Oleh: H. Ahmad Subehan, Lc, S.Pd.I | 20 Desember 2008

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN ( BELAJAR MENGAJAR )

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN ( BELAJAR MENGAJAR )
Oleh :
H. KHAIRAN ALI
BAB I
PENDAHULUAN
Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa. Pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) adalah pembelajaran dimana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai.
Ada tiga komponen utama pembelajaran yang saling berinteraksi satu dengan yang lain, yaitu peserta didik, pendidik, dan kurikulum. Oleh karena itu mutu proses belajar mengajar, atau mutu interaksi edukatif yang terjadi di ruang kelas, menjadi faktor yang amat berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Efektivitas proses belajar-mengajar dipengaruhi oleh: (1) lama waktu belajar, (2) metode mengajar yang digunakan, (3) penilaian, umpan balik, bentuk penghargaan bagi peserta didik, dan (4) jumlah peserta didik dalam satu kelas rombongan belajar dengan tidak lebih dari 32 orang. .
Proses belajar mengajar di ruang kelas kita sangat kering dari penggunaan teknik penguatan (reinforcement), kering dari penggunaan media dan alat peraga yang menyenangkan. Dampaknya, dapat diterka, yaitu hasil belajar yang belum memenuhi standar mutu yang ditentukan. Sentral permasalahan lemahnya proses belajar mengajar di dalam kelas ini, yakni kualifikasi dan kompetensi guru dan masalah kesejahteraannya.
Menurut Djahiri (2002) dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah adanya proses keterlibatan seluruh atau sebagaian besar potensi diri siswa ( fisik dan nonfisik ) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan dimasa yang akan datang ( life skill ).
Adapun tujuan pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) adalah memperkenalkan kehidupan kepada peserta didik sesuai dengan konsep yang dicanangkan oleh UNESCO, yakni learning to know ( belajar mengetahui, learning to do ( belajar melakukan ), learning to be ( belajar menjadi diri sendiri ), dan learning to live together ( belajar hidup dalam kebersamaan, kemudian menumbuhkan kesadaran siswa tentang pentingnya belajar dalam kehidupan yang harus direncanakan dan dikelola dengan sistematis, memberikan kemudahan belajar kepada siswa agar mereka dapat belajar dengan tenang dan menyenangkan, serta menumbuhkan proses pembelajaran yang kondusif bagi tumbuh kembangnya potensi siswa melalui penanaman berbagai kompetensi dasar ( E. Mulyasa, 2005 ; 89)
Pembelajaran juga perlu memperhatikan hal-hal seperti ; pertama pembelajaran lebih menekankan pada praktik, baik di laboraturium maupun dimasyarakat dan dunia kerja ( dunia usaha ). Oleh karena itu guru harus memilih strategi dan metode pembelajaran yang memungkinkan adanya praktik.. Kedua, pembelajaran harus dapat menjalin hubungan sekolah dengan masyarakat. Oleh karena itu guru harus mampu belihat berbagai potensi masyarakat yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar, dan menjadi penghubung antara sekolah dengan lingkungan. Ketiga, perlu dikembangkan iklim pembelajaran yang demokratis dan terbuka melalui pembelajaran terpadu, partisipatif, dan sejenisnya. Keempat, pembelajaran lebih menekankan pada hal-hal yang aktual yang ada kaitannya dengan kehidupan di masyarakat. Kelima, perlu dikembangkan model pembelajaran moving class, untuk setiap bidang studi, dan kelas merupakan laboratorium untuk masing-masing bidang studi sehingga dalam satu kelas dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sumber belajar yang diperlukan dalam pembelajaran serta siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan kemampuan ( E. Mulyasa, 2005 : 97 ).
Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan serta kebermaknaan dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan, untuk itu guru harus dituntut adanya kreatifitas dalam mengkondisikan lingkungan pembelajaran yang melibatkan siswa baik secara fisik maupun mental, sehingga diperlukan adanya persiapan yang matang dan pelaksanaan yang optimal dalam pembelajaran.
Kemudian juga dalam pelaksanaan pembelajaran yang efektif harus memperhatikan terhadap prinsip-prinsip pembelajaran, pendekatan dan peranan yang digunakan guru dalam pembelajaran, ketepatan dalam penggunaan keterampilan mengajar dapat memciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang efektif dan lain-lainya.

BAB II

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN ( BELAJAR MENGAJAR )

A. Belajar dan Permasalahannya

1. Pengertian Belajar
Beberapa pengertyian belajar menurut para ahli adalah sebagai berikut :
Gagne belajar adalah proses dimana suatu organisme berubah berdasarkan perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Drs Muhaimin, MA menyebutkan pengertian belajar, sbb. :
a. Dalam belajar ada tingkah laku yang timbul atau berubah baik tingkah laku jasmaniah atau rohaniah
b. Perubahan itu terjadi karena pengalaman ( menghadapi situasi baru ) dan latihan
c. Perubahan tingkah laku yang bukan karen latihan(pendidikan)tidak digolongkan belajar. Misalnya tingkah laku yang berubah karena mabuk, karena pengaruh hipnotis, dll.
d. Belajar menyangkut perubahan dalam suatu organisme sebagai hasil pengalaman, hal ini berarti bahwa belajar membutuhkan waktu.
Dalam pengertian lain belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku yang relatif menetap pada diri seseorang. ( tingkah laku yang dikehendaki adalah kognitif, affektif dan psikomotor ) dan pembelajaran merupakan interaksi antara peserta didik dengan lingkungan

2. Prinsip – Prinsip Belajar
Sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pengembangan kebiasaan belajar perlu dikembangkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip konstruktivisme. Artinya, kerangka makro pengembangan kebiasaan belajar harus dapat mampu memberikan peluang-peluang bagi pengembangan diri siswa. Prinsip-prinsip itu antara lain meliputi: pemusatan belajar pada kebutuhan siswa, pembangkitan motivasi siswa, pembiasaan belajar sepanjang hayat, pengintegrasian kompetensi, dan pemeliharaan fitrah beragama. Kelima prinsip tadi diuraikan sebagai berikut :
Pertama, pemusatan belajar pada kebutuhan siswa. Konsep ini bersumber dari filosofi belajar mengajar yang liberasionis-konstruktivis murni sebagai counter balance terhadap kecenderungan pendidikan yang terlalu berorientasi pada isi. Seperti halnya yang terjadi selama ini, guru cukup disibukan dengan sejumlah perencanaan pembelajaran, sementara kebutuhan belajar siswa kurang diperhatikan. Oleh karena itu, pengembangan masyarakat belajar yang memposisikan siswa sebagai subjek pembelajaran atau kreator aktif dalam kegiatan pembelajaran merupakan hal terpenting dalam pengembangan prinsip ini. Wahyudin (2001) memandang bahwa kebermaknaan kegiatan belajar mengajar terletak pada keinginan pihak guru untuk mengutamakan kebutuhan siswa, sekaligus menjalin interaksi komunikatif bermakna antara guru dengan siswa, atau antara siswa dengan siswa lainnya.
Kedua, pembangkitan motivasi siswa. Motivasi merupakan bagian terpenting lainnya dari keberhasilan belajar. Kecenderungan saat ini, motivasi siswa dalam belajar di negara kita masih rendah. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa minat baca, minat menulis, dan minat berkarya siswa kita masih rendah. Hal itu, pada gilirannya dapat berakibat pada rendahnya mutu pendidikan. Sebagai misal, jika dibandingkan dengan negara tetangga, SDM kita hanya mampu menempati urutan ke 107 dari 174 negara. Demikian pula, kemampuan matematika SLTP kita berada pada urutan 34 dari 38 negara (UNDP). Karena itu, yang terpenting untuk dilakukan – meminjam istilah McClelland — adalah menyebarkan virus n-Ach, sebagai salah satu upaya untuk membangkitkan motivasi belajar siswa.
Ketiga, pembiasaan belajar sepanjang hayat. Dalam beberapa kasus, munculnya fenomena Full Day School (FDS) itu muncul lebih dikarenakan oleh semangat belajar anak didik kita yang masih rendah dan masih sangat menggantungkan diri pada instruksi guru. Selain itu, sistem pembelajaran yang instruktif yang memaksa siswa untuk mempelajari yang tidak mereka sukai sering terjadi dalam ruangan kelas. Menurut Spier (1994), kebanyakan proses pembelajaran di negara berkembang yang sistem pendidikannya tidak liberal, atau bahkan sosialis, pembelajaran banyak berlangsung pada kuadran I dan II dimana telah terjadi pembonsaian kemampuan siswa. Untuk itu, perlu dikembangkan masyarakat belajar yang dapat memfasilitasi siswa untuk belajar bergerak, mendengar, melihat, berpikir, dan merasa (lihat konsep SAVI dari Meier, 2000).
Keempat, pengintegrasian kompetensi. Istilah kompetensi diartikan sebagai pemilikan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Dalam prosesnya, antara kompetensi yang satu dengan yang lainnya harus berlangsung dalam proses pengembangan masyarakat belajar yang terintegrasi dan menyeluruh. Cara ini hanya dapat dilakukan andaikata masyarakat memberikan peluang-peluang kepada siswa untuk bereksplorasi terhadap pengalamannya yang didukung oleh latar pendidikan yang kondusif. Sebagai misal, ketika anak dibimbing untuk mencapai kompetensi-kompetensi tertentu dalam belajar menghargai orangtua, mereka dapat dimintai pengalamannya tentang perilaku mereka di rumah. Daftar perilaku itu diseleksi dan dipilih untuk dibuat skenario tindakan pembelajaran melalui model pembelajaran bermain peran.
Kelima, pemeliharaan dan pengembangan fitrah beragama. Sebagai kecenderungan potensial untuk bertauhid, fitrah beragama siswa harus dipelihara dan dikembangkan. Masyarakat belajar dibangun dengan melibatkan kesadaran kebertuhanan secara intensif diyakini akan mampu melahirkan generasi ‘aliman, sholihan, dan mujahidan. Namun sebaliknya jika pengembangan masyarakat belajar mengabaikan prinsip pengembangan fitrah, diyakini hanya akan menghasilkan generasi yang kering moralitas beragamanya. Karena itu, yang perlu dikembangkan adalah bagaimana pembentukan aqidah dan akhlak siswa melalui pemodelan dan pembiasaan sehingga wilayah hati (al-qalb) dapat benar-benar tercerahkan.

3. Belajar dan Pengembangannya
Konsep kebiasaan belajar (Learning Community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu dan belum tahu. Diruang ini, di kelas ini, disekitar sini, juga orang orang yang ada di luar sana, semua adalah anggota masyarakat belajar.
Dalam proses pembelajaran, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang angotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberitahu yag belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang “ahli” ke kelas. Misalnya tukang sablon, petani jagung, peternak susu. Teknisi komputer, tukang cat mobil, tukang raparasai kunci, dan sebagainya.
“Masyarakat belajar” bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. “seorang guru yang mengajari siswanya” bukan contoh masyarakat belajar, karena komunikasi yang terjadi hanya satu arah, yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.
Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalanman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari.
Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya akan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik “learning community” ini sangat membantu proses pembelajaran. Prakteknya dalam pembelajaran di kelas terwujud dalam :
• Pembentukan kelompok kecil
• Pembentukan kelompok besar
• Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, pearawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu, dan sebagainya).
• Bekerja dengan kelas sederajat
• Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
• Bekerja dengan masyarakat.
Selanjutnya,Apa yang dimaksud dengan strategi pengembangan kebiasaan belajar sesungguhnya lebih menekankan pada upaya untuk merancang sumber-sumber belajar yang berbasiskan pada masyarakat. Dengan sumber-sumber belajar tersebut, siswa akan mampu memberdayakan dirinya melalui kegiatan belajar. Secara filosofis, pemahaman ini dibangun atas dasar asumsi bahwa knowledge is constructed by human (Zahorik, 1995). Atas dasar itu, maka pengembangan masyarakat belajar dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran konstruktivis yang membuka peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk memberdayakan dirinya. Karena, cara belajar yang terbaik adalah siswa mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Karena itu kebiasaan guru “akting di panggung dan siswa menonton” harus dirubah menjadi “siswa aktif bekerja dan belajar di panggung, sedangkan guru dan sumber-sumber belajar lainnya membimbing dan memfasilitasi kebutuhan belajarnya.” Oleh karena itu, pengembangan masyarakat belajar harus lebih diorientasikan pada kebutuhan belajar siswa, mengembangkan kreativitas, bersifat eksploratif, kooperatif, realistik, fungsional dan aktual dalam sikap kesehariannya.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa belajar adalah :
a. Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi hubungan timbal balik, saling mempengaruhi secara dinamis antara anak didik dan lingkungannya
b. Belajar harus selalu bertujuan, terarah dan jelas bagi anak didik. Tujuan akan menuntunnya bela0jar untuk mencapai harapan-harapannya
c. Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam dirinya sendiri.
d. Belajar selalu menghadapi rintangan dan hambatan. Oleh karenanya anak didik harus selalu siap dan dapat mengatasinya secara tepat
e. Belajar memerlukan biombingan. Bimbingan itu baik dari guru/ dosen atau tuntutan dari buku pelajaran sendiri.
f. 6. Jenis belajar yang paling utama ialah belajar untuk berfikir kritis, lebih baik daripada pembentukan kebiasaan mekanis.
g. Cara Belajar yang paling efektif adalah dalam pemecahan masalah melalui kerja kelompok, asalkan masalah-masalah tersebut telah disadari bersama.
h. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari sehingga memperoleh pengertian-pengertian
i. Belajar memerlukan latihan-latihan dan ulangan agar apa apa yang diperoleh/ dipelajari dapat dikuasai
j. Belajar harus disertai keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan/ hasil
k. Belajar dianggap berhasil apabila si anak didik telah sanggup mentransferkan dan menerapkannya ke dalam bidang praktek sehari-hari.

B. Pembelajaran yang Efektif
1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses tejadinya interaksi antara siswa dengan guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu pula. Proses pembelajaran berlangsung melalui tahap-tahap persiapan ( desain pembelajaran ), pelaksanaan (kegiatan belajar Mengajar ), yang melibatkan antara guru dan siswa, berlangsung dalam kelas dan luar kelas dalam satuan waktu dalam upaya mencapai tujuan kompetensi ( kognitif, afektif, dan keterampilan ) selanjutnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan pembelajaran.
Dalam Strategi pembelajaran adalah pola umum untuk mewujudkan proses belajar mengajar. Secara operasional strategi pembelajaran adalah prosedur dan metode yang ditempuh oleh guru untuk memberikan kemudahan bagi siswa melakukankegiatan belajar secara aktif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Startegi pembelajaran merupakan suatu sistem menyeluruh yang terdiri dari lima variabel yaitu tujuan, materi pelajaran, metode dan teknik mengajar, guru dan lainya, dan unsur penunjang.

2. Hakikat Pembelajaran
Ada suatu pandangan bahwa mengajar harus dilihat dari segi siswa. Mengajar lebih diorientasikan untuk memberi kegiatan secara optimal kepada siswa. Maka definisi mengajar adalah membimbing siswa bagimana harus belajar. Mengajar berarti mengatur dan menciptakan kondisi yang terdapat di lingkungan siswa sehingga dapat menumbuhkan niat siswa melakukan kegiatan belajar (Nana Sudjana, 1988 ; ) Sementara itu, pengertian belajar dalam kontek pendidikan dapat kita simak dari pendapat Walfolk & Nicolich ( 1989 ; 159 ) berikut :
Learning always involves a change in the person who is learning. The change may be for the better or for the worse, deliberate or unintentional. To qualify as learning, this change must be brounght about by experience, by the interaction of person with his or her environment “
Kegiatan belajar harus selalu memberi perubahan pada subjek yang belajar. Perubahan tersebut terjadi karena adanya pengalaman interaksi pembelajar dengan orang lain ataupun dengan lingkungannya. Bagi Wolfolk & Nicolich, oreintasi kegiatan mengajar harus berpusat pada siswa. Hakikat mengajar diartikan sebagai proses, yakni proses yang dilakukan oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar siswa. Jadi peran guru adalah membimbing, memimpin, dan fasilitator. Guru memberi bantuan, menentukan arah kegiatan siswa, dan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menjadi sumber bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Siswa yang telah menyelesaikan studinya belum tentu mengetahui semua hal. Tidak mungkin mereka menguasai semua ilmu yang di transfer oleh guru. Hal ini memang demikian seharusnya. Yang harus diperoleh siswa yang sudah belajar adalah memiliki kemampuan untuk berpikir secara efektif dan efesien untuk memecahkan masalah. Dengan kemampuan bekal seperti itu siswa akan memecahkan masalah yang dihadapi secara tepat. Mereka akan dapat bekerja secara efesien. Setiap memecahkan masalah memerlukan berpikir tingkat tinggi. Maka, siswa perlu dilatih kerja dan olah pikir dari tingkat berpikir rendah samapai ke tingkat berpikir yang paling tinggi. Pelatihan untuk berpikir ini tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwa siswa.
Berpikir merupakan proses mental atas informasi yang kita rasakan, kita terima, ataupun kita simpan dalam ingatan kita. Berpikir berkaitan denagn mengingat dan mengungkapkan informasi yang pernah kita simpan. Proses berpikir itu antara lain berpikir analitis, kritis, dan kreatif. Apakah selama ini sekolah mengembangkan proses berpikir ?. Banyak sekolah memfokuskan program pembelajarannya pada isi dan mengingat fakta. Banyak sekolah sekedar menaruh tujuan pembelajaran pada pengembangan dayua ingat terhadap isi informasi, yang pada akhir masa pendidikan ditampakkan dengan mampu menjawab soal dala tes akhir. Proses berpikir yang banyak dilatih lebih menekankan pada berpikir tentang apa, dan bukan pada bagaimana dan mengapa tentang sesuatu ?. Proses berpikir tentang apa akan menghasilkan fakta dan tampaknya tidak banyak manfaatnya pasca sekolah.
Sebaiknya sekolah lebih memberi pembekalan pada siswa untuk mampu berpikir. Siswa harus dilatih untuk mempertanyakan isi, misdalnya membedakan anata fakta dan opini, kesimpulan sementara dan kesimpulan tetap, faktor yang relevan dan yang tidak relevan, generalisasi yang benar, mengadakan klasifikasi, dan sebagainya.

3. Prinsip-Prinsip Pembelajaran

Prinsip-prinsip pembelajaran meliputi beberapa hal diantaranya adalah :
a. Kecapakan Hidup ( life skill ).
Life skill atau kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. Kemampuan tersebut diperlukan untuk menempuh kehidupan yang sukses, bermartabat, seperti kemampuan berpikir kompleks dan kritis, bekomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, bertanggung jawab sehingga ada kesiapan untuk memasuki dunia kerja . Implementasi life skill tidak dikemas dalam bentuk mata pelajaran baru ataupun materi tambahan. Kecakapan hidup dapat diintegrasikan pada setiap mata pelajaran sehingga tidak diperlukan tambahan alokasi waktu tertentu.( Kunadar, 2007 : 269)

b. Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang imilikinya denganpenerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh utama pembelajaran efektif
Tujuh Pembelajaran Efektif
1) Konstruktivisme ( Constructivism)
2) Bertanya ( Questioning)
3) Menemukan ( Inquiry)
4) Masyarakat belajar ( Learning Community)
5) Pemodelan (Modeling)
6) Refleksi (Reflection)
7) Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
Kata-kata kunci pembelajaran CTL
1. Real World Learning
2. Mengutamakan pengalaman nyata
3. Berpikir tingkat tinggi
4. Berpusat pada siswa
5. Siswa aktif, kritis, dan kreatif
6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan
7. Dekat dengan kehidupan nyata
8. Perubahan perilaku
9. Siswa praktek bukan menghafal
10. Learning bukan teaching
11. Pendidikan (education) bukan pengajaran (intruction)
12. Pembentukan manusia
13. Memecahkan masalah
14. Siswa akting , guru mengarahkan
15. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara, bukan hanya dengan tes
Strategi pembelajaran yang berasosiasi dengan CTL
1. CBSA ( Cara Belajar Siswa Aktif)
2. Pendekatan proses
3. Life skill Education
4. Authentic Intruction
5. Inquiry base learning
6. Problem based learning
7. Cooperatif Learning
8. Service learning
Lima elemen belajar yang konstruktivistik
1. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (Activating knowledge)
2. Pemerolehan pengetahuan baru (Acquiring knowledge)
3. Pemahaman pengetahuan (Understanding knowledge)
4. Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman (Applying knowledge)
5. Melakukan refleksi (Reflecting knowledge)terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
Penerapan pendekatan CTL di Kelas
1) Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan barunya.
2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4) Ciptakan masyarakat belajar (belajar dlm kel)
5) Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6) Lakukan refleksi akhir pertemuan
7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
8)
Karakteristik pembelajaran berbasis CTL
1. Kerja sama
2. Saling menunjang
3. Menyenangkan, mengasyikan
4. Tidak membosankan(Joyfull and Quantum Learning)
5. Belajar dengan bergairah
6. Pembelajaran terintegrasi
7. Menggunakan berbagai sumber
8. Siswa aktif
Menyusun rencana pembelajaran CTL
1. Nyatakan kegiatan utama pembelajaran (KD, materi pokok,dan indikator)
2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya dalam pengalaman belajar
3. Rincilah media untuk mendukung KBM
4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
5. Nyatakan Authentic assessment

c. Belajar Tuntas ( Mastery Learning )
Belajar Tuntas adalah suatu sistem belajar yang menginginkan sebagian besar siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas. Pembelajran tuntas ( mastery Learning ) dalam KTSP adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mensyaratkan siswa menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun komptensi dasar mata pelajaran.
Prinsip utama dalam pembelajaran tuntas adalah : penguasaan kompetensi berdasarkan kreteria tertentu, pendekatan yang bersifat sistemik dan sistematis, pemberian bimbingan yang diperlukan, serta pemberian waktu yang cukup. ( Kunandar, 2007 : 305 )

d. Pembelajaran Tematik
Dalam KTSP untuk tingkat sekolah dasar seperti SD/MI kelas rendah yaitu kelas I, II, III ) pembelajaran dikemas dalam tema-tema. Tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada siswa secara utuh. Dalam pmbelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna.
Jadi pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka.
e. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif bertukar pikiran sesamanya dalam memahami suatu materi pelajaran, siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang struktur heterogen (tinggi, sedang, dan rendah) bahkan bila memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda-beda. Belajar kooperatif menekankan pada kerja sama, saling membantu dan berdiskusi dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Sistem penghargaan dalam pembelajaran kooperatif lebih dititik beratkan pada kelompok daripada individu.
Contoh tipe pembelajaran pada kooperatif , anmtara lain adalah :
a. Tipe STAD pembelajaran kooperatif
Sebagai langkah awal memulai pembelajaran kooperatif
di kelas adalah:
• Siswa dibuat kelompok kooperatif terdiri dari 4- 6 orang.
• Dibuat tiga pasang atau kelompok (tinggi, sedang, dan rendah)
• Guru mempresentasikan teks, dan menjelaskan tugas
• Siswa berdiskusi dalam kelompok
• Guru memberikan kuis diberi skor, dan memberi penghargaan

b. Tipe JIGSAW dikelas
• Siswa dibagi kedalam kelompok kooperatif materi dipecah menjadi sebanyak kelompok
• Masing-masing kelompok menerima tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian materi
• Bila sudah selesai siswa kembali kekelompok kooperatif saling mengajar dan berdiskusi pada anggota kelompok

c. TGT (Team Games Turnamen)
• Siswa dalam kelompok kooperatif bermain dengan permainan yang berhubungan dengan pelajaran
• Menggunakan soal-soal berlomba dalam kelompok
• Anggota kelompok dipisahberdasarkan tingkat kemampuan yang sama pandai dengan pandai, sedang dengan sedang
• Diberi soal yang sama saling mengoreksi dengan kunci yang dibuat oleh guru dan diberi nilai
• Kembali kekelompok melapor nilai yang diperoleh dan dibuat rata-rata.
• Guru memberikan pujian

f. Model-model pembelajaran yang lain adalah ;
1. TALKING STIK
Langkah- langkah:
a) Guru menyiapkan sebuah tongkat
b) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangan
c) Setelah membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya
d) Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tsb harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru
e) Guru memberikan kesimpulan
f) Evaluasi

2. TEBAK KATA
Media yang digunakan adalah :
1) Buat kartu ukuran 10x10Cm dan isilah ciri-ciri (kata-kata) lainnya yang mengarah pada jawaban (istilah) pada kartu yang ingin di tebak
2) Buat kartu ukuran 5×2 Cm untuk menulis kata/istilah yang mau ditebak (kartu ini nanti dilipat dan di tempel pada dahi/diselipkan ditelinga)
Langkah-langkah:
a. Jelaskan materi kira- kira 45 menit
b. Suruhlah siswa berdiri di depan kelas dan berpasangan
c. Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10×10 Cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang siswa lainnya diberi kartu berukuran 5×2 Cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan didahi atau disiapkan ditelinga
d. Sementara siswa membawa kartu 10×10 Cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud pada kartu 10×10 Cm. Jawab yang tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempel didahi
e. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis pada kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya
f. Dst
3. PICTURE AND PICTURE
Langkah-langkah:
a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin di capai
b. Menyajikan materi sebagai pengantar
c. Guru menunjukkan /memperlihatkan gambar-gambar kegiatan yang berkaitan dengan materi
d. Guru menunjuk/memanggil siswa secara
e. bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis
f. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
g. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep materi sesuai dengan kompetensi yang ingin di capau
h. Kesimpulan/rangkuman
4. ARTIKULASI
Langkah-langkah:
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
b. Guru menyajikan materi seperti biasa
c. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan 2 orang
d. Suruhlah seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya.
e. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya, sampai sebagai siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
f. Guru mengulani/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa.
5. KARTU ARISAN
Media yang digunakan adalah :
a. Buat kartu (10x10Cm) sejumlah siswa untuk menulis jawaban dan kartu/kertas ukuran 5×5 Cm untuk menulis soal.
b. Gelas/apa saja
Langkah-langkah:
a. Bentuk kelompok masing-masing 4 orang secara heterogen
b. Kertas jawaban bagikan pada siswa masing-masing 1 lembar/kartu soal digulung dan di masukkan dalam gelas
c. Gelas yang telah berisi gulungan soal dikocok, kemudian salah satu yang jatuh, dibacakan agar dijawab oleh siswa yang memegang kartu jawaban
d. Apabila jawaban benar maka siswa diersilahkan tepuk tangan atau yel-yel yang lainnya.
e. Setiap jawaban yang benar diberi poin 1 sebagai nilai kelompok sehingga nilai total kelompok merupakan penjumlahan poin dari para anggotanyadst

6. EXPLICIT INSTRUCTION
Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah.
Langkah- langkah:
a. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
b. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
c. Membimbing pelatihan
d. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
e. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan
7. MIND MAPPING
Sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban
Langkah-langkah:
a. Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai
b. Mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggap oleh siswa, sebaliknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban
c. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
d. Tiap kelompok mengiventarisasi/mencatat alternatif jawabanhasil diskusi
e. Tiap kelompok (diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusnya dan guru mencatat di papan tulis dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru
f. Dari data- data dipapan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru
8. SNOWBALL THROWING
Langkah-langkah:
a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan, dan membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi
b. Masing-masing ketua kelompok kembali kekelompoknya kemudian menjelaskan materi yang disampaikan guru kepd temannya
c. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok
d. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bom dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lainnya selama kira-kira 5 menit
e. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
f. Guru memberi kesimpulan
g. Evaluasi

h. Menggaktifkan siswa dalam pembelajaran.
Kalau kita hendak mengaktifkan siswa dalam belajar, seyogyanya kita membuat pelajaran itu menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan, serta mengesankan, Guna menerapkan pembelajaran siswa aktif perlu kita mengenal dan menhayati sejumlah prinsip, yang dilandasi penelitian psikologi belajar dan ujicobanya dalam proses belajar mengajar. Prinsip-prinsip itu adalah :
1) Prinsip Motivasi
2) Prinsip Latar dan konteks
3) Prinsip Keterarahan kepada titik pusat atau fokus tertentu.
4) Prinsip Hubungan sosial dan sosialisasi
5) Prinsip Belajar sambil berkerja
6) Prinsip Perbedaan perorangan atau individualisasi
7) Prinsip Menemukan
8) Prinsip Pemecahan masalah ( Cony Semiawan, 1990 : 9 )
9) Peran Guru dalam pembelajaran.
Guru memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara dan bangsa.
Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh siswa, agar dapat mengembangkan potensinya secar optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai berikut
1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada siswa.
2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi siswa
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani siswa seuai minat, kemampuan, dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab .
6. Membiasakan siswa saling berhubungan (bersilaturrahmi) dengan orang lain secara wajar
7. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antara siswa, orang lain, dan lingkungannya.
8. Mengembangkan kreativitas
9. Menjadi pembantu ketika diperlukan. ( E. Mulyasa, 2007 : 36 )
Untuk itu guru harus mampu memaknai pembelajaran, sereta menjadikan pembelajaran sebagai ajang membentuk kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi siswa. Sebab menurut Mulyasa dalam bukunya Standar Kompetensi dan Sertifikasi guru mengatakan bahwa “Guru adalah sebagai agen pembelajaran ( Mulyasa, 2007 : 53 ).
Oleh karena itu peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai berikut : yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu ( innovator ), model dan telaadan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita,aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator ( Mulyasa, 2007 : 37 )

Pembelajaran yang Bervariasi Akan Mampu :
2. Menanamkan keyakinan terhadap kebesaran Tuhan YME
3. Memupuk sikap ilmiah yang mencakup:
a. Sikap jujur dan objektif terhadap data
b. Sikap terbuka, yaitu bersedia menerima pendapat orang lain serta mau mengubah pandangannya jika ada bukti bahwa pandangannya tidak benar
c. Ulet dan tidak cepat putus asa
d. Kritis terhadap pernyataan ilmiah, yaitu tidak mudah percaya tanpa ada dukungan hasil observasi empiris
e. Dapat bekerja sama dengan orang lain
4. Memperoleh pengalaman dalam penerapan metode ilmiah, melalui percobaan
5. Meningkatkan kesadaran tentang aplikasi sains yang dapat bermanfaat dan merugikan bagi individu masyarakat
4 Memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya serta penerapan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi
6. Membentuk sikap yang positif terhadap sains, yaitu merasa tertarik untuk mempelajari sains lebih lanjut karena merasakan keindahan dalam keteraturan perilaku alam serta kemampuan dalam menjelaskan perilaku alam
Dalam pelaksanaan pembelajaran harus menggunakan metode pembel;ajaran yang seliktif dan bervariasi, dengan berbagai model pembelajaran.Kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa selama pembelajaran diakibatkan :
1. Pemilihan metode pembelajaran yang tidak menarik
2. Suasana yang tidak nyaman (kelas sebagai panggung kekuasaan guru)
3. Kurangnya rasa keyakinan diri dalam proses pembelajaran
4. Kurangnya sikap positif terhadap materi
5. Kurangnya variasi dalam proses pembelajaran
6. Belajar hanya mendengar, menulis dan menghapal
7. Kurangnya interaksi guru dan siswa
8. Kurang bervariasinya pengalaman belajar
9. Tidak adanya slogan-slogan yang tergantung di dinding
10. Mampu membangkitkan semangat belajar
11. Kurangnya dukungan dari guru
12. Guru yang suka menghukum (otoriter)
13. Kurangnya suasana belajar
14. Kurangnya kesempatan bertanya
15. Kurangnya kompetisi antar siswa
16. Penilaian yang tidak authentic
17. Kurangnya motivasi

C. Pelaksanaan Pembelajaran

Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar kmenunjang terjadinya perubahan tingkah lauku bagi siswa. Pada Umumnya Menurut E Mulyasa dalam bukunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP mencakup tiga hal yaitu : pre tes, pembentukan kompetensi, dan post tes. ( Mulyasa, 2007 : 255)
1. Pre Tes ( tes awal )
Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pre tes. Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajaki proses pembelajaran yang akan dilaksanakan
Fungsi pre tes antara lain adalah sebagai berikut :
Untuk menyiapkan siswa dalam proses belajar, mengetahui tingkat kemajuan siswa, mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki siswa, dan untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai.
2. Pembentukan Kompetensi
Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada siswa, dan bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan. Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal teresbut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh siswa terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.
3. Post Tes
Pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post tes. Fungsi post tes antara lain adalah :
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah ditentukan
Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh siswa.
Untuk mengetahui siswayang perlu mengikuti remedial dan yang perlu mengikuti pengayaan.
Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.
Lampiran :

MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

Student Worksheet
KONSER MUSIK FANTASTIK

Mata Pelajaran : Seni & Daya Cipta
Kelas/ Semester : 4/ genap
Waktu : 2 Jam Pelajaran

Kompetensi Dasar:
1) Menanggapi keragaman alat musik
2) Menyajikan karya musik, baik gubahan sendiri maupun karya yang sudah ada
3) Mementaskan dan berkreasi musik Nusantara, lagu wajib/nasional dalam pergelaran
Indikator Pencapaian Hasil Belajar:
1) Memainkan alat musik ritmis secara berkelompok dengan teknik yang benar
2) Memperagakan teknik memainkan alat musik ritmis secara berkelompok
3) Menjelaskan teknik permainan alat musik ritmis
4) Menyanyikan lagu dengan iringan permainan alat musik di hadapan anggota kelas

A. PENDAHULUAN
Kalian pasti pernah menyaksikan pertunjukan musik baik secara langsung maupun lewat tayangan televisi. Menarik bukan? Apalagi jika yang tampil adalah kelompok musik yang kalian sukai.Berbagai alat musik mereka mainkan.

Alat musik itu ada yang memiliki nada atau melodi, seperti: gitar, piano, keyboard, seruling, terompet, harmonika dll. Ada pula yang tidak memiliki nada, seperti: drum, kendang, tamborin, ringbel, dll. Alat musik yang memiliki nada atau melodi disebut alat musik melodis, sedangkan yang tidak memiliki nada disebut alat musik ritmis.

Sebagian dari kalian mungkin tidak hanya sekedar menyukai musik, tetapi juga bercita-cita menjadi seniman musik. Menjadi pemusik. . . ? Kayaknya asyik…!

B. Masalah
Ya, bermusik dan berkarya di bidang musik bisa menjadi pilihan pekerjaan. Asal dipersiapkan dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh, pasti berhasil. Banyak orang yang sukses dengan memilih pekerjaan yang awalnya hobi, seperti bermusik. Tapi………..
Membeli alat-alat musik seperti itu pasti mahal, kalaupun bisa pinjam… harga sewanya juga pasti puluhan ribu bahkan ratusan ribu. Bagaimana ….? Teruskan …..? Ada ide? ……………

Baik, sekarang mari kita buktikan bahwa jika kita bersungguh-sungguh berusaha
maka kita akan mendapatkannya. Man Jadda Wajada.

Bermusik tanpa harus mahal, bermusik bisa dengan segala macam alat. Ayo, coba buktikan, kamu pasti bisa!

C. Tugas
Kalian secara berkelompok ditantang untuk bisa menampilkan karya musik dengan menggunakan berbagai macam benda yang bisa dijadikan sebagai alat musik ritmis.
Caranya:
1. Ajaklah semua anggota kelompok untuk berbagi tugas dan bekerja sama
2. Kumpulkan sebanyak mungkin barang yang bisa dibunyikan dan memungkinkan untuk dijadikan alat musik (misalnya: botol, gelas, piring, ember, sendok, kaleng, dll.)
3. Kenali bunyi masing-masing benda, dan tentukan benda mana yang akan dipakai sebagai alat musik
4. Tentukan dengan menyepakati siapa memegang alat apa
5. Sekali lagi, gunakan pendengaran dan perasaan kalian untuk mengenali bunyi yang dikeluarkan oleh alat yang dipilih
6. Bergabunglah dan bekerja samalah dengan seluruh anggota kelompok untuk berlatih mementaskan karya musik terbaik kalian
7. Waktu konser telah tiba, grup musik FANTASTIK milik kalian segera tampil

D. Langkah Kerja
1. Pembagian tugas membawa alat

No Nama Murid Alat yang dibawa Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9

2. Mengenali bunyi alat

No Nama Alat Bunyi Alat
(nyaring, sember, nge-bass,…..)
1
2
3
4
5

3. Memilih alat

No Nama Murid Alat yang akan dimainkan
1
2
3
4
5
6
7
8
9

4. Menyiapkan konser
Ceritakan apa yang kalian lakukan sebagai persiapan konser!

5. Ayo, segera ke panggung! Penonton sudah tak sabar menunggu
Contoh:
MODEL PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

Student Worksheet
MEMBANGUN RUMAH IDAMAN

Mata Pelajaran : TERPADU
Kelas/ Semester : 3 genap
Waktu : 2 Jam Pelajaran

Kompetensi Dasar dan Indikator Hasil Belajar:
1. Mendeskripsikan tempat (Bahasa Indonesia)
1) Menjelaskan letak atau posisi tempat-tempat tertentu dalam denah dengan
pilihan kata dan kalimat yang runtut
2. Menjelaskan letak ruang gedung pada denah (Pengetahuan Sosial & Kn)
1) Membuat mata angin
2) Menggunakan denah untuk mencari suatu objek tempat
3. Membuat denah madrasah dan lingkungan sekitar (Pengetahuan Sosial & Kn)
1) Memberi contoh pemanfaatan denah dalam dalam kehidupan sehari hari
2) Membuat denah dilengkapi dengan rencana penghijauan

A PENDAHULUAN

Rumah adalah sebuah bangunan tempat tinggal manusia, seperti halnya sarang atau kandang bagi binatang. Di samping tempat tinggal rumahpun berfungsi sebagai tempat berlindung dari cuaca seperti: panas, hujan, terpaan angin, dan suhu dingin. Rumah tempat berlindung dari gangguan binatang dan orang jahat.

Selain yang disebutkan di atas, rumah juga merupakan tempat melakukan berbagai kegiatan seperti memasak, makan-minum, mandi, belajar, tidur dan beristirahat, dll. Oleh sebab itulah di dalam rumah biasanya terdiri atas beberapa ruang. Ada ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, kamar tidur, kamar mandi dan wc, serta ruang-ruang lain. Jenis dan jumlah ruangan di dalam rumah bisa berbeda antara satu rumah dengan rumah lainnya. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan penghuni rumah.
Rumah yang baik adalah rumah yang sesuai kebutuhan dan memenuhi syarat kesehatan seperti mendapatkan cahaya yang cukup, memiliki sarana pembuangan kotoran (sanitasi) yang memadai dan memiliki lubang tempat keluar-masuk udara (ventilasi) yang baik. Hal penting lain yang harus diperhatikan adalah penataan ruang.

B. MASALAH
Pak Seno memiliki rencana untuk membangun rumah, tetapi ia masih bingung menentukan rumah seperti apa yang sesuai untuknya tinggal bersama istri, dua orang anak perempuan yang bersekolah di SD dan seorang anak laki-laki berusia 2 tahun. Selain itu Pak Seno ingin agar ada lahan untuk menanam bunga dan tanaman buah.
Hal yang dipikirkan Pak Seno adalah?
1) Ke arah mana sebaiknya rumah itu menghadap?
2) Ruangan apa saja yang harus dibangun?
3) Bagaimana penataan ruangannya?
4) Di mana Pak Seno bisa menanam bunga dan tanaman buah?
Maukah kalian menolong Pak Seno?

C. TUGAS
1. Buatlah denah rumah yang menurut kalian sesuai kebutuhan Pak Seno
2. Agar Pak Seno bisa memilih, buatlah 2 buah denah lengkap dengan keterangan dan
arah/ mata angin
3. Tulis keunggulan dari masing-masing denah
4. Laporkan hasil kerja kalian di depan kelas
5. Yakinkan kepada Pak Seno bahwa rancangan kalian sangat cocok untuknya!

D. LANGKAH PEMBUATAN DENAH
1. Gambarlah denah 1 pada kotak A dan denah 2 pada kotak B
2. Buat arah/mata angin di sudut kanan atas masing-masing kotak
3. Ingat, arah utara ditunjukkan oleh panah yang mengarah ke atas
4. Perhatikan denah 1 yang kalian buat, lalu lengkapi kalimat berikut!
1) Denah 1 terdiri atas . . . .
2) Denah menghadap ke arah . . . agar . . . .
3) Kamar tidur berjumlah … masing-masing ….
4) Taman berada di … agar . . .
5. Perhatikan denah 2 yang kalian buat, lalu tulis mengapa menurut kalian denah ini
cocok untuk Pak Seno!

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pembelajaran adalah suatu proses tejadinya interaksi antara siswa dengan guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu pula. Proses pembelajaran berlangsung melalui tahap-tahap persiapan ( desain pembelajaran ), pelaksanaan (kegiatan belajar Mengajar ), yang melibatkan antara guru dan siswa, berlangsung dalam kelas dan luar kelas dalam satuan waktu dalam upaya mencapai tujuan kompetensi ( kognitif, afektif, dan keterampilan ) selanjutnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Yang harus diperoleh siswa yang sudah belajar adalah memiliki kemampuan untuk berpikir secara efektif dan efesien untuk memecahkan masalah. Dengan kemampuan bekal seperti itu siswa akan memecahkan masalah yang dihadapi secara tepat. Mereka akan dapat bekerja secara efesien. Setiap memecahkan masalah memerlukan berpikir tingkat tinggi
3. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai berikut : yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu ( innovator ), model dan telaadan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita,aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.
4. Ciri pengajaran yang berhasil salah satu diantaranya dilihat dari kadar kegiatan siswa belajar. Makin tinggi kegiatan belajar siswa, makin tinggi peluang berhasilnya pengajaran. Ini berarti kegiatan guru mengajar harus merangsang kegiatan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar.
5. Pengajaran yang efektif sangat diperlukan untuk mempertinggi hasil belajar siswa dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Kondisi pengajaran yang efektif ditanmdai dengan optimalnyahasil belajar yang dicapai. Untuk itu ada sejumlah kemampuan yang dituntut oleh guru yang harus tercermin dalam kepribadian dan tingkah lakunya pada saat mengajar di dalam kelas.
Sebaik apapun prinsip dan strategi pembelajaran kalau pada prakteknya tidak disertai kesungguhan dari pihak pengelola pendidikan, hal itu tidak akan mampu merubah kebiasaan lama. Karena itu, sebagai penutup dari tulisan ini, penulis sangat berharap pada semua komponen tenaga kependidikan dan untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

B. Saran-Saran
1. Kepada Guru hendaknya benar-benar menguasai akan prinsip-prinsip pembelajaran dan strategi pembelajaran secara utuh sehingga mampu melaksanakan pembelajaran secara optimal dan dapat menghasilkan pembelajaran yang bermutu dan berkualitas.

Daftar Pustaka

Bagir, H. (2003). Gagalnya Pendidikan Agama, Jakarta: Kompas tanggal 23-3-2003
EMIS (2002). Menelusuri Perkembangan Madrasah. Jakarta: Dirjen Bimbaga Islam.
Depag (2003) Draft KBK mata pelajaran PAI di Madrasah, Dirjen Kelembagaan Agama Islam.
Gerlach, V.S. & Ely, D.P. (1980) Teaching and Media: A Systematic Approach. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Joyce, B & Weil, M (1986). Models of Teaching. Third Edition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Meier, D. (2000). The Accelerated Learning Handbook. Alih Bahasa Rahmani Astuti. Bandung: Mizan Media Utama.
Mulyana, R. (2003). Kegiatan Belajar Mengajar PAI. Key Terms Sosialisasi KBK PAI di Makasar dan Pangkal Pinang.
Mulyana, Rt. (2003). Perencanaan Pembelajaran. Makalah dalam TOT pengawas Madrasah. Balai Diklat Depag. Bandung.
Nurhadi (2002). Pendekatan Kontekstual (Cotextual Teaching and Learning: CTL). Jakarta: Depdiknas.
Spier, M. (1994) Teaching Learning Strategies. New York: Pfeiffer & Company Library.
Wahyudin, D. (2001). Strategi Implementasi Kurikulum Sekolah. Makalah.
Kanwil Diknas Propinsi Jawa Barat.
Mulyasa E, 2007, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Rosdakarya, Bandung.
Mulyasa E. 2007, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Rosdakarya, Bandung
Mulyasa E, 2007, Menjadi Guru Profesional, Rosdakarya, Bandung.
Kunandar, 2007, Guru Profesional, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hamalik,Oemar, 2006, Manajemen Pengembangan Kurikulum, RemajaRosdaKarya, Bandung.
Harsanto. Radno, Pengelolaan Kelas yang Dinamis, Kanisius, Yogyakarta.
Nurhadi, Pendekatan Kontekstual ( Contextual Teaching And Learning ), Universitas Negeri, Malang.
Depdeknas, 2003. Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif, Puskur, Jakarta.
Djago Tarigan dkk, Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa, Angkasa, Bandung, 1990.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: