanaan dengan menelaah jenis-jenis keterampilan yang ingin siswa mereka kuasai dan merancang tes untuk memenuhi tujuan tersebut serta mengajara berdasarkan tujuan tersebut.
VII . EVALUASI KURIKULUM
Ketika reformasi pendidikan serta upaya restrukturisasinya semakin mengembang, kebutuhan akan keterlibatan guru dalam evaluasi kurikulum akan terus meningkat.
1. Penyesuaian Kurikulum
Guna memenuhi tuntutan reformasi pendidikan agar dilakukannya evaluasi terus menerus terhadap kesleuruhan program sekolah, evaluasi kurikulum memberikan arah yang dibutuhkan, keamanan dan umpan balik bagi guru. Contohnya adalah konsep penyesuaian kurikulum. Staf pengajar yang tak menyadari konsep ini tidak mungkin menyesuaikan kurikulum yang diajarakan dengan kruikulum yang diujikan dan bahkan tidak mungkin menyesuaikan kurikulum dengan pengajaran dan pengujian lainnya. Ketika guru memahami hubungan antar kurikulum tersebut, mereka akan merasa yakin dengan usaha yang mereka lakukan.
2. Kebutuhan akan Keterlibatan Guru
Bab 8 menekankan pentingnya keterlibatan guru dalam semua hal tentang kurikulum. Keterlibatan guru dalam evaluasi kurikulum mensyaratkan keterlibatan lebih dini mereka delam berbagai aspek kurikulum. Agar memahami hubungan antar komponen kurikulum, seperti pilosofi, tujuan, sasaran, maskud, isi, aktifitas guru an siswa, serta evaluasi, guru harus dilibatkan dalam penyusunan pernyataan misi sekolah dan tujuan departemen mereka masing-masing, sehingga mereka dapat melihat bagaimana komponen-komponen tersebut saling berhubungan dan memahami dasar pengambilan keputusan dibuatnya sebuah kurikulum, yakni pilosopi sekolah.
3. Kebutuhan akan Integrasi
Ketidakmampuan guru dalam memahami kurikulum baik secara vertikal maupun horisontal nampak nyata pada semua tingkatan pendidikan. Meski hal ini akan dibahas pada bab 11, namun perlu dipahami bahwa evaluasi kurikulum yang efektif dimulai di kelas, lalu menyebar ke seluruh bagian sekolah. Evaluasi kurikulum tidak dapat muncul dalam sebuah kelas tertutup. Tiap kurikulum buatan guru harus selalu dinilai dalam hubungannya dengan kesleuruhan misi sekolah.
4. Model CIPP
Salah satu model evaluasi kurikulum yang paling populer adalah model CIPP (lihat gambar 9.2). Komite Phi Delta Kappa yang dipimpin oleh Daniel Stufflebeam mengembangkan model yang komprehensip ini (CIPP, singkatan dari context, input, process dan product). Evaluasi konteks menekankan pada lingkungan kurikulum. Bagian ini mirip dengan midel Beauchamp (bab 4) yang disebut dengan arena dalam teori kemunculan kurikulumnya. Evaluasi Input menetapkan sumber daya yang tersedia dan layak untuk digunakan dalam mencapai tujuan. Evaluasi proses adalah pengawasan yang berkelanjutan atas berbagai penyimpangan yang terjadi serta evaluasi produk menentukan apakah model kurikulum tersebut akan diteruskan atau tidak.
5. Komponen Evaluasi Kurikulum
Cara lain untuk mengeavluasi kurikulum adalah dengan menelaah tiap komponenya, dimulai dengan pernyataan misi lembaga (gambar 9.3). komponen kurikulum yang kurang diperhatikan namun banyak digunakan adalah pernyataan pilosofi yang merefleksikan misi lembaga. Pernyataan misi adalah kemudi yang mengarahkan perjalanan lembaga. Pilosofi harus memunculkan tujuan serta sasaran kurikulum. Evaluasi kurikulum bersifat multi-direksional. Dikarenakan kerumitannya, penyesuaian satu bagian kurikulum akan berdampak pada penyesuaian bagian yang lainnya. Evaluasi kurikulum bukanlah proses sederhana yang satu arah. Dan dikarenakan kebutuhan masyarakat dan siswa terus berubah, maka evaluasi kurikulum harus dijalankan secara berkelanjutan.
a. Evaluasi Rangkaian Kurikulum
Rentang atau rangkaian kurikulum, susunan bagaimana tujuan, isi dan aktifitas disajikan, secara signifikan mennetukan tingkat kesulitan atau kemudahan siswa dalam memahami isi pembelajaran. Tujuan tidak mungkin dapat dicapai tanpa meraih beberapa pra-syarat tujun tersebut. Ketika rangkaian kurikulum terganggu, maka kontinuitasnnya tidak akan tercapai.
b. Evaluasi Kontinuitas Kurikulum
Kontinuitas adalah tidak adanya gangguan dalam kurikulum. Kegagalan dalam mengelola kontinuitas akan berdampak pada kesulitan dalam belajar. Terdapat dua alasan kenapa kurikulum dapat kekurangan kontinuitas: yakni kurang baiknya rangkaian dan jarak antar bagian dalam kurikulum. Ahli kurikulum – termasuk guru – bertanggungjawab untuk menjamin kontinuitas kurikulum.
c. Evaluasi Cakupan Kurikulum
Evaluasi kurikulum harus menelaah cakupan kurikulum. Cakupan merujuk pada luasnya kurikulum; dimensi horisontal atau snapshot kurikulum. Misalnya ketika kita ingin menelaah jumlah pelajaran untuk kelas 8. Evaluasi kurikulum harus mempertimbangkan keragaman dan keluasan isi yang ditawarkan pada kurikulum.
d. Evaluasi Artikulasi
Pengembang kurikulum ingin memastikan bahwa tiap bagian kurikulum sesuai satu sama lain. Kualitas “kelembutan” inilah yang disebut dengan artikulasi. Ketika mengevaluasi artikulasi kurikulum, pengembang kurikulum akan menelaah dimensi vertikal (melalui peringkat) dan dimensi horisontal (lintas peringkat) kurikulum.
e. Evaluasi Keseimbangan
Salah satu karakteristik paling penting dari sebuah kurikulum adalah keseimbangan. Keseimbangan sebuah kurikulum harus ditelaah dalam beberapa perspektif. Salah satunya adalah keseimbangan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan tuntutan dunia kerja. Harus terdapat keseimbangan antara mata pelajaran kuantitatif seperti matematika dan sins dengan pelajaran kualitatif seperti Bhs. Inggris, stusi sosial, dan sebagainya. Bahkan dalam satu disiplin-pun keseimbangan harus dijaga. Misalnya, kurikulum sains harus menawarkan materi yang seimbang antara fisika, kimia, bilogi dan astronomi.
f. Evaluasi Koherensi Kurikulum
Salah satu kecacatan kurikulum adalah kegagalan dalam menghubungkan tiap komponen satu sama lain. Hubungan antar komponen kurikulum disebut dengan koherensi kurikulum. Evaluasi kurikulum harus menjamin semua bagian kurikulum saling melenmgkapi satu sama lain.
VII. PENUTUP
Kemempuan guru dalam merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi pelaksanaan dan bahkan mengevaluasi sebuah kurikulum sangat diperlukan, karena guru merupakan subjek utama penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di sekolah.
Pemahaman yang baik tentang kurikulum itu harus dimulai dari pemahaman konsep kurikulum, yang meliputi pengertian kurikulum , peranan kurikulum :fungsi kurikulum , model pengembangan kurikulum, tingkat/ jenis kurikulum, desain konsep kurikulum, pengembangan kurikulum, lalu kemudian bagaimana merencanakan dan merubah kurikulum menjadi pengajaran yang meliputi perencanaan jangka panjang, perencanaan pelajaran harian, dasar-dasar pelaksanaan pengajaran, pelaksanaan kurikulum dalam pembelajaran, dan terakhir bagaimana mengevaluasi pengajaran serta mengevaluasi kurikulum itu sendiri.
Dengan demikian, sebagai salah satu subjek penyelenggara pendidikan dan pengajaran di sekolah, guru betul-betul mengerti tentang apa yang harus dilakukannya konteknya terhadap kurikulum yang menjadi acuan mendidik dan mengajar peserta didik ke arah tujuan yang dicita-citakan.


Responses

  1. Thanks…

  2. Thanks juga … moga bermanfaat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: