Oleh: H. Ahmad Subehan, Lc, S.Pd.I | 20 Desember 2008

PENYUSUNAN DESAIN MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

PENYUSUNAN DESAIN MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

Oleh :
Abdu Syahid

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Mengajar inilah kata kunci yang sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah proses pendidikan, dan mengajar pulalah yang mendapat kritik keras dari Paulo Freire dengan model pembelajaran pasif, yakni guru menerangkan, murid mendengarkan, guru mendiktekan, murid mencatat, guru bertanya murid menjawab, dan seterusnya. Paulo Freire menyebutkan dengan pendidikan gaya bank, yakni pendidikan model deposito, guru sebagai deposan yang mendepositokan pengetahuan serta pengalamannya pada siswa, siswa hanya menerima, mencatat dan mem file-kan semua yang disampaikan guru. Pendidikan model bank tersebut menurut Freire merupakan salah satu bentuk penindasan terhadap siswa-siswa. Karena menghambat kreativitas dan pengembangan potensi mereka (Elias, 1994 : 113).
Pengajaran model ini terkadang juga disebut sebagai pendidikan gaya komando, dan menurut Muska Mosston, gejala tersebut muncul dalam decade 60-an sampai 70-an, yang harus mengembangkan prinsip distribusi sebuah keputusan harus dilakukan secara hierarkis, dari atas kebawah, dari guru pada siswa (Mosston, 1972 : 35). Dalam pengajaran gaya komando, semua Desain Manajemen Belajar Mengajar dan perencanaan ditentukan oleh guru, disampaikan pada siswa, dan siswa menerima pelajaran, mengubah perilaku sesuai dengan pengajaran baru. Akan tetapi, mereka tidak terlibat dalam proses analisis untuk penerapan pengalaman baru tersebut pada konteks kehidupan lain, dan lebih jauh lagi, mereka juga tidak terlibat dalam pembahasan feed back buat guru
Diawal paroan ke 2 abad ke 20 ini mengajar masih diartikan sebagai sebuah proses pemberian bimbingan dan memajukan kemampuan pembelajaran siswa yang semuanya dilakukan dengan berpusat pada siswa (Kochhar, 1967 : 24). Mengajar harus bertitik tolak dari kondisi siswa untuk diberi berbagai pengalaman baru, serta pemberian bimbingan untuk memperoleh berbagai pengalaman baru guna mencapai berbagai kemajuan.
Oleh sebab itulah, maka pengertian mengajar juga berubah. Salah satu pengertian mengajar yang berbasis pada mainstream tersebut adalah dikemukakan oleh Kenneth D. Moore, yang menurutnya mengajar adalah sebuah tindakan dari seseorang yang mencoba untuk membantu orang lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya (Moore, 2001: 5). Pandangan ini didasari oleh sebuah paradigma bahwa tingkat keberhasilan mengajar pada seberapa banyak ilmu yang disampaikan guru pada siswa, tetapi seberapa besar guru memberi peluang pada siswa untuk belajar dan memperoleh segala sesuatu yang ingin diketahuinya, guru hanya memfasilitasi para siswanya untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya.
Madeline Hunter mengemukakan bahwa mengajar adalah, sebuah proses membuat dan melaksanakan sebuah keputusan sebelum, selama dan sesudah proses pengajaran (Hunter, 1994 : 6), yakni keputusan yang jika diambil oleh seorang guru, akan meningkatkan kemungkinan siswa untuk belajar, jika guru memutuskan dalam sebuah perencanaan mengajarnya tentang demokrasi, maka siswa akan mempelajari, memahami, dan menghayati demokrasi, serta memahami pula praktik demokrasi.
Dengan demikian definisi terkini tentang mengajar sudah amat berbasis pada siswa, guru hanya mengambil peran dalam perancangan untuk memberi peluang pada siswa-siswanya mengembangkan aktivitas belajar, serta mengeksplorasi berbagai pengalaman baru untuk mencapai kompetensi yang ideal.
Bersamaan dengan perkembangan dan kemajuan tersebut tampaknya paradigma behaviorisme sudah mulai dikritik dengan dikembangkannya aliran constructivisme sebagai pengembangan dari aliran psikologi kognitif. (Kauchak, 1998 : 6). Aliran behaviorisme memandang bahwa belajar adalah mengubah perilaku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan.
Sedangkan aliran psikologi kognitif memandang bahwa belajar adalah mengembangkan berbagai strategi untuk mencatat dan memperoleh berbagai informasi, siswa harus aktif menemukan informasi-informasi tersebut, dan guru bukan mengontrol stimulus, tapi menjadi partner siswa dalam proses penemuan berbagai informasi dan makna-makna dari informasi yang diperolehnya.
Constructivisme adalah aliran yang mengembangkan pandangan tentang belajar yang menekankan pada empat komponen kunci, yakni :
1. Siswa membangun pemahamannya sendiri dari hasil mereka belajar bukan karena disampaikan pada mereka.
2. Pelajaran baru sangat tergantung pelajaran sebelumnya.
3. Pelajar dapat ditingkatkan dengan interaksi sosial.
4. Penugasan-penugasan dalam belajar dapat meningkatkan kebermaknaan proses pembelajaran (Kauchak, 1998:7).
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun yang dijadikan fokus pembahasan adalah tentang bagaimana ”Penyusunan Desain Manajamen Belajar Mengajar”.
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang konsep-konsep yang berkaitan Penyusunan Desain Manajemen Belajar Mengajar akan dirumuskan beberapa hal sebagai berikut :
1. Desain Model Manajemen Belajar Mengajar
2. Model Manajemen Pembelajaran Problem Solving
3. Bagaimana Manajemen Profesional Menjadi Guru Yang Baik Dalam Proses Belajar Mengajar.
4. Bagaimana Mendesain Manajemen Belajar Mengajar Untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran
5. Guru Harus Mengembangkan Strategi Penyusunan Desain Manajemen Belajar Mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
PENYUSUNAN DESAIN MANAJEMEN
BELAJAR MENGAJAR

A. DESAIN MODEL MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR
Pengembangan berbagai model mengajar sampai pada pelibatan dan pemberian kesempatan siswa untuk melakukan eksplorasi keilmuan, menurut Jerry Aldridge dan Renitta Goldman disebabkan oleh perubahan-perubahan worldviews pada anak dan mempengaruhi proses pembelajaran.
Dalam pendidikan dikenal tiga worldviews, yaitu :
1. Aliran organis : menekankan pada teori, bahwa dalam belajar itu harus memberi kesempatan pada siswa untuk aktif, lingkungan pasif.
2. Aliran mekanis : menekankan pada teori, bahwa lingkungan aktif dan anak pasif
3. Aliran kontekstualis : menekankan pada teori, bahwa interaksi antara siswa dengan lingkungan belajarnya, antara siswa dengan gurunya, dengan penilaian yang seimbang antara kualitatif dengan kuantitatif, sehingga teori inilah yang terus dikembangkan dalam teori mengajar karena dianggap lebih relevan. (Aldridge, 2002: 68).
Ditengah derasnya kritik terhadap behaviorisme, Kevin Wheldall dan Ted Glynn mengembangkan sebuah paradigma Behavioural interactionist approach to teaching, yang mensintesiskan antara behaviorisme dengan constructivisme.
Adapun teori-teori Kevin Wheldall dan Ted Glynn yang mensintesiskan teori behaviorisme dan constructivisme yang berbasis teori psikologi developmental, adalah sebagai berikut (Wheldall, 1989: 22-23) :
1. Penggunaan metode-metode yang sesuai dengan kebutuhan analisis perilaku, yakni pelaksanaan pembelajaran dengan menekankan prosedur yang sistematis, dan menggunakan berbagai strategi yang logis untuk mencapai perilaku yang diharapkan.
2. Mengenali, mengakui berbagai konteks dan keadaan lingkungan. Berbagai strategi yang akan meningkatkan efektivitas belajar siswa harus dikembangkan.
3. Berusaha untuk memaksimalkan penggunaan berbagai penguat natural, kapan saja sejauh akan melahirkan konsekuensi positif untuk perubahan perilaku, dan mereka akan mampu melakukan generalisasi dari berbagai pengalaman belajar mereka.
4. Responsif terhadap berbagai data dari hasil penelitian aliran non-behavioural. Hasil-hasil penelitian aliran lain seperti hasil penelitian psikologi developmental merupakan sesuatu yang sangat berarti untuk interaksi orang dewasa dan anak-anak.
5. Teori interactive learning, yang mengakui bahwa guru harus mengubah strategi sebagai respon terhadap pembelajar (siswa) saat terjadi perubahan perilaku belajar pada siswa.
6. Selalu berusaha untuk membantu siswa, agar mereka dapat memberikan kontrol yang lebih besar terhadap proses belajarnya sendiri. Dalam upaya membantu siswa agar lebih independen dalam belajar, kita harus mempersiapkan konteks belajar bagi mereka. Dan mereka diberi kesempatan kontrol yang lebih besar terhadap proses belajarnya sendiri.
7. Memperluas program-program pendidikan tidak hanya program persekolahan tapi juga mencoba menambah dan memperkuat siswa dengan membuka peluang bagi mereka untuk mempelajari berbagai keahlian dan keterampilan akademik dan sosial yang sesuai dengan kehidupan nyata.
8. Mendorong inisiatif yang dikembangkan oleh para siswa sendiri. Kami bermaksud untuk mempersiapkan berbagai kontek yang dapat meningkatkan inisiatif para siswa dan yang dapat mendorong para guru untuk meresponi inisiatif tersebut.
9. Menghargai setiap kesempatan belajar yang muncul dari berbagai kesalahan. Bahwa kesalahan-kesalahan itu menyediakan kesempatan belajar yang amat berguna. Guru dan siswa harus sama-sama mencari dan memperoleh informasi untuk mendapatkan strategi yang dibutuhkan untuk mengatasi berbagai kesulitan dalam belajar.
10. Mengakui kompleksitas skil guru profesional yang dibutuhkan oleh setiap guru. Termasuk perumusan model yang mendekati perilaku akademik dan sosial, dan mengembangkan kerjasama dengan orang tua, teman sebaya, serta para profesional dalam prosedur yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran siswa.

Interactive learning, akhirnya akan memberi stimulus bagi guru untuk merefleksikan berbagai pengalamannya dengan siswa untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran kedepan, dengan memperbaiki berbagai perencanaan.
Belajar adalah perubahan perilaku, perubahan perilaku tersebut terdiri dari berbagai proses modifikasi menuju bentuk permanen, dan terjadi dalam aspek perbuatan, berpikir, sikap, dan perasaan. Akhirnya dapat dikatakan bahwa belajar itu tiada lain adalah memperoleh berbagai pengalaman baru (Kochhar, 1967:27).
Sebenarnya pengembangan sekolah demokratis yang dalam konteks pembelajaran lebih banyak melibatkan siswa, tidak hanya dalam proses penyelesaikan berbagai soal, tugas, guideline atau arahan-arahan lainnya yang disampaikan guru, tapi juga siswa boleh memilih topik, bahkan strategi dan pendekatan dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam topik yang dipilihnya itu.
Namun secara umum sebagaimana kochhar nyatakan bahwa belajar tersebut akan sukses jika memenuhi dua persyaratan (Kochhar, 1967: 28), yaitu :
1. Belajar merupakan sebuah kegiatan yang dibutuhkan oleh siswa, yakni siswa merasa perlu akan belajar. Semakin kuat keinginan siswa untuk belajar, maka akan semakin tinggi keberhasilannya.
2. Ada kesiapan untuk belajar, yakni kesiapan siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru, baik pengetahuan maupun keterampilan. Dalam mata pelajaran apa pun, apakah mata pelajaran akademik, olah raga, bahkan keterampilan membutuhkan kesiapan untuk belajar.

Bersamaan dengan itu, William H. Burton menegaskan bahwa prinsip-prinsip umum dalam belajar dikemukakan dalam rumusan yang sangat variatif oleh para ahli psikologi. Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa proses belajar tersebut adalah sebagai berikut, (Burton, 1962 : 18-19) :
1. Proses belajar tiada lain adalah mengembangkan pengalaman, mengerjakan sesuatu, bereaksi terhadap sesuatu, dan kemudian menjalankan sesuatu.
2. Proses belajar terjadi melalui berbagai macam pengalaman dan bahkan unit-unit pelajaran yang menyatu dalam satu tujuan.
3. Respon invidual terus termodifikasi oleh konsekuensi-konsekuensinya. Respon pembelajar secara keseluruhan adalah fisik, pikiran dan perasaan.
4. Situasi belajar didominasi oleh tujuan yang diterima oleh pembelajar, dan bahkan kemudian menjadi sesuatu yang diinginkan oleh mereka.
5. Proses belajar akan diinisiasi oleh kebutuhan dan tujuan, yang tampaknya dimotivasi oleh kekurangan pembelajar sendiri, sehingga mereka termotivasi untuk belajar dalam upaya menutupi kekurangan-kekurangan tersebut.
6. Situasi belajar, dalam konteks keseluruhan nilai, harus dirasakan oleh pembelajar sebagai realistis, bermakna dan amat berguna.
7. Proses belajar mengajar berjalan efektif jika pengalaman, bahan-bahan, dan hasil-hasil yang diharapkan sesuai dengan tingkatan kematangan pembelajar serta latar belakang pengalaman mereka.
8. Proses belajar akan berjalan baik jika pembelajar bisa melihat hasil yang positif untuk dirinya.
9. Proses dan pencapaian hasil belajar akan sangat dipengaruhi oleh tingkatan aspirasi yang ditanamkan oleh pembelajar.
10. Pembelajar akan tahan dalam menghadapi berbagai kesulitan, kendala, serta situasi yang tidak menyenangkan, jika dia merasa bahwa tujuan belajar yang akan dicapainya itu berharga bagi dia.
11. Proses belajar sebaiknya berlangsung dibawah bimbingan yang menstimulasi bukan didominasi dengan paksaan, dengan didorong bukan dengan celaan-celaan. Bimbingan belajar dapat diperoleh dari siapa saja dalam lingkungan.
12. Proses belajar merupakan sebuah kesatuan fungsional dari semua prosedur yang tak terpisahkan dalam pembahasan.
13. Proses belajar akan berjalan dengan baik dan terbaik jika dikembangkan dalam lingkungan yang kaya dan variatif.
14. Proses belajar dan pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual dari pembelajar.

Donald P.Kauchak mengangkat teori multple intelligence yang dikutifnya dari hasil penelitian Howard Gardner, sebagai sebuah tugas sekolah (Kauchak, 1998:28-29), yakni kecerdasan seseorang tidak hanya diukur dengan tingkat intelligence question yang hanya mengukur tiga variabel, yakni berpikir abstrak dan rasional, kemampuan penyelesaian masalah, dan kemampuan penguasaan pengetahuan, tapi dalam berbagai aspek yang sangat diperlukan dalam pengembangan kehidupan ke depan.
Dengan mengutif teori Howord Gardner, Kauchak mengangkat tujuh variabel yang bisa diukur untuk melihat kecerdasan seseorang yakni :
1. linguistic intelligence
2. logical – mathematical intelligence
3. musical intelligensi
4. spatial intelligensi
5. bodily-kinesthetic intelligensi
6. interpersonal intelligensi
7. intrapersonal intelligensi

B. MODEL MANAJEMEN PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING
Identifikasi masalah merupakan tahap awal dalam model pembelajaran problem solving, dengan mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang terkait dengan fokus yang akan mereka pelajari dengan cara inquiry, atau kajian dan penelaahan atau penelitian mendalam. Akan tetapi tidak semua bisa diselesaikan, maka siswa diarahkan untuk memilih salah satu yang dijadikan fokus pembahasan mereka.
Model belajar problem solving tersebut, kini sudah mulai dikembangkan dengan model pembelajaran portofolio. Pembelajaran dengan outcome level tertinggi lainnya adalah pengembangan critical thinking yakni kemampuan berpikir kritis, yang bisa dikembangkan sejak dini, dan tidak tergantung pada tingkat intelligensi quetion, namun pada intensitas pembinaan dan kebiasaan melatih anak berpikir kritis. Kenneth D.Moore (Moore, 2001:113) memberikan ilustrasi bahwa berpikir kritis itu lebih kompleks daripada berpikir biasa, karena berpikir kritis berbasis pada standar objektivitas dan konsistensi. Guru, menurutnya pula harus membiasakan siswa untuk mengubah pola berpikirnya, yakni :
1. Dari menduga menjadi mengestimasi.
2. Dari memilih menjadi mengevaluasi
3. Dari pengelompokan menjadi pengklasifikasikan
4. Dari percaya menjadi menduga
5. Dari penyimpulan dengan dugaan pada penyimpulan secara logis
6. Dari selalu menerima konsep pada mempertahan konsep.
7. Dari menduga menjadi menghipnotesis.
8. Dari menawarkan pendapat tanpa alasan pada penawaran pendapat dengan argumentasi.
9. Dari membuat putusan tanpa kriteria pada pembuatan putusan dengan kriteria.

Secara umum ada empat tahap dalam peningkatan kebiasaan berpikir kreatif yang bisa dikembangkan pada berbagai aktivitas belajar siswa (Moore, 2001:115), yakni :
1. Persiapan, yakni proses pengumpulan berbagai informasi untuk diuji. Pemikir kreatif akan mempertanyakan dan menginvestigasi hubungan antara kejadian, ide dan tujuan, sampai dia memperoleh sebuah hipótesis.
2. Inkubasi, yakni statu rentang waktu untuk merenungkan hipótesis tersebut sampai dia memperoleh sebuah keyakinan bahwa hipotesisnya itu Sangat rasional. Masa inkubasi ini bisa dipesingkat
3. Iluminasi, yakni fase kecerahan saat pemikir memperoleh keyakinan benar bahwa hipotesisnya itu yang paling kuat dan paling benar.
4. Verifikasi, yakni pengujian kembali hipotesisnya untuk dijadikan sebuah rekomendasi perbaikan atau perubahan berdasarkan hasil temuan baru, verifikasi ini memerlukan data yang dapat menguji rumusan hipotesisnya itu.

C. BAGAIMANA MANAJEMEN PROFESIONAL MENJADI GURU YANG BAIK DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
Teori-teori tentang mengajar dan belajar sebagaimana terpapar di muka semua menuju pada pola dan model belajar yang berpusat pada siswa atau pembelajar, dan tingkat keberhasilannya Sangat ditentukan juga oleh seberapa besar mereka merasa perlu belajar, dan seberapa besar mereka siap untuk belajar.
Akan tetapi, tidak semua guru memahami dan atau menyadari paradigma ini, praktek-praktek pengajaran masih banyak yang didominasi oleh guru dan bahkan guru sepertinya memiliki otoritas untuk memaksa siswa memenuhi semua yang diinginkannya, dengan kurang bijak memperhatikan kebutuhan belajar siswanya.
Secara umum guru itu harus memenuhi dua kategori yang memiliki capability dan loyality, yakni guru itu harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai Desain Manajemen Relajar Mengajar atau perencanaan, implementasi sampai evaluasi, dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal terhadap tugas-tugas keguruan yang tidak semata di dalam kelas, tapi sebelum dan sesudah kelas. Gilbert H. Hunt dalam bukunya Effective Teching menyatakan bahwa guru yang baik itu harus memenuhi tujuh kriteria (Hunt, 1999: 15-16), yaitu :
1. Sifat ; guru yang baik harus memiliki sifat-sifat antusias, stimulatif, mendorong siswa untuk maju, hangat, berorientasi pada tugas dan pekerja keras, toleran, sopan dan bijaksana, bisa dipercaya, fleksibel dan mudah menyesuaikan diri, demokratis, penuh harapan bagi siswa, tidak semata mencari reputasi pribadi, mampu mengatasi stereotipe siswa, bertanggung jawab terhadap kegiatan relajar siswa, mampu menyampaikan perasaannya dan memiliki pendengaran yang baik.
2. Pengetahuan ; guru yang baik juga memiliki pengetahuan yang memadai dalam mata pelajaran yang diampunya, dan terus mengikuti kemajuan dalam bidang ilmunya.
3. Apa yang disampaikan ; guru yang baik juga mampu memberikan jaminan bahwa materi yang disampaikannya mencakup semua unit bahasan yang diharapkan siswa secara maksimal.
4. Bagaimana Mengajar ; guru yang baik mampu menjelaskan berbagai informasi secara jelas, dan terang, memberikan layanan yang variatif, menciptakan dan memelihara momentum, menggunakan kelompok kecil secara efektif, mendorong semua siswa untuk berpartisipasi, memonitor dan bahkan sering mendatangi siswa, memonitor tempat duduk siswa, senantiasa melakukan formatif test dan post test, melibatkan siswa dalam toturial atau pengajaran sebaya, menggunakan kelompok besar untuk pengajaran instructional., menunjukkan pada siswa tentang pentingnya bahan-bahan yang mereka pelajari, menunjukkan proses berpikir yang penting untuk relajar, berpartisipasi dan mampu memberikan perbaikan terhadap kesalahan konsepsi yang dilakukan siswa.
5. Harapan ; Guru yang baik mampu memberikan harapan pada siswa, mampu membuat siswa akuntabel, dan mendorong partisipasi orang tua dalam memajukan kemampuan akademik siswanya.
6. Reaksi Guru Terhadap Siswa ; Guru yang baik biasa menerima berbagai masukan, risiko, dan tantangan, selalu memberikan dukungan pada siswanya, consisten dalam kesepakatan-kesepakatan dengan siswa, bijaksana terhadap kritik siswa, menyesuaikan diri dengan kemajuan-kemajuan siswa, pengajaran yang memperhatikan individu, mampu memberikan jaminan atas kesetaraan partisipasi siswa, mampu menyediakan waktu yang pantas untuk siswa bertanya, cepat dalam memberikan feed back bagi siswa dalam membantu mereka relajar.
7. Management ; Guru yang baik juga harus mampu menunjukkan keahlian dalam perencanaan, memiliki kemampuan mengorganisasi kelas Sejas hari pertama dia bertugas, cepat memulai kelas, melewati masa transisi dengan baik, memiliki kemampuan dalam mengatasai dua atau lebih aktivitas kelas dalam satu waktu yang sama, memelihara waktu bekerja serta menggunakannya secara efisien dan consisten, meminimalisasi gangguan, dapat menerima suasana kelas yang ribut dengan kegiatan pembelajaran, memiliki teknik untuk mengontrol kelas, memberikan hukuman dengan bentuk yang paling ringan, dapat memelihara suasana tenang dalam relajar, dan tetap dapat menjaga siswa untuk tetap relajar menuju sukses.

Sementara itu, dengan mengadaptasi teori Meter G. Beidler dalam buku Inspiring Teaching yang diedit oleh John K. Roth, terdapat 10 kriteria guru yang baik (Beidler, 1997: 3-10), yaitu :
1. Seorang guru yang baik harus benar-benar berkeinginan untuk menjadi guru yang baik. Guru yang baik harus mencoba, dan terus mencoba, dan biarkan siswa-siswa tahu bahwa dia sedang mencoba, dan bahkan dia juga Sangat menghargai siswanya yang senantiasa melakukan percobaan-percobaan, walaupun mereka tidak pernah sukses dalam apa yang mereka kerjakan. Dengan demikian, para siswa akan menghargai kita, walaupun kita tidak sebaik yang diinginkan, Namur kita akan terus membantu siswa yang ingin sukses.
2. Seorang guru yang baik berani mengambil risiko, mereka berani menyusun tujuan yang Sangat muluk, lalu mereka berjuang untuk mencapainya. Jika apa yang mereka inginkan itu tidak terjangkau, Namur mereka telah berusaha untuk melakukannya, dan mereka telah mengambil risiko untuk melakukannya, siswa-siswa biasanya suka dengan ujicoba berisiko tersebut.
3. Seorang guru yang baik memiliki sikap positif. Seorang guru tidak boleh sinis dengan pekerjaannya. Seorang guru tidak boleh berata bahwa profesi keguruan hádala profesi orang-orang miskin. Mereka harus Bangla dengan profesinya sebagai guru. Tidak baik bagi seorang guru untuk mempermasalahkan profesi keguruannya dengan mengaitkannya pada indeks gaji yang tidak memadai, karena dia masuk estela dia tahu bahwa gajinya tidak memadai. Demikian pula dengan sikap mereka pada siswanya. Tidak boleh sinis pada siswa karena keterlambatan mereka dalam menyerap pelajaran, dan jangan pula sinis pada siswa karena terjebak dalam sebuah kenakalan. Hadapi dan perbaiki mereka secara wajar, humanis, rasional dan proporcional.
4. Seorang guru yang baik, selalu tidak pernah punya waktu yang cukup. Menurut Beidler, bahwa yang baik hampir bekerja antara 80 – 100 jam per minggu, termasuk sabtu dan minggu, isteri dan keluarganya mengeluh dengan alasan yang baik, bahwa mereka kurang peduli pada isteri dan keluarganya itu. Hadiah untuk guru yang sibuk itu adalah kesibukannya itu. Guru yang baik selalu mempersiapkan kelas dengan sempurna, mengindentifikasi siswa semua siswa dengan segala persoalannya, berkomunikasi dengan kometi sekolah, banyak menggunakan waktu untuk dikantor menyelenggarakan administrasi pendidikan yang terkait dengan siswa-siswanya, memberikan waktu yang banyak untuk siswa berkonsultasi. Guru yang baik hampir tidak punya waktu untuk bersantai, membuat berbagai persiapan untuk kelas esok hari, atau memeriksa hasil kelas hari ini.
5. Guru yang baik berpikir bahwa mengajar adalah sebuah tugas menjadi orang tua siswa, yakni bahwa guru punya tanggung jawab terhadap siswa sama dengan tanggung jawab orang tua terhadap putra-putrinya sendiri dalam batas-batas kompetensi keguruan.
6. Guru yang baik harus selalu mencoba membuat siswanya percaya diri, karena tidak semua siswa memiliki rasa percaya diri yang seimbang dengan prestasinya. Seorang anak yang pintar, mampu membuat paper, menguasai berbagai bahan ajar dengan baik, belum tentu memiliki kepercayaan diri sesuai dengan prestasinya untuk mengatikulasikan kemampuannya di depan orang banyak.
7. Seorang guru yang baik juga selalu membuat posisi tidak seimbang antara siswa dengan dirinya, yakni dia selalu menciptakan jarak antara kemampuannya dengan kemampuan siswanya, sehingga mereka senantiasa sadar bahwa perjalanan menggapai kompetensinya masih panjang, sehingga mereka terus berusaha untuk menutupi berbagai kelemahannya tersebut.
8. Seorang guru yang baik selalu mencoba memotivasi siswa-siswanya untuk hidup mandiri, lebih independent, khususnya untuk sekolah-sekolah menengah atau collage, mereka harus sudah mulai dimotivasi untuk mandiri dan independent.
9. Seorang guru yang baik tidak percaya penuh terhadap evaluasi yang diberikan siswanya, karena evaluasi mereka terhadap gurunya bisa tidak objektif, walaupun pernyataan mereka itu penting sebagai informasi, Namun tidak sepenuhnya harus dijadikan patokan untuk mengukur kinerja keguruannya.
10. Seorang guru yang baik senantiasa mendengarkan terhadap pernyataan-pernyataan siswanya, yakni guru itu harus aspiratif mendengarkan dengan bijak permintaan-permintaan siswa-siswanya, kritik siswanya, serta berbagai saran yang mereka sampaikan.

Dengan demikian, kriteria yang disampaikan Peter ini lebih mengarah pada kriteria kerja seorang guru. Sementara Hunt lebih mengangkat kriteria yang komprehensif, seorang guru harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang akan diajarkan pada siswa-siswanya.
Merujuk teori-teori tersebut, maka untuk menjadi guru yang baik, seseorang guru harus memiliki berbagai kriteria atau sifat-sifat yang diperlukan untuk profesi keguruan yaitu :
1. Antusias.
2. Stimulatif
3. Mendorong siswa untuk maju
4. Hangat
5. Berorientasi pada tugas dan pekerja keras
6. Toleransi
7. Sopan
8. Bijaksana
9. Bisa dipercaya
10. Fleksibel
11. Mudah menyesuaikan diri
12. Demokratis
13. Penuh harapan bagi siswanya
14. Tidak semata mencari reputasi pribadi
15. Mampu mengatasi stereotipe siswa
16. Bertanggung jawab terhadap kegiatan belajar siswa
17. Mampu menyampaikan perasaannya, dan
18. Memiliki pendengaran yang baik.

D. BAGAIMANA MENDESAIN MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN

Apa ukuran yang bisa dipakai untuk melihat sebuah kelas itu efektif, apakah ukuran hasil belajar, atau ukuran proses belajar. Apakah ukuran kelas atau mengajar efektif itu adalah penguasaan siswa terhadap bahan-bahan ajar yang mereka pelajari ? Atau siswa merasa senang dalam proses belajar mereka ? Atau siswa merasa senang terhadap Sekolah ? Atau siswa menjadi taat terhadap berbagai aturan yang ada di masyarakat ? Atau mengajar itu menghasilkan semua yang diinginkan untuk tercapai ? Efektivitas mengajar, menurut Hunt terkait dengan penyelesaian dengan semua itu (Hunt, 1999 : 4). Mengajar itu efektif, jika pembelajar mengalami berbagai pengalaman baru dan perilakunya menjadi berubah menuju titik akumulasi kompetensi yang dikehendaki. Akan tetapi, idealitas tersebut tidak akan tercapai jika tidak melibatkan siswa dalam perencanaan dan proses pembelajaran. Mereka harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dan tidak ada yang tertinggal.
Menciptakan kelas efektif dengan peningkatan efektifitas proses pembelajaran tidak bisa dilakukan dengan parsial, tetapi harus holistik, yang dalam teori Hunts ada lima bagian penting dalam peningkatan efektivitas pembelajaran, (Hunts, 1999 : 21) yakni :
1. Perencanaan
2. Komunikasi
3. Pengajaran
4. Pengaturan dan
5. Evaluasi.

Namun Kenneth D. Moore, mengembangkannya menjadi tujuh langkah peningkatan pembelajaran efektif, (Moore, 2001 : 10) yakni :
1. Perencanaan
2. Perumusan berbagai tujuan
3. Pemaparan perencanaan pembelajaran pada siswa
4. Proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi
5. Penutupan proses pembelajaran dan
6. Evaluasi.

SIKLUS PERENCANAAN PEMBELAJARAN

1. GURU HARUS MAMPU MENDESAIN MANAJEMEN PEMBELAJARAN YANG BIJAK
Mengajar merupakan pekerjaaan akademis dan profesional. Namun anehnya, banyak para pengajar yang tidak mencerminkan kedua karakteristik pekerjaannya, mereka masuk kelas tanpa mempersiapkan Desain Manajemen dan desain program serta perencanaan sama sekali, karena dianggap bahwa mengajar merupakan pekerjaan rutin yang setiap hari dikerjakan dengan karakter murid yang setiap tahun sama, serta kurikulum dan bahan ajar yang sama pula. Dengan demikian para guru tersebut mengajar sesuai yang dia ingat, tanpa memperhatikan tingkat kompetensi anak saat dia akan memulai mengajar.
Dalam upaya meningkatkan efektivitas proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar terbaik sesuai harapan, manajemen pembelajaran merupakan sesuatu yang mutlak harus dipersiapkan setiap guru, setiap akan melaksanakan proses pembelajaran, walaupun belum tentu semua yang direncanakan akan dapat dilaksanakan, karena bisa terjasi kondisi kelas merefleksikan sebuah permintaan yang berbeda dari rencana yang sudah dipersiapkan, khususnya tentang strategi yang sifatnya opsional.
Untuk dapat membuat desain manajemen dan perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur manajemen pembelajaran yang baik, (Hunts, 1999: 24) antara lain :
a. kebutuhan-kebutuhan siswa
b. tujuan-tujuan yang akan dicapai
c. berbagai strategi yang relevan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dan
d. kriteria evaluasi
Bersamaan denga itu, peran guru dalam mengembangkan strategi amat penting, karena aktivitas siswa belajar sangat dipengaruhi oleh sikap dan perilaku guru dalam kelas. Jika mereka antusia, memperhatikan aktivitas dan kebutuhan-kebutuhan siswa, maka siswa-siswa tersebut pun akan mengembangkan aktivitas belajarnya dengan baik, antusias, giat dan serius.

a. Desain Manajemen Belajar Mengajar Untuk Mengapresiakan Keragaman
Bagian pertama yang benar-benar harus dianalisis oleh guru adalah kebutuhan siswa, karena daya serap dan kemampuan siswa dalam kelas itu berbeda-beda. Tidak mungkin 40 siswa memiliki interval indeks kemampuan yang memiliki rata-rata dalam interval yang sama. Bagaimana guru menyikapi keragaman tersebut, apakah siswa yang tertinggal akan dibiarkan dalam ketertinggalannya, dan dipaksa untuk bisa dan dipaksa pula untuk mengikuti irama belajar yang tingkat akselarasi pemahamannya tinggi. Tentu sikap tersebut tidak bijak, maka guru harus dengan naluri keguruannya mampu membuat perencanaan yang peduli terhadap berbagai perbedaan yang berkembang dikalangan siswanya. bagaimana guru mengembangkan perlakuan terhadap mereka yang memiliki kemampuan tinggi. Bagaimana mengembangkan perlakuan bagi mereka yang memiliki tingkat kemampuan rendah, atau dengan tingkat kemampuan rata-rata. Guru tidak boleh membiarkan satu pun siswanya tertinggal.
Dikalangan para ahli psikologi pendidikan memang terjadi perdebatan tentang kecerdasan setiap anak, karena sebahagian berpendapat bahwa kecerdasan itu natural dan diwariskan dari genetika orang tuanya, sementara yang lain berpendapat bahwa kecerdasan itu dibentuk lewat pembinaan dengan perbaikan nutrisi dan lingkungan serta pembiasaan pendidikan (Kauchak, 1998 : 28). Aliran kedua memberi harapan pada guru bahwa mereka bisaa meningkatkan kecerdasan siswa-siswanya dengan berbagai perlakuan pada mereka.
Dengan mengadaptasikan dari kesimpulan-kesimpulan T. Blair dalam bukunya berjudul Emerging Pattern Of Teaching, Hunt menyimpulkan beberapa karakteristik siswa berkemampuan tinggi (Hunts, 1999 : 26), yaitu :
1) Mampu menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat daripada teman-teman sekelasnya.
2) Memiliki latar belakang kemampuan yang luas.
3) Mampu menangkap berbagai pengalaman baru dengan akumulasi yang relatif besar.
4) Memiliki sejarah sukses akademik
5) Penuh percaya diri.
6) Selalu hendak terlibat dalam tim baru untuk mengembangkan pengalaman.
7) Bekerja baik sesuai kemampuannya.
8) Sering menjadi terbaik di kelasnya.
9) Senang menghadapi berbagai tantangan.
10) Sering berinteraksi dengan kelompoknya
11) Menyampaikan pertanyaan yang kritis dan mendalam.
12) Menerima tanggung jawab
13) Selalu cenderung untuk menyelesaikan tugas secara tuntas.
14) Selalu memiliki konsep diri yang positif
15) Sering beramah tamah dengan sesama.

Kemudian Hunts juga mengadaptasikan berbagai kesimpulan Blair tentang karakteristik anak-anak atau siswa-siswa berkemampuan rendah (Hunts, 1999: 28), yaitu :
1) Membutuhkan waktu lama untuk mempelajari sebuah konsep atau keterampilan.
2) Memiliki kesiapan minimal dalam menerima pelajaran baru.
3) Pada umumnya hanya memiliki beberapa pengalaman lampau yang terkait dengan informasi-informasi baru dari proses belajar yang baru.
4) Memiliki sejarah kegagalan.
5) Mereka biasanya merasa tidak yakin dengan dirinya.
6) Mereka sering ragu-ragu untuk terlibat dalam situasi belajar yang baru.
7) Mereka juga cenderung untuk tidak bekerja baik dalam kelompok.
8) Mereka juga sering kesulitan untuk dimotivasi.
9) Mereka sering sukses dalam pekerjaan-pekerjaan konkret, tapi tidak dalam hal abstrak.
10) Mereka seringkali membutuhkan penjelasan visual dan aktif.
11) Mereka cenderung untuk tidak bisa bekerja independent dan harus selalu memperoleh perhatian, bimbingan dan pengawasan
12) Mereka sering kali memiliki ketergantungan yang kuat pada gurunya, dan juga pada teman-temannya dalam menyelesaikan masalah.
13) Mereka juga jarang menyampaikan pertanyaan mendalam.
14) Mudah menyerah dalam menghadapi masalah.
15) Mereka juga sering kurang memiliki konsep diri.

Berbagai strategi dapat dikembangkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dalam rangka meningkatkan hasil, dengan pendekatan pendidikan yang sangat mempertimbangkan multikultur (Moore, 2001: 46), yaitu :
1) Siswa harus diberi kepercayaan
2) Hargai latar belakang kultur mereka.
3) Tingkatkan partisipasi keluarga.
4) Bantu siswa-siswa dalam mengembangkan skill sosialnya.
5) Gunakan strategi pembelajaran interaktif.
6) Ajarlah mereka dengan adil dan penuh perhatian.
7) Pahami siswa-siswa anda.
8) Buang sikap anti toleransi.
9) Refleksikan kultur anda sendiri.
10) Bacalah literatur-literatur multikultur.
11) Sampaikanlah pertannyaan-pertannyaan yang berkualitas tinggi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
12) Sediakanlah peluang akses yang sama bagi semua siswa.
13) Kurangi sikap prejudice (prasangka) dan pahami hak-hak mereka.
14) Tentukan teks yang dibutuhkan.

b. Desaian Manajemen Belajar Mengajar Dalam Merumuskan Tujuan atau
Kompetensi
Pendidikan selalu berakhir dengan kompetensi, yakni kecakapan atau kemampuan, yang sampai kini teori peng-ukuran kecakapan asih berbasis pada taksonomi Bloom yang diintrodusir oleh Benjamin S.Bloom, yakni kecakapan kognitif, afektif dan psikomotorik. Namun sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan tentang mengajar dan belajar, bahwa kecakapan siswa tidak cukup hanya dalam indikator-indikator yang dikembangkan dari teori Bloom tersebut.
Penelitian pendidikan terkini menghendaki dikembangkannya berbagai kecakapan seperti berpikir kritis, dan berpikir kreatif, yang mungkin berkorespondensi dengan teori pengembangan multiple intelligence. Kemudian dalam kurikulum berbasis kompetensi yang berkembang dalam wacana akademik, bahwa struktur kurikulum tersebut dimulai dengan perumusan berbagai kompetensi lulusan, yang diikuti kemudian dengan kompetensi dari masing-masing mata pelajaran.
Desain Manajemen Belajar Mengajar dan Perencanaan pembelajaran meliputi rumusan tentang apa yang akan anda ajarkan pada siswa, dan bagaimana anda mengajarkan pada siswa, dan seberapa baik siswa dapat menyerap semua bahan ajar ketika mereka sudah menyelesaikan prose pembelajaran (Hunts, 1999: 33).
Manajemen belajar dan mengajar dan Perencanaan tersebut amat penting bagi guru, karena kalau tidak ada perencanaan, tidak hanya siswa yang akan tidak terarah dalam proses belajarnya tapi guru juga tidak akan terkontrol, dan bisa salah arah dalam proses belajar yang dikembangkannya pada siswa. Tentu saja, perencanaan itu tidak menjamin terciptanya kelas efektif, namun untuk menciptakan kelas efektif harus dimulai dengan Desain manajamen belajar mengajar atau perencanaan, dan itu mutlak.
Dengan mengadaptasi model dari Kenneth D.Moore (Moore, 2001 : 126), maka komposisi format rencana pembelajaran adalah sebagai berikut :
1) Topik bahasan
2) Tujuan Pembelajaran (Kompetensi dan Indikator Kompetensi).
3) Materi Pelajaran
4) Kegiatan Pembelajaran
5) Alat-alat yang dibutuhkan
6) Evaluasi hasil belajar.

c. Menyusun Desain Manajemen Rencana Implementasi Pembelajaran
Dalam Kelas.
Perencanaan pembelajaran yang baik tidak menjadi jaminan akan mampu menciptakan kelas atau pembelajaran yang efektif, karena sangat tergantung pada berbagai variabel yang akan berkontribusi terhadap pelaksanaan Manajemen belajar mengajar dan perencanaan tersebut secara efektif. Namun pembelajaran yang baik atau yang efektif tidak akan pernah terwujud tanpa sebuah manajemen pembelajaran dan perencanaan yang baik. Model perencanaan diatas, baru sampai perumusan indikator-indikator kompetensi yang bisa dijangkau dengan proses pembelajaran materi tertentu dengan strategi tertentu, serta dukungan alat dan lingkungan tertentu. Namun Manajemen pembelajaran dan perencanaan tersebut belum menjangkau bagaimana operasional selama 90 menit bersama siswa, apa dulu yang akan dikerjakan guru dihadapan siswa-siswanya itu, apa yang akan mereka kerjakan dalam lima menit pertama, kemudian lima menit berikutnya, dan seterusnya, sampai mereka menghabiskan waktu 90 menit, dan telah membuat banyak perubahan pada perilaku siswa.
Untuk prosedur pembelajaran dikembangkan dengan menggunakan teori tersebut, maka proses pembelajaran dalam lima menit pertama dimulai dengan review, yakni mencoba mengukur kesiapan siswa untuk mempelajari bahan-bahan ajar hari itu dengan melihat pengalaman pengetahuan sebelumnya yang sudah mereka miliki dan diperlukan sebagai prerequsite untuk memahami bahan-bahan hari itu.
Guru bisa menyampaikan beberapa pertannyaan pokok mengenai basis pengetahuan siswa tersebut, dan bisa mengukur kesiapan kelas untuk memasuki materi baru. Review hanya akan mengambil waktu antara 1 sampai 5 menit. Kegiatan review ini diperlukan karena tiga argumentasi, (Hunts, 1999: 48), yaitu :
1) Guru bisa memulai pelajaran jika perhatian dan motivasi siswa untuk mempelajari bahan baru itu sudah mulai tumbuh.
2) Guru juga memulai pelajaran jika interaksi antara guru dengan siswa sudah terbentuk.
3) Guru bisa memulai pelajaran baru jika siswa sudah memahami koneksi bahan ajar sebelumnya yang menjadi prerequisite dengan bahan ajar baru yang dipelajari hari itu.

Model perencanaan prosedur pembelajaran yang ditawarkan Hunts memuat aspek-aspek sebagai berikut (Hunts, 1999: 51) :
Pokok Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Tujuan Umum (dalam model terakhir, Kompetensi),
Tujuan Khusus, (Indikator Kompetensi)
Prosedur dan materi :
1. Review, melakukan diskusi singkat tentang pelajaran lalu dan hubungannya dengan yang akan dipelajari hari itu.
2. Overview, menjelaskan outline bahan-bahan ajar hari itu untuk didiskusikan.
3. Presentation, menjelaskan inti pelajaran hari itu dengan telling, showing, dan doing.
4. Exercise, yakni memberikan kesempatan pada siswa untuk melatihkan apa yang telah merek pahami dalam proses pembelajaran.
5. Summary, terakhir merumuskan summary.

2. GURU HARUS MAMPU BERKOMUNIKASI SECARA EFEKTIF DENGAN SISWA-SISWANYA
Guru adalah seorang komunikator, karena dia akan menyampaikan rencana-rencana pembelajarannya pada siswa, kemudian dia juga akan mengatur siswa dalam kelasnya dari awal dia masuk kelas sampai mengakhiri kelas, dan dia juga akan menjelaskan berbagai bahan ajar pada siswa, bahkan harus menjelaskan berbagai bahan ajar yang belum dipahami siswa dengan baik. Guru juga akan menjelaskan berbagai perbaikan dari tugas-tugas siswa, menjelaskan berbagai aktivitas belajar besok, dan yang akan datang.
Dalam konteks apapun tugas guru membutuhkan kemampuan komunikasi dengan baik, termasuk mengkomunikasikan program-program kelasnya terhadap komite sekolah, atau orang tua siswa. Oleh sebab itu, guru harus mengetahui teori-teori komunikasi efektif, karena tidak akan terlalu bermanfaat ilmu yang dikuasai guru dengan baik, kalu dia tidak mampu mengkomunikasikannya pad siswa secara baik, yakni enak untuk diikuti dan mudah untuk difahami. Demikian juga, tidak terlalu bermanfaat kretivitas guru dalam meningkatkan proses pembelajaran siswa, kalau tidak bisa dipahami oleh orang tua siswa.
Komunikasi adalah sebuah proses yang terus berkembang karena bukan sesuatu pekerjaan yang terisolasi dari kejadian-kejadian, padahal kejadian itu terus berubah mengikuti perubahan-perubahan yang dilakukan manusia sendiri. Dalam teori yang amat tradisional, menurut Hunts, dikemukakan bahwa unsur-unsur pokok dari komunikasi adalah pesan, sasaran komunikasi, sumber dan media (Hunts, 1999: 62). Dalam konteks komunikasi kelas, pesan adalah bahan ajar yang akan disampaikan, instruksi-instruksi untuk pelaksanaan proses pembelajaran, tugas-tugas dan rencana-rencana kegiatan lainnya. Sedangkan sasaran komunikasi adalah siswa, sumber adalah guru pesan adalah guru, sedangkan media komunikasi adalah bahasa atau simbol lain yang digunakan untuk mencapaikan pesan.

ALUR KOMUNIKASI KELAS

Komunikasi guru pada siswa ada dua macam, yaitu :
1. komunikasi verbal : Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan kata, baik diucapkan maupun ditulis. Ada empat kosakata yang berkaitan dengan bahasa verval yaitu, membaca, mendengar, menulis, dan mengucapkan (Hunts, 1999:64). Keempat bentuk komunikasi tersebut menggunakan media kata.
2. komunikasi non verbal, yakni komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata, tidak bisa didengar dan juga tidak bisa dibaca dalam uraian kata-kata tertulis. Komunikasi non-verbal hanya bisa dipahami dari berbagai isyarat gerakan anggota tubuh yang mengekspresikan sebuah pesan.

E. GURU HARUS MENGEMBANGKAN STRATEGI PENYUSUNAN DESAIN
MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

Selain harus diawali dengan desain manajemen pembelajaran dan perencanaan yang bijak, serta didukung dengan kemampuan komunikasi yang baik, pembelajaran efektif juga harus didukung dengan pengembangan strategi yang mampu membelajarkan siswa, dalam dalam belajar sistem penyampaian dan perintah, tidak semua siswa bisa terlibat dalam proses pengajaran tersebut, bahkan bisa terjadi mereka berada dalam kelas tapi pikirannya sedang bekerja diluar kelas, karena yang bekerja didalam tersebut adalah guru. Guru tidak bisa mengontrol intensitas siswa dalam menyerap bahan-bahan ajar tersebut. Untuk itulah, maka guru sebaiknya terus mengubah dan mengembangkan strategi agar mampu membuat siswa-siswa belajar.
Mosston mengatakan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan pengajaran dengan cara komunikasi verbal monologis tersebut adalah sebagai berikut (Mosston, 1972: 63) :
1. Alasan psikologis bahwa bisa terjadi ada sebagian siswa yang tidak bisa mendengar dan menangkap yang disampaikan guru dengan baik, dan ada pula sebagian siswa yang memiliki keterbatasan untuk memahami penjelasan-penjelasan guru, dan ada pula yang tidak mampu mencerna berbagai penjelasan guru dalam waktu yang terlalu lama.
2. Alasan emosional, bahwa diantara siswa ada yang memiliki keterbatasan dalam partisipasi belajar karena bentuk penyampaiannya, baik karena mereka dalam suasana marah, rasa malu karena dipermalukan guru, rasa tidak percaya pada gurunya, rasa takut atau rasa tidak senang dengan guru yang menyampaikan pelajarannya sendiri.
3. Alasan kultural, yakni bahwa diantara siswa ada yang memiliki kendala kultural dalam proses komunikasi, seperti kelemahan memahami berbagai petunjuk, atau kelemahan memahami simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi.
4. Alasan personal, yakni bia terjadi ada siswa yang secara personal memang benar-benar tidak tertarik untuk mendengarkan penyampaian bahan ajar dari gurunya itu, walaupun banyak diantara mereka yang menyukainya.

Collaborative learning adalah proses pembelajaran yang dilakukan bersama-sama antara guru dengan siswanya. Guru pada hakikatnya adalah pembelajar yang senior yang harus mentransformasikan pengalaman belajarnya pada pembelajar junior. Guru harus membantu berbagai kesulitan yang dihadapi oleh para pembelajar junior. Demikian pula antara siswa dengan siswa lainnya.
Dalam kontek ini peer teaching, atau toturial sebaya menjadi bagian penting, ang keuntungan tidak semata untuk yang diajari tapi juga untuk yang mengajari, karena siswa yang mengajari temannya akan semakin matang penguasaannya, sementara siswa yang diajari akan memperoleh bantuan teman sebayanya dalam proses pemahaman bahan ajar yang mereka pelajari. Inilah hakikat dari collaborative learning, yakni belajar yang saling membantu antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa.
Sementara itu, Jerry Aldridge dan Renitta Goldman merekomendasikan, bahwa untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran untuk peningkatan hasil belajar, seorang guru harus mengembangkan berbagai perlakuan sebagai berikut (Aldridge, 2002: 93) :
1. Guru harus mampu menciptakan situasi kelas yang tenang, bersih, tidak stress, dan sangat mendukung untuk pelaksanaan proses pembelajaran.
2. Guru harus menyediakan peluang bagi para siswa untuk mengakses seluruh bahan dan sumber informasi untuk belajar.
3. Gunakan model cooperative learning (belajar secara kooperatif yang tidak hanya belajar bersama, namun saling membantu satu sama lain) melalui diskusi dalam kelompok-kelompok kecil, debat atau bermain peran.
4. Hubungkan informasi baru pada sesuatu yang sudah diketahui oleh siswa, sehinga mudah untuk mereka pahami.
5. Dorong siswa untu mengerjakan tugas-tugas penulisan makalahnya dengan melakukan kajian dan penulusuran pada hal-hal baru dan dalam kajian yang mendalam.
6. Guru juga harus memiliki catatan-catatan kemajuan dari semua proses pembelajaran siswa, termasuk tugas-tugas individual dan kelompok mereka dalam bentuk portofolio.

Sedangkan strategi pembelajaran yang ditawarkannya adalah cooperatif learning, yang menurut Kauchak lebih efentif daripada grouwoork (Kauchak, 1988: 234). Groupwork adalah sebuah proses pembelajaran yang memberi kesempatan pada semua siswa untuk terlibat dalam kelompoknya dalam melaksanakan tugas yang diberikan guru. Untuk itu guru harus merencanakan proses pembelajaran ini dengan seksama, karena kalau tidak dia akan kehilangan banyak waktu untuk proses diluar pembelajaran. Kemudia guru juga harus (Kauchak, 1988: 196) :
1. Memberi tahu pada siswa tentang tugas siswa secara kelompok, dan mobilitas siswa dalam kelompok.
2. Mempersiapkan siswa sampai mereka siap semuanya untuk melakukan proses pembelajaran dengan pelaksanaan tugas kelompoknya.
3. Masing-masing siswa memiliki penjabaran tugas yang jelas dalam kelompoknya.
4. Bea siswa batas waktu yang jelas dan tegas untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.
5. Perintahkan siswa untuk masing-masing menyelesaikan tugasnya serta semua menyelesaikan tugas kelompoknya.

Strategi kerja kelompok ini merupakan salah satu dari bentuk implikasi aliran constructivisme yang menekankan pembelajaran interaktif, dan bisa dikembangkan dalam beberapa bentuk groupwork, yakni kerja kelompok yang masing-masing anggota memiliki tugas dalam kelompoknya, dan mereka saling memeriksa pekerjaan temannya.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Secara umum guru itu harus memenuhi dua kategori yang memiliki capability dan loyality, yakni guru itu harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai perencanaan, implementasi sampai evaluasi, dan memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal terhadap tugas-tugas keguruan yang tidak semata di dalam kelas, tapi sebelum dan sesudah kelas. Gilbert H. Hunt dalam bukunya Effective Teching menyatakan bahwa guru yang baik itu harus memenuhi tujuh kriteria, yaitu :
1. Sifat ; guru yang baik harus memiliki sifat-sifat antusias, stimulatif, mendorong siswa untuk maju, hangat, berorientasi pada tugas dan pekerja keras, toleran, sopan dan bijaksana, bisa dipercaya, fleksibel dan mudah menyesuaikan diri, demokratis, penuh harapan bagi siswa, tidak semata mencari reputasi pribadi, mampu mengatasi stereotipe siswa, bertanggung jawab terhadap kegiatan relajar siswa, mampu menyampaikan perasaannya dan memiliki pendengaran yang baik.
2. Pengetahuan ; guru yang baik juga memiliki pengetahuan yang memadai dalam mata pelajaran yang diampunya, dan terus mengikuti kemajuan dalam bidang ilmunya.
3. Apa yang disampaikan ; guru yang baik juga mampu memberikan jaminan bahwa materi yang disampaikannya mencakup semua unit bahasan yang diharapkan siswa secara maksimal.
4. Bagaimana Mengajar ; guru yang baik mampu menjelaskan berbagai informasi secara jelas, dan terang, memberikan layanan yang variatif, menciptakan dan memelihara momentum, menggunakan kelompok kecil secara efektif, mendorong semua siswa untuk berpartisipasi, memonitor dan bahkan sering mendatangi siswa, memonitor tempat duduk siswa, senantiasa melakukan formatif test dan post test, melibatkan siswa dalam toturial atau pengajaran sebaya, menggunakan kelompok besar untuk pengajaran instructional., menunjukkan pada siswa tentang pentingnya bahan-bahan yang mereka pelajari, menunjukkan proses berpikir yang penting untuk relajar, berpartisipasi dan mampu memberikan perbaikan terhadap kesalahan konsepsi yang dilakukan siswa.
5. Harapan ; Guru yang baik mampu memberikan harapan pada siswa, mampu membuat siswa akuntabel, dan mendorong partisipasi orang tua dalam memajukan kemampuan akademik siswanya.
6. Reaksi Guru Terhadap Siswa ; Guru yang baik biasa menerima berbagai masukan, risiko, dan tantangan, selalu memberikan dukungan pada siswanya, consisten dalam kesepakatan-kesepakatan dengan siswa, bijaksana terhadap kritik siswa, menyesuaikan diri dengan kemajuan-kemajuan siswa, pengajaran yang memperhatikan individu, mampu memberikan jaminan atas kesetaraan partisipasi siswa, mampu menyediakan waktu yang pantas untuk siswa bertanya, cepat dalam memberikan feed back bagi siswa dalam membantu mereka relajar.
7. Management ; Guru yang baik juga harus mampu menunjukkan keahlian dalam perencanaan, memiliki kemampuan mengorganisasi kelas Sejas hari pertama dia bertugas, cepat memulai kelas, melewati masa transisi dengan baik, memiliki kemampuan dalam mengatasai dua atau lebih aktivitas kelas dalam satu waktu yang sama, memelihara waktu bekerja serta menggunakannya secara efisien dan consisten, meminimalisasi gangguan, dapat menerima suasana kelas yang ribut dengan kegiatan pembelajaran, memiliki teknik untuk mengontrol kelas, memberikan hukuman dengan bentuk yang paling ringan, dapat memelihara suasana tenang dalam relajar, dan tetap dapat menjaga siswa untuk tetap relajar menuju sukses.
Dalam upaya meningkatkan efektivitas proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar terbaik sesuai harapan, manajemen pembelajaran merupakan sesuatu yang mutlak harus dipersiapkan setiap guru, setiap akan melaksanakan proses pembelajaran, walaupun belum tentu semua yang direncanakan akan dapat dilaksanakan, karena bisa terjasi kondisi kelas merefleksikan sebuah permintaan yang berbeda dari rencana yang sudah dipersiapkan, khususnya tentang strategi yang sifatnya opsional.
Untuk dapat membuat desain manajemen pembelajaran dan perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur manajemen pembelajaran yang baik, antara lain :
a. kebutuhan-kebutuhan siswa
b. tujuan-tujuan yang akan dicapai
c. berbagai strategi yang relevan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dan
d. kriteria evaluasi
Perencanaan pembelajaran meliputi rumusan tentang apa yang akan anda ajarkan pada siswa, dan bagaimana anda mengajarkan pada siswa, dan seberapa baik siswa dapat menyerap semua bahan ajar ketika mereka sudah menyelesaikan prose pembelajaran .
Desain manajemen pembelajaran dan perencanaan tersebut amat penting bagi guru, karena kalau tidak ada perencanaan, tidak hanya siswa yang akan tidak terarah dalam proses belajarnya tapi guru juga tidak akan terkontrol, dan bisa salah arah dalam proses belajar yang dikembangkannya pada siswa. Tentu saja, perencanaan itu tidak menjamin terciptanya kelas efektif, namun untuk menciptakan kelas efektif harus dimulai dengan perencanaan, dan itu mutlak.
Selain harus diawali dengan manajemen pembelajaran dan perencanaan yang bijak, serta didukung dengan kemampuan komunikasi yang baik, pembelajaran efektif juga harus didukung dengan pengembangan strategi yang mampu membelajarkan siswa, dalam dalam belajar sistem penyampaian dan perintah, tidak semua siswa bisa terlibat dalam proses pengajaran tersebut, bahkan bisa terjadi mereka berada dalam kelas tapi pikirannya sedang bekerja diluar kelas, karena yang bekerja didalam tersebut adalah guru. Guru tidak bisa mengontrol intensitas siswa dalam menyerap bahan-bahan ajar tersebut. Untuk itulah, maka guru sebaiknya terus mengubah dan mengembangkan strategi agar mampu membuat siswa-siswa belajar.

B. REKOMENDASI
1. Desain Manajemen Belajar Mengajar yang kompetitif dan enovatif merupakan paradigma baru sistem pembelajaran, merupakan sistem yang efektif dalam rangka memberdayakan dan menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas dan bermutu, berdaya saing tinggi
2. Desain Manajemen Belajar Mengajar merupakan suatu keharusan bagi guru dan pengajar dalam rangka menciptakan pendidikan berkualitas global secara khusus kepada lembaga pendidikan untuk berpacu dalam mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki, karena hanya dengan konsep pendidikan global secara khusus inilah, sebuah lembaga akan dapat mengembangkan mutu dan kualitas pendidikannya sesuai dengan kekuatan yang dimiliki dalam rangka menciptakan pendidikan kompetitif dan enovatif.
3. Kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh guru dalam mendesain manajemen belajar mengajar, akan menjadi motivasi dan tanggungjawab dalam memberdayakan dan meningkatkan mutu pendidikan, dimana sistem manajemen belajar mengajar yang dilaksanakan ini akan menjadi modal yang sangat penting. Dalam mendorong lahirnya sistem pendidikan yang betul-betul mempunyai kualifikasi dan sertifikasi pendidikan yang berkualitas dan bermutu.
4. Standarisasi Pembelajaran dalam kontek desain manajemen belajar mengajar yang dikembangkan hendaknya yang mengacu kepada sistem dan bentuk pendidikan nasional, sesuai dengan kaidah dan ketentuan yang diatur dalam standar nasional pendidikan, dengan memperhatikan aspek penting nilai-nilai dan etika serta budaya masyarakat timur, menjunjung keberadaan moral dan akhlak dalam pelaksanaanya, serta selalu berorientasi kepada tuntutan dan kebutuhan nasional dan internasional.
5. Dengan standar proses manajemen belajar mengajar ini diharapkan peran dan tanggung jawab guru dan pengajar serta seluruh komponen dalam lembaga pendidikan lebih besar dan lebih maksimal dalam memberikan fasilitas dan layanan terhadap pencapaian tujuan pembelajaran, baik imprastruktur, maupun suprastruktur, material maupun immaterial, mengingat pendelegasian kewenangan dan pelimbahan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan dalam rangka mencapai pendidikan yang berstandar global dan internasional, memerlukan tanggung jawab yang besar, baik material maupun immaterial.

Daftar Pustaka

Bahri Djamarah, Syaiful. Dan Zain, Aswan. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :
PT. Rineka Cipta

Bahri Djamara, Syaiful. 1997. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta :
PT. Rineka Cipta

Dirjen Pendais. 2006. Undang Undang dan Peraturan Pemerintah RI Tentang Pendidikan.
Jakarta : Departemen Agama RI.

Fadjar, Malik. 1999. Platform Reformasi Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia. Jakarta : Logos Wacana Ilmu

Hasan, Tholchah. 2000. Diskursus Islam dan Pendidikan, Sebuah Wacana Kritis. Jakarta : Bina Wiraswasta Insan Indonesia.

Kosasi, Raflis dan Soetjipto. 1999. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta.

Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep, Strategi dan Implementasi.
Bandung : Remaja Rosda Karya.

Mulyasa, E. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung : Remaja Rosda
Karya.

Uzer Usman, Moh. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Rahim, Husni. 2001. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : Logos Wacana
Ilmu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: