Oleh: H. Ahmad Subehan, Lc, S.Pd.I | 20 Desember 2008

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

Oleh :
GARABIAH, S.Pd.I

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Kesadaran tentang pentingnya pendidikan yang dapat memberikan harapan dan kemungkinan yang lebih baik dimasa yang akan datang, telah mendorong berbagai upaya dan perhatian seluruh lapisan masyarakat terhadap setiap gerak langkah dan perkembangan dunia pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia, pada intinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, mendewasakan, merubah perilaku, dan meningkatkan kualitas.
Perubahan suasana politik di Indonesia yang muncul dari adanya krisis ekonomi kemudian berkembang menjadi krisis sosial politik berimplikasi kepada perubahan dalam berbagai bidang antara lain pendidikan. Isu sentralisasi dan desentralisasi yang sebelumnya telah dimunculkan sebagai upaya pemberdayaan daerah telah semakin menguat. Terdorong oleh suasana perubahan politik kenegaraan, semakin diyakini bahwa salah satu upaya penting yang harus dilakukan dalam peningkatan kualitas pendidikan adalah dengan pemberdayaan sekolah melalui pemberdayaan sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), yang intinya memberikan kewenangan dan pendelagisian kewenangan (delegation of outhoriry) kepada sekolah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
Penerapan desentralisasi ke dalam manajemen pendidikan menghadirkan sekolah sebagai suatu lembaga yang memiliki otoritas dan kewenangan yang tidak lagi tergantung kepada kebijakan dan birokrasi sentralistik. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi berlakunya kebijakan desentralisasi perlu dipahami strategi dan pengelolaan berazaskan kemandirian melalui MBS sebagai salah satu upaya dalam merespon kebijakan desentralisasi pendidikan dari format sentralisasi yang selama ini dilaksanakan. Desentralisasi tidak lagi memperlakukan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang hanya menerima intruksi tanpa kreativitas penyesuaian, institusi sekolah yang hanya dikendalikan secara ketat sehingga tidak memiliki keleluasaan untuk bergerak dalam mengelola sumber daya untuk mencapai kualitas yang optimal
Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah perilaku kearah yang lebih baik. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi siswa. Pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) adalah pembelajaran dimana hasil belajar atau kompetensi yang diharapkan dicapai oleh siswa, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan secara tertulis sejak perencanaan dimulai.
Menurut Djahiri (2002) dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah adanya proses keterlibatan seluruh atau sebagaian besar potensi diri siswa ( fisik dan nonfisik ) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan dimasa yang akan datang ( life skill ).
Adapun tujuan pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) adalah memperkenalkan kehidupan kepada peserta didik sesuai dengan konsep yang dicanangkan oleh UNESCO, yakni learning to know ( belajar mengetahui, learning to do ( belajar melakukan ), learning to be ( belajar menjadi diri sendiri ), dan learning to live together ( belajar hidup dalam kebersamaan, kemudian menumbuhkan kesadaran siswa tentang pentingnya belajar dalam kehidupan yang harus direncanakan dan dikelola dengan sistematis, memberikan kemudahan belajar kepada siswa agar mereka dapat belajar dengan tenang dan menyenangkan, serta menumbuhkan proses pembelajaran yang kondusif bagi tumbuh kembangnya potensi siswa melalui penanaman berbagai kompetensi dasar ( E. Mulyasa, 2005 ; 89)
Pembelajaran juga perlu memperhatikan hal-hal seperti; pertama pembelajaran lebih menekankan pada praktik, baik di laboratorium maupun dimasyarakat dan dunia kerja ( dunia usaha ). Oleh karena itu guru harus memilih strategi dan metode pembelajaran yang memungkinkan adanya praktik. Kedua, pembelajaran harus dapat menjalin hubungan sekolah dengan masyarakat. Oleh karena itu guru harus mampu melihat berbagai potensi masyarakat yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar, dan menjadi penghubung antara sekolah dengan lingkungan. Ketiga, perlu dikembangkan iklim pembelajaran yang demokratis dan terbuka melalui pembelajaran terpadu, partisipatif, dan sejenisnya. Keempat, pembelajaran lebih menekankan pada hal-hal yang aktual yang ada kaitannya dengan kehidupan di masyarakat. Kelima, perlu dikembangkan model pembelajaran moving class, untuk setiap bidang studi, dan kelas merupakan laboratorium untuk masing-masing bidang studi sehingga dalam satu kelas dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan sumber belajar yang diperlukan dalam pembelajaran serta siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan kemampuan ( E. Mulyasa, 2005 : 97 ).
Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan serta kebermaknaan dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan, untuk itu guru harus dituntut adanya kreatifitas dalam mengkondisikan lingkungan pembelajaran yang melibatkan siswa baik secara fisik maupun mental, sehingga diperlukan adanya persiapan yang matang dan pelaksanaan yang optimal dalam pembelajaran.
Kemudian juga dalam pelaksanaan pembelajaran yang efektif harus memperhatikan terhadap prinsip-prinsip pembelajaran, pendekatan dan peranan yang digunakan guru dalam pembelajaran, ketepatan dalam penggunaan keterampilan mengajar dapat memciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan sesuai dengan tuntutan pembelajaran yang efektif dan lain-lainya.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas maka, penulis merumuskan beberapa permasalahan yaitu :
1. Apa Pengertian dan Hakikat Pembelajaran itu ?
2. Bagaimana Prinsip-Prinsip Pembelajaran dan mengaktifkan siswa dalam pembelajaran.
3. Bagaimana Peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang efektif itu
4. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan dan kebermaknaan itu ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam pembahasan ini adalah ingin mengungkapkan pengertian dan hakikat pembelajaran dan, mengetahui prinsip pembelajaran dan peran guru dalam pembelajaran serta pelaksanaan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan dan kebermaknaan tersebut serta format otonomi sekolah adalah tampilnya kemandirian sekolah untuk meningkatkan kinerjanya sendiri dengan mengakomodasikan berbagai potensi sumber daya sekolah, yang pada akhirnya ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka mujud mutu hasil belajar peserta didik.
BAB II
IMPLIMENTASI MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

A. Pengertian dan Hakikat Pembelajaran
1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu proses tejadinya interaksi antara siswa dengan guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu pula. Proses pembelajaran berlangsung melalui tahap-tahap persiapan ( desain pembelajaran ), pelaksanaan (kegiatan belajar Mengajar ), yang melibatkan antara guru dan siswa, berlangsung dalam kelas dan luar kelas dalam satuan waktu dalam upaya mencapai tujuan kompetensi ( kognitif, afektif, dan keterampilan ) selanjutnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan pembelajaran.
Dalam Strategi pembelajaran adalah pola umum untuk mewujudkan proses belajar mengajar. Secara operasional strategi pembelajaran adalah prosedur dan metode yang ditempuh oleh guru untuk memberikan kemudahan bagi siswa melakukankegiatan belajar secara aktif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Startegi pembelajaran merupakan suatu sistem menyeluruh yang terdiri dari lima variabel yaitu tujuan, materi pelajaran, metode dan teknik mengajar, guru dan lainya, dan unsur penunjang.
2. Hakikat Pembelajaram
Ada suatu pandangan bahwa mengajar harus dilihat dari segi siswa. Mengajar lebih diorientasikan untuk memberi kegiatan secara optimal kepada siswa. Maka definisi mengajar adalah membimbing siswa bagaimana harus belajar. Mengajar berarti mengatur dan menciptakan kondisi yang terdapat di lingkungan siswa sehingga dapat menumbuhkan niat siswa melakukan kegiatan belajar (Nana Sudjana, 1988) Sementara itu, pengertian belajar dalam kontek pendidikan dapat kita simak dari pendapat Walfolk & Nicolich ( 1989 ; 159 ) berikut :
Learning always involves a change in the person who is learning. The change may be for the better or for the worse, deliberate or unintentional. To qualify as learning, this change must be brounght about by experience, by the interaction of person with his or her environment “
Kegiatan belajar harus selalu memberi perubahan pada subjek yang belajar. Perubahan tersebut terjadi karena adanya pengalaman interaksi pembelajar dengan orang lain ataupun dengan lingkungannya. Bagi Wolfolk & Nicolich, oreintasi kegiatan mengajar harus berpusat pada siswa. Hakikat mengajar diartikan sebagai proses, yakni proses yang dilakukan oleh guru dalam menumbuhkan kegiatan belajar siswa. Jadi peran guru adalah membimbing, memimpin, dan fasilitator. Guru memberi bantuan, menentukan arah kegiatan siswa, dan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menjadi sumber bagi siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Siswa yang telah menyelesaikan studinya belum tentu mengetahui semua hal. Tidak mungkin mereka menguasai semua ilmu yang di transfer oleh guru. Hal ini memang demikian seharusnya. Yang harus diperoleh siswa yang sudah belajar adalah memiliki kemampuan untuk berpikir secara efektif dan efesien untuk memecahkan masalah. Dengan kemampuan bekal seperti itu siswa akan memecahkan masalah yang dihadapi secara tepat. Mereka akan dapat bekerja secara efesien. Setiap memecahkan masalah memerlukan berpikir tingkat tinggi. Maka, siswa perlu dilatih kerja dan olah pikir dari tingkat berpikir rendah samapai ke tingkat berpikir yang paling tinggi. Pelatihan untuk berpikir ini tentunya disesuaikan dengan tingkat perkembangan jiwa siswa.
Berpikir merupakan proses mental atas informasi yang kita rasakan, kita terima, ataupun kita simpan dalam ingatan kita. Berpikir berkaitan denagn mengingat dan mengungkapkan informasi yang pernah kita simpan. Proses berpikir itu antara lain berpikir analitis, kritis, dan kreatif. Apakah selama ini sekolah mengembangkan proses berpikir ?. Banyak sekolah memfokuskan program pembelajarannya pada isi dan mengingat fakta. Banyak sekolah sekedar menaruh tujuan pembelajaran pada pengembangan dayua ingat terhadap isi informasi, yang pada akhir masa pendidikan ditampakkan dengan mampu menjawab soal dala tes akhir. Proses berpikir yang banyak dilatih lebih menekankan pada berpikir tentang apa, dan bukan pada bagaimana dan mengapa tentang sesuatu ?. Proses berpikir tentang apa akan menghasilkan fakta dan tampaknya tidak banyak manfaatnya pasca sekolah.
Sebaiknya sekolah lebih memberi pembekalan pada siswa untuk mampu berpikir. Siswa harus dilatih untuk mempertanyakan isi, misalnya membedakan antara fakta dan opini, kesimpulan sementara dan kesimpulan tetap, faktor yang relevan dan yang tidak relevan, generalisasi yang benar, mengadakan klasifikasi, dan sebagainya.
B. Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Prinsip-prinsip pembelajaran meliputi beberapa hal diantaranya adalah :
1. Kecapakan Hidup ( life skill ).
Life skill atau kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya. Kemampuan tersebut diperlukan untuk menempuh kehidupan yang sukses, bermartabat, seperti kemampuan berpikir kompleks dan kritis, bekomunikasi secara efektif, membangun kerjasama, bertanggung jawab sehingga ada kesiapan untuk memasuki dunia kerja. Implementasi life skill tidak dikemas dalam bentuk mata pelajaran baru ataupun materi tambahan. Kecakapan hidup dapat diintegrasikan pada setiap mata pelajaran sehingga tidak diperlukan tambahan alokasi waktu tertentu.( Kunadar, 2007 : 269)
2. Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning ( CTL )
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning ) adalah konsep belajar yang membatu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong soiswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan kepada tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni :
a. Konstruktivisme ( Construktivism)
b. Bertanya (Questioning )
c. Menemukan ( Inquiry)
d. Masyarakat belajar ( Learning Community )
e. Permodelan ( Modeling )
Penilaian sebenarnya ( Authentic Assessment) ( Nurhadi, 2002 : 5 )
3. Belajar Tuntas ( Mastery Learning )
Belajar Tuntas adalah suatu sistem belajar yang menginginkan sebagian besar siswa dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas. Pembelajran tuntas ( mastery Learning ) dalam KTSP adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mensyaratkan siswa menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun komptensi dasar mata pelajaran.
Prinsip utama dalam pembelajaran tuntas adalah : penguasaan kompetensi berdasarkan kreteria tertentu, pendekatan yang bersifat sistemik dan sistematis, pemberian bimbingan yang diperlukan, serta pemberian waktu yang cukup. ( Kunandar, 2007 : 305 )
4. Pembelajaran Tematik
Dalam KTSP untuk tingkat sekolah dasar seperti SD/MI kelas rendah yaitu kelas I, II, III ) pembelajaran dikemas dalam tema-tema. Tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep kepada siswa secara utuh. Dalam pmbelajaran, tema diberikan dengan maksud menyatukan isi kurikulum dalam kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna.
Jadi pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu materi dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali tatap muka.

C. Prinsip-Prinsip Menggaktifkan siswa dalam pembelajaran.
Kalau kita hendak mengaktifkan siswa dalam belajar, seyogyanya kita membuat pelajaran itu menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan, serta mengesankan, Guna menerapkan pembelajaran siswa aktif perlu kita mengenal dan menhayati sejumlah prinsip, yang dilandasi penelitian psikologi belajar dan ujicobanya dalam proses belajar mengajar. Prinsip-prinsip itu adalah :
1. Prinsip Motivasi
2. Prinsip Latar dan konteks
3. Prinsip Keterarahan kepada titik pusat atau fokus tertentu.
4. Prinsip Hubungan sosial dan sosialisasi
5. Prinsip Belajar sambil berkerja
6. Prinsip Perbedaan perorangan atau individualisasi
7. Prinsip Menemukan
8. Prinsip Pemecahan masalah ( Cony Semiawan, 1990 : 9 )
D. Peran Guru dalam pembelajaran.
Guru memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam membentuk kepribadian anak, guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM), serta mensejahterakan masyarakat, kemajuan negara dan bangsa.
Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh siswa, agar dapat mengembangkan potensinya secar optimal. Dalam hal ini, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai berikut :
1. Orang tua yang penuh kasih sayang pada siswa.
2. Teman, tempat mengadu, dan mengutarakan perasaan bagi siswa
3. Fasilitator yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani siswa seuai minat, kemampuan, dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5. Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab .
6. Membiasakan siswa saling berhubungan (bersilaturrahmi) dengan orang lain secara wajar
7. Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antara siswa, orang lain, dan lingkungannya.
8. Mengembangkan kreativitas
9. Menjadi pembantu ketika diperlukan. ( E. Mulyasa, 2007 : 36 )
Untuk itu guru harus mampu memaknai pembelajaran, sereta menjadikan pembelajaran sebagai ajang membentuk kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi siswa. Sebab menurut Mulyasa dalam bukunya Standar Kompetensi dan Sertifikasi guru mengatakan bahwa “Guru adalah sebagai agen pembelajaran ( Mulyasa, 2007 : 53 ).
Oleh karena itu peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai berikut : yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu ( innovator ), model dan telaadan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita,aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator ( Mulyasa, 2007 : 37 )
E. Implementasi Belajar Mengajar
Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkah laku bagi siswa. Pada Umumnya Menurut E Mulyasa dalam bukunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran berbasis KTSP mencakup tiga hal yaitu : pre tes, pembentukan kompetensi, dan post tes. ( Mulyasa, 2007 : 255)
1. Pre Tes ( tes awal )
Pada umumnya pelaksanaan proses pembelajaran dimulai dengan pre tes. Pre tes ini memiliki banyak kegunaan dalam menjajaki proses pembelajaran yang akan dilaksanakan
Fungsi pre tes antara lain adalah sebagai berikut :
Untuk menyiapkan siswa dalam proses belajar, mengetahui tingkat kemajuan siswa, mengetahui kemampuan awal yang telah dimiliki siswa, dan untuk mengetahui darimana seharusnya proses pembelajaran dimulai.
2. Pembentukan Kompetensi
Pembentukan kompetensi merupakan kegiatan inti dari pelaksanaan proses pembelajaran, yakni bagaimana kompetensi dibentuk pada siswa, dan bagaimana tujuan-tujuan belajar direalisasikan. Proses pembelajaran dan pembentukan kompetensi perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan, hal teresbut tentu saja menuntut aktivitas dan kreativitas guru dalam menciptakan lingkungan yang kondusif. Proses pembentukan kompetensi dikatakan efektif apabila seluruh siswa terlibat secara aktif, baik mental, fisik maupun sosialnya.
3. Post Tes
Pelaksanaan pembelajaran diakhiri dengan post tes. Fungsi post tes antara lain adalah :
a. Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah ditentukan
b. Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasai oleh siswa.
c. Untuk mengetahui siswa yang perlu mengikuti remedial dan yang perlu mengikuti pengayaan.
d. Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi yang telah dilaksanakan, baik terhadap perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi.

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pembelajaran adalah suatu proses terjadinya interaksi antara siswa dengan guru dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu pula. Proses pembelajaran berlangsung melalui tahap-tahap persiapan ( desain pembelajaran ), pelaksanaan (kegiatan belajar Mengajar ), yang melibatkan antara guru dan siswa, berlangsung dalam kelas dan luar kelas dalam satuan waktu dalam upaya mencapai tujuan kompetensi ( kognitif, afektif, dan keterampilan ) selanjutnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Yang harus diperoleh siswa yang sudah belajar adalah memiliki kemampuan untuk berpikir secara efektif dan efesien untuk memecahkan masalah. Dengan kemampuan bekal seperti itu siswa akan memecahkan masalah yang dihadapi secara tepat. Mereka akan dapat bekerja secara efesien. Setiap memecahkan masalah memerlukan berpikir tingkat tinggi
3. Peran guru dalam pembelajaran adalah sebagai berikut : yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu ( innovator ), model dan telaadan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita,aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.
4. Ciri pengajaran yang berhasil salah satu diantaranya dilihat dari kadar kegiatan siswa belajar. Makin tinggi kegiatan belajar siswa, makin tinggi peluang berhasilnya pengajaran. Ini berarti kegiatan guru mengajar harus merangsang kegiatan siswa melakukan berbagai kegiatan belajar.
5. Pengajaran yang efektif sangat diperlukan untuk mempertinggi hasil belajar siswa dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Kondisi pengajaran yang efektif ditanmdai dengan optimalnyahasil belajar yang dicapai. Untuk itu ada sejumlah kemampuan yang dituntut oleh guru yang harus tercermin dalam kepribadian dan tingkah lakunya pada saat mengajar di dalam kelas.
6. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
B. Saran-Saran
1. Kepada Guru hendaknya benar-benar menguasai akan prinsip-prinsip pembelajaran dan strategi pembelajaran secara utuh sehingga mampu melaksanakan pembelajaran secara optimal dan dapat menghasilkan pembelajaran yang bermutu dan berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa E, 2007, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Rosdakarya, Bandung.
Mulyasa E. 2007, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Rosdakarya, Bandung
Mulyasa E, 2007, Menjadi Guru Profesional, Rosdakarya, Bandung.
Kunandar, 2007, Guru Profesional, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hamalik,Oemar, 2006, Manajemen Pengembangan Kurikulum, RemajaRosdaKarya, Bandung.
Harsanto. Radno, Pengelolaan Kelas yang Dinamis, Kanisius, Yogyakarta.
Nurhadi, Pendekatan Kontekstual ( Contextual Teaching And Learning ), Universitas Negeri, Malang.
Depdeknas, 2003. Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif, Puskur, Jakarta.
Djago Tarigan dkk, Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa, Angkasa,Bandung, 1990.
Moh. Uzer Usman, 1995. Menjadi Guru Profesional. PT Remaja Rosdakarya,
Bandung.
Nana Sudjana, 1990. Mengajar Efektif di Perguruan Tinggi ( Sebuah model ),
Makalah, IKIP Bandung.
———–, Apa dan Bagaimana Mengajar, Ideal, Bandung, 1975.
———–, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, 1987.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: