Oleh: H. Ahmad Subehan, Lc, S.Pd.I | 20 Desember 2008

FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN

FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN
Oleh Drs.H.Munadi
A. Pendahuluan
Keberhasilan pelaksanaan proses Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam, ditentukan oleh banyak faktor. Dan faktor-faktor tersebut berproses sebagai sebuah sistem yang tidak dipisah-pisahkan dan keberadaannya saling tunjang menunjang satu sama lainnya.
Tugas utama pendidik dalam proses pendidikan adalah mendidik – mengajar dan melatih peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
Proses mendidik – mengajar dan melatih peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, yang dapat diartikan sebagai proses transfer nilai – pengetahuan dan keterampilan, bukanlah hal yang mudah, ada banyak faktor yang idealnya harus diperhatikan, agar upaya itu dapat mencapai hasil yang maksimal.
Dalam makalah singkat ini, akan dikemukakan faktor-faktor Pendidikan dan pengajaran Agama Islam yang harusnya diperhatikan oleh seorang pendidik muslim, dalam melaksanakan proses pendidikan ( mendidik – mengajar – melatih ) peserta didiknya.
B. Faktor- faktor Pendidikan
Faktor-faktor yang merupakan sebuah sistem yang tidak dipisah-pisahkan dan keberadaannya saling tunjang menunjang serta harus diperhatikan dalam pendidikan, dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan, yang juga merupakan salah satu bagian dari faktor pendidikan itu. Setiap faktor akan menjadi bermakna dalam proses pendidikan, manakala tidak terpisahkan dan berproses dengan faktor yang lainnya secara signifikan dan integralistik.
Ada banyak ragam pendapat para ahli pendidikan tentang faktor-faktor dalam proses pendidikan, diantaranya :
1. Pendapatnya Cryns
Menurut Cryns, ada tiga faktor utama yang mendukung terlaksananya pendidikan, yaitu :
a. Faktor Pendidik
b. Faktor anak didik
c. Faktor Pergaulan Pendidikan
2. Pendapatnya M.J.Langaveld
Menurut M.J.Langaveld, bahwa keseluruhan pendidikan dapat ditinjau dari bagian-bagiannya (faktor-faktornya), yaitu :
a. Mendidik, yakni tindakan yang dengan sengaja dilakukan untuk tercapainya suatu tujuan pendidikan.
b. Pergaulan;
c. Alam Sekitar
3. Pendapatnya Crow & Crow
Menurut Crow & Crow , faktor-faktor dalam proses pendidikan terbagi dalam lima faktor, yakni :
a. Faktor tujuan pendidikan
b. Faktor anak didik
c. Faktor pendidik
d. Faktor alat-alat
e. Faktor lingkungan
Selanjutnya ke lima macam faktor ini akan diuraikan satu persatu, dan dalam proses pendidikan kelima faktor ini harus berproses secara integral, dan harus diberdaya gunakan secara dinamis dan bersama-sama, sehingga proses pendidikan dapat berjalan secara optimal.
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan dapat diartikan batas akhir yang dicita-citakan seseorang dan dijadikan pusat perhatiannya untuk dicapai melalui usaha. Dalam tujuan terkandung cita-cita, kehendak, dan kesengajaan, serta berkonsekuensi penyusunan daya upaya untuk mencapainya. Tujuan tidak sama dengan dorongan ,tujuan memiliki usaha secara sadar sementara dorongan tidak dilakukan secara sadar, tapi dalam upaya mencapai tujuan boleh jadi diperlukan dorongan- yang mungkin berupa tujuan itu sendiri.
Tujuan Pendidikan ialah batas akhir yang dicita-citakan tercapai melalui suatu usaha pendidikan.
Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam ialah terbentuknya kepribadian muslim , yakni diistilahkan oleh Al Ghazali dengan kesempurnaan insani dunia akhirat.
Manusia yang memiliki kesempurnaan dunia akhirat adalah manusia yang mampu melaksanakan ‘pengabdiannya’ secara vertikal kepada Allah SWT dan mampu menjalankan tugas kekhalifahan dalam mengelola dan memakmurkan bumi Allah SWT, sebagai wujud pengabdiannya kepada Allah SWT secara horisontal. Karenanya Abdul Fatah Jalal mengemukakan bahwa tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah menjadikan manusia sebagai abdi atau hamba Allah SWT.
Tujuan pendidikan dapat dilihat dari berbagai segi, (1) dilihat dari segi gradasinya , ada tujuan akhir dan sementara (2) dilihat dari penyelenggaraannya dalam pendidikan formal, ada tujuan nasional dan Instusional; (3) dilihat dari orientasi out putnya ada tujuan individual dan tujuan sosial.
Sejak tahun 1975 pandangan dalam pembelajaran dirobah dari subject matter oriented (berorientasi kepada materi ) menjadi Objective Oriented (berorientasi kepada tujuan ), maka tujuan dalam sebuah Rencana Mengajar (lesson plan) memegang posisi penting karena Rencana Mengajar (lesson plan) dibuat untuk mencapai tujuan. Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam proses pendidikan, hal ini disebabkan oleh fungsi-fungsi yang dipikulnya : (1) tujuan pendidikan mengarahkan perbuatan mendidik; (2) tujuan pendidikan mengakhiri usaha pendidikan; (3). Tujuan pendidikan disatu sisi membatasi lingkup suatu usaha pendidikan, tetapi disisi lain mempengaruhi dinamikanya. (4). Tujuan pendidikan memberi semangat dan dorongan untuk melaksanakan pendidikan.
Herarchis tujuan di Indonesia, adalah sbb. ;
a. Tujuan Nasional
Tujuan Nasional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia seperti yang dikehendaki pada pancasila dan alenia 4 UUD 1945, Guru dalam hal ini harus memahami dan mempedomaninya.
b. Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan nasional pada hakekatnya kualifakasi umum yang diharapkan telah dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan program pendidikannya.
Tujuan pendidikan Nasional Indonesia termuat dalam Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Guru dalam hal ini harus memahami dan mempedomaninya.
c. Tujuan Institusional
Tujuan Institusional, adalah tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui tingkat dan jenis pendidikan tertentu dan merupakan penjabaran dari Tujuan Pendidikan Nasional.
Tujuan ini merupakan kualifikasi umum yang diharapkan dimilki peserta didik setelah menyelesaikan tingkat atau jenis pendidikan tertentu. Tujuan ini tercantum pada buku I Kurikulum tingkat lembaga pada suatu jenis/ tingkat pendidikan tertentu dan Guru dalam hal ini harus memahami dan mempedomaninya.
d. Tujuan Kurikuler
Tujuan Kurikuler adalah tujuan pendidikan yang harus dicapai setelah menyelesaikan seluruh program pembelajaran untuk Mata Pelajaran tertentu.
Tujuan ini terdapat dalam buku II atau GBPP untuk Mata Pelajaran tertentu dimana tujuan ini merupakan penjabaran dari Tujuan Institusional.
Tujuan ini merupakan kualifikasi umum yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan semua program pembelajaran pada suatu Mata Pelajaran tertentu.
e. Tujuan Pembelajaran (TP) atau Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Yang dimaksud dengan TP atau TIU adalah tujuan yang harus dicapai setelah menyelesaikan suatu pokok bahasan tertentu dalam kurikuler, setelah melalui satu atau beberapi kegiatan pembelajaran.
Tujuan ini merupakan penjabaran dari Tujuan Kurikuler, dan merupakan kualifikasi umum yang harus dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan mungkin beberapa pertemuan untuk sebuah pokok bahasan dari GBPP.
f. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) atau Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
TPK atau TIK adalah tujuan Pembelajaran yang harus dicapai setelah selesainya suatu proses pembelajaran.
Tujuan ini harus dibuat dan dirumuskan sendiri oleh guru dengan menjabarkan TP atau TIU dan bersifat operasional dengan menggunakan KKO (Kata Kerja Operasional).TPK/ TIK ini menjadi acuan guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran.
Untuk membantu pemahaman tentang KKO yang digunakan, maka berikut akan dikemukakan taksonomi perilaku individu :
Kalau perilaku individu mencakup segala pernyataan hidup, betapa banyak kata yang harus dipergunakan untuk mendeskripsikannya. Untuk keperluan studi tentang perilaku kiranya perlu ada sistematika pengelompokan berdasarkan kerangka berfikir tertentu (taksonomi).Dalam konteks pendidikan, Bloom mengungkapkan tiga kawasan (domain) perilaku individu beserta sub kawasan dari masing-masing kawasan, yakni :
a. Kawasan Kognitif; yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar.
1) Pengetahuan (knowledge);
Pengetahuan merupakan aspek kognitif yang paling rendah tetapi paling mendasar. Dengan pengetahuan individu dapat mengenal dan mengingat kembali suatu objek, ide prosedur, konsep, definisi, nama, peristiwa, tahun, daftar, rumus, teori, atau kesimpulan. Dilihat dari objek yang diketahui (isi) pengetahuan dapat digolongkan sebagai berikut :
a) Mengetahui sesuatu secara khusus; terdiri dari :
 Mengetahui terminologi yaitu berhubungan dengan mengenal atau mengingat kembali istilah atau konsep tertentu yang dinyatakan dalam bentuk simbol, baik berbentuk verbal maupun non verbal.
 Mengetahui fakta tertentu yaitu mengenal atau mengingat kembali tanggal, peristiwa, orang tempat, sumber informasi, kejadian masa lalu, kebudayaan masyarakat tertentu, dan ciri-ciri yang tampak dari keadaan alam tertentu.
b) Mengetahui tentang cara untuk memproses atau melakukan sesuatu.
 Mengetahui kebiasaan atau cara mengetengahkan ide atau pengalaman
 Mengetahui urutan dan kecenderungan yaitu proses, arah dan gerakan suatu gejala atau fenomena pada waktu yang berkaitan.
 Mengetahui penggolongan atau pengkategorisasian. Mengetahui kelas, kelompok, perangkat atau susunan yang digunakan di dalam bidang tertentu, atau memproses sesuatu.
 Mengetahui kriteria yang digunakan untuk mengidentifikasi fakta, prinsip, pendapat atau perlakuan.
 Mengetahui metodologi, yaitu perangkat cara yang digunakan untuk mencari, menemukan atau menyelesaikan masalah.
 Mengetahui hal-hal yang universal dan abstrak dalam bidang tertentu, yaitu ide, bagan dan pola yang digunakan untuk mengorganisasi suatu fenomena atau pikiran.
 Mengetahui prinsip dan generalisasi
 Mengetahui teori dan struktur.
2) Pemahaman (comprehension)
Pemahaman atau dapat dijuga disebut dengan istilah mengerti merupakan kegiatan mental intelektual yang mengorganisasikan materi yang telah diketahui. Temuan-temuan yang didapat dari mengetahui seperti definisi, informasi, peristiwa, fakta disusun kembali dalam struktur kognitif yang ada. Temuan-temuan ini diakomodasikan dan kemudian berasimilasi dengan struktur kognitif yang ada, sehingga membentuk struktur kognitif baru. Tingkatan dalam pemahaman ini meliputi :
a) translasi yaitu mengubah simbol tertentu menjadi simbol lain tanpa perubahan makna. Misalkan simbol dalam bentuk kata-kata diubah menjadi gambar, bagan atau grafik;
b) interpretasi yaitu menjelaskan makna yang terdapat dalam simbol, baik dalam bentuk simbol verbal maupun non verbal. Seseorang dapat dikatakan telah dapat menginterpretasikan tentang suatu konsep atau prinsip tertentu jika dia telah mampu membedakan, memperbandingkan atau mempertentangkannya dengan sesuatu yang lain. Contoh sesesorang dapat dikatakan telah mengerti konsep tentang “motivasi kerja” dan dia telah dapat membedakannya dengan konsep tentang ”motivasi belajar”; dan
c) Ekstrapolasi; yaitu melihat kecenderungan, arah atau kelanjutan dari suatu temuan. Misalnya, kepada siswa dihadapkan rangkaian bilangan 2, 3, 5, 7, 11, dengan kemapuan ekstrapolasinya tentu dia akan mengatakan bilangan ke-6 adalah 13 dan ke-7 adalah 19. Untuk bisa seperti itu, terlebih dahulu dicari prinsip apa yang bekerja diantara kelima bilangan itu. Jika ditemukan bahwa kelima bilangan tersebut adalah urutan bilangan prima, maka kelanjutannnya dapat dinyatakan berdasarkan prinsip tersebut.
3) Penerapan (application)
Menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dikatakan menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesaikan dan mengidentifikasi hal-hal yang sama. Contoh, dulu ketika pertama kali diperkenalkan kereta api kepada petani di Amerika, mereka berusaha untuk memberi nama yang cocok bagi alat angkutan tersebut. Satu-satunya alat transportasi yang sudah dikenal pada waktu itu adalah kuda. Bagi mereka, ingat kuda ingat transportasi. Dengan pemahaman demikian, maka mereka memberi nama pada kereta api tersebut dengan iron horse (kuda besi). Hal ini menunjukkan bagaimana mereka menerapkan konsep terhadap sebuah temuan baru.
4) Penguraian (analysis);
Menentukan bagian-bagian dari suatu masalah dan menunjukkan hubungan antar-bagian tersebut, melihat penyebab-penyebab dari suatu peristiwa atau memberi argumen-argumen yang menyokong suatu pernyataan.
Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis, yaitu :
a) Menganalisis unsur :
 Kemampuan melihat asumsi-asumsi yang tidak dinyatakan secara eksplisit pada suatu pernyataan
 Kemampuan untuk membedakan fakta dengan hipotesa.
 Kemampuan untuk membedakan pernyataan faktual dengan pernyataan normatif.
 Kemampuan untuk mengidentifikasi motif-motif dan membedakan mekanisme perilaku antara individu dan kelompok.
 Kemampuan untuk memisahkan kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang mendukungnya.
b) Menganalisis hubungan
Kemampuan untuk melihat secara komprehensif interrelasi antar ide dengan ide.
Kemampuan untuk mengenal unsur-unsur khusus yang membenarkan suatu pernyataan.
Kemampuan untuk mengenal fakta atau asumsi yang esensial yang mendasari suatu pendapat atau tesis atau argumen-argumen yang mendukungnya.
Kemampuan untuk memastikan konsistensinya hipotesis dengan informasi atau asumsi yang ada.
Kemampuan untuk menganalisis hubungan di antara pernyataan dan argumen guna membedakan mana pernyataan yang relevan mana yang tidak.
Kemampuan untuk mendeteksi hal-hal yang tidak logis di dalam suatu argumen.
Kemampuan untuk mengenal hubungan kausal dan unsur-unsur yang penting dan yang tidak penting di dalam perhitungan historis.
c) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi
 Kemampuan untuk menguraikan antara bahan dan alat
 Kemampuan untuk mengenal bentuk dan pola karya seni dalam rangka memahami maknanya.
 Kemampuan untuk mengetahui maksud dari pengarang suatu karya tulis, sudut pandang atau ciri berfikirnya dan perasaan yang dapat diperoleh dalam karyanya.
 Kemampuan untuk melihat teknik yang digunakan dalam meyusun suatu materi yang bersifat persuasif seperti advertensi dan propaganda.
5) Memadukan (synthesis)
Menggabungkan, meramu, atau merangkai berbagai informasi menjadi satu kesimpulan atau menjadi suatu hal yang baru. Kemampuan berfikir induktif dan konvergen merupakan ciri kemampuan ini. Contoh: memilih nada dan irama dan kemudian manggabungkannya sehingga menjadi gubahan musik yang baru, memberi nama yang sesuai bagi suatu temuan baru, menciptakan logo organisasi.
6) Penilaian (evaluation)
Mempertimbangkan, menilai dan mengambil keputusan benar-salah, baik-buruk, atau bermanfaat – tak bermanfaat berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. Terdapat dua kriteria pembenaran yang digunakan, yaitu :
a) Pembenaran berdasarkan kriteria internal; yang dilakukan dengan memperhatikan konsistensi atau kecermatan susunan secara logis unsur-unsur yang ada di dalam objek yang diamati.
b) Pembenaran berdasarkan kriteria eksternal; yang dilakukan berdasarkan kriteria-kriteria yang bersumber di luar objek yang diamati., misalnya kesesuaiannya dengan aspirasi umum atau kecocokannya dengan kebutuhan pemakai.
b. Kawasan Afektif; yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya.
1) Penerimaan (receiving/attending)
Kawasan penerimaan diperinci ke dalam tiga tahap, yaitu :
a) Kesiapan untuk menerima (awareness), yaitu adanya kesiapan untuk berinteraksi dengan stimulus (fenomena atau objek yang akan dipelajari), yang ditandai dengan kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang bersangkutan.
b) Kemauan untuk menerima (willingness to receive), yaitu usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan.
c) Mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention). Mungkin perhatian itu hanya tertuju pada warna, suara atau kata-kata tertentu saja.
2) Sambutan (responding)
Mengadakan aksi terhadap stimulus, yang meliputi proses sebagai berikut :
a) Kesiapan menanggapi (acquiescene of responding). Contoh : mengajukan pertanyaan, menempelkan gambar dari tokoh yang disenangi pada tembok kamar yang bersangkutan, atau mentaati peraturan lalu lintas.
b) Kemauan menanggapi (willingness to respond), yaitu usaha untuk melihat hal-hal khusus di dalam bagian yang diperhatikan. Misalnya pada desain atau warna saja.
c) Kepuasan menanggapi (satisfaction in response), yaitu adanya aksi atau kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk memuaskan keinginan mengetahui. Contoh kegiatan yang tampak dari kepuasan menanggapi ini adalah bertanya, membuat coretan atau gambar, memotret dari objek yang menjadi pusat perhatiannya, dan sebagainya.
3) Penghargaan (valuing)
Pada tahap ini sudah mulai timbul proses internalisasi untuk memiliki dan menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi. Penilaian terbagi atas empat tahap sebagai berikut :
a) Menerima nilai (acceptance of value), yaitu kelanjutan dari usaha memuaskan diri untuk menanggapi secara lebih intensif.
b) Menyeleksi nilai yang lebih disenangi (preference for a value) yang dinyatakan dalam usaha untuk mencari contoh yang dapat memuaskan perilaku menikmati, misalnya lukisan yang memiliki yang memuaskan.
c) Komitmen yaitu kesetujuan terhadap suatu nilai dengan alasan-alasan tertentu yang muncul dari rangkaian pengalaman. Komitmen ini dinyatakan dengan rasa senang, kagum, terpesona. Kagum atas keberanian seseorang, menunjukkan komitmen terhadap nilai keberanian yang dihargainya.
4) Pengorganisasian (organization)
Pada tahap ini yang bersangkutan tidak hanya menginternalisasi satu nilai tertentu seperti pada tahap komitmen, tetapi mulai melihat beberapa nilai yang relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai. Proses ini terjadi dalam dua tahapan, yakni :
a) Konseptualisasi nilai, yaitu keinginan untuk menilai hasil karya orang lain, atau menemukan asumsi-asumsi yang mendasari suatu moral atau kebiasaan.
b) Pengorganisasian sistem nilai, yaitu menyusun perangkat nilai dalam suatu sistem berdasarkan tingkat preferensinya. Dalam sistem nilai ini yang bersangkutan menempatkan nilai yang paling disukai pada tingkat yang amat penting, menyusul kemudian nilai yang dirasakan agak penting, dan seterusnya menurut urutan kepentingan.atau kesenangan dari diri yang bersangkutan.
5) Karakterisasi (characterization).
Karakterisasi yaitu kemampuan untuk menghayati atau mempribadikan sistem nilai Kalau pada tahap pengorganisasian di atas sistem nilai sudah dapat disusun, maka susunan itu belum konsisten di dalam diri yang bersangkutan. Artinya mudah berubah-ubah sesuai situasi yang dihadapi. Pada tahap karakterisasi, sistem itu selalu konsisten. Proses ini terdiri atas dua tahap, yaitu :
a) Generalisasi, yaitu kemampuan untuk melihat suatu masalah dari suatu sudut pandang tertentu.
b) Karakterisasi, yaitu mengembangkan pandangan hidup tertentu yang memberi corak tersendiri pada kepribadian diri yang bersangkutan.
c. Kawasan Psikomotor; yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan ini terdiri dari : (a) kesiapan (set); (b) peniruan (imitation); (c) membiasakan (habitual); (d) menyesuaikan (adaptation) dan (e) menciptakan (origination)
1) Kesiapan yaitu berhubungan dengan kesediaan untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha untuk melaporkan kehadirannya, mempersiapkan alat, menyesuaikan diri dengan situasi, menjawab pertanyaan.
2) Meniru adalah kemampuan untuk melakukan sesuai dengan contoh yang diamatinya walaupun belum mengerti hakikat atau makna dari keterampilan itu. Seperti anak yang baru belajar bahasa meniru kata-kata orang tanpa mengerti artinya.
3) Membiasakan yaitu seseorang dapat melakukan suatu keterampilan tanpa harus melihat contoh, sekalipun ia belum dapat mengubah polanya.
4) Adaptasi yaitu seseorang sudah mampu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat keterampilan itu dilaksanakan.
5) Menciptakan (origination) di mana seseorang sudah mampu menciptakan sendiri suatu karya.
Sementara itu, Abin Syamsuddin Makmun( 2003) memerinci sub kawasan ini dengan tahapan yang berbeda, yaitu :
1) Gerakan refleks (reflex movements). Basis semua perilaku bergerak atau respons terhadap stimulus tanpa sadar, misalnya : melompat, menunduk, berjalan, dan sebagainya.
2) Gerakan dasar biasa (Basic fundamental movements) yaitu gerakan yang muncul tanpa latihan tapi dapat diperhalus melalui praktik, yang terpola dan dapat ditebak.
3) Gerakan Persepsi (Perceptual abilities) yaitu gerakan sudah lebih meningkat karena dibantu kemampuan perseptual.
4) Gerakan fisik (Physical Abilities) yaitu gerakan yang menunjukkan daya tahan (endurance), kekuatan (strength), kelenturan (flexibility) dan kegesitan.
5) Gerakan terampil (skilled movements) yaitu dapat mengontrol berbagai tingkatan gerak secara terampil, tangkas, dan cekatan dalam melakukan gerakan yang sulit dan rumit (kompleks).
6) Gerakan indah dan kreatif (Non-discursive communication) yaitu mengkomunikasikan perasan melalui gerakan, baik dalam bentuk gerak estetik: gerakan-gerakan terampil yang efisien dan indah maupun gerak kreatif: gerakan-gerakan pada tingkat tertinggi untuk mengkomunikasikan peran.
2. Anak/ Peserta Didik
Anak merupakan faktor yang harus ada dalam proses pendidikan, dan bahkan keberadaannya merupakan subjek pendidikan bersama dengan pendidik, jika anak tidak ada secara otomatis maka proses pendidikan pun tidak akan ada.
Berbagai aliran filsafat tentang pendidikan anak berpendapat, antara lain :
2.1 Impirisme
Aliran ini dipelopori oleh Sarjana Inggris John Locke dengan teorinya Tabulae Rasae (Tabula Rasa) dimana anak diibaratkan laksana sebuah meja yang dilapisi lilin putih atau ibarat sebuah kertas putih bersih, yang dapat ditulisi/ diberi warna apa saja sekehendak hati orang yang memiliki atau si pemberi warna.
Dari sini dapat dimengerti bahwa menurut aliran ini lingkungan sangat berkuasa, sementara pembawaan anak tidak punya kuasa apa-apa.
Aliran ini sejalan dengan Pasivisme, dimana tingkah laku manusia akan berkembang senantiasa menganut apa yang ada dan tidak punya inisiatif sama sekali.
2.2 Nativisme
Aliran ini dipelopori oleh Adolf Schopen Houver dan Lomboroso, dimana dinyatakan bahwa perkembangan seorang anak ditentukan oleh pembawaannya. Jiwa anak sejak kelahirannya telah membawa bakat-bakat atau kemampuan-kemampuan yang tidak dapat diubah lagi.
Dari sini dapat dimengerti bahwa menurut aliran ini pembawaanlah yang sangat berkuasa, sementara lingkungan anak tidak punya kuasa apa-apa.
Aliran ini sejalan dengan possitivisme atau aliran kemunduran, dimana anak manusia akan berkembang senantiasa sesuai dengan potensi yang ia bawa sejak lahir.
2.3 Konvergensi
Tokoh aliran ini adalah William Stern yang berpendapat bahwa perkembangan jiwa anak tergantung pada dasar (pembawaan) dan ajar (lingkungan), dimana keduanya punya peranan yang sama-sama kuat dan penting.
Faktor Dasar (pembawaan) anak tersebut, meliputi :
a. Pembawaan (bakat)
b. Sifat keturunan (baik fisik atau pisikhis )
Sedangkan
a. Pendidikan
b. Lingkungan kehidupan
c. Pengalaman/ Pergaulan
Menurut ajaran Islam bakat telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi tiap manusia sejak dia berada di dalam kandungan, hal ini berdasarkan Firman Allah dalam QS. Al Isra : 84, yang artinya :
“ Katakanlah bahwa setiap manusia itu bekerja menurut bakatnya (masing-masing).”
Tapi Islam memandang bahwa bakat/ pembawaan bukanlah satu-satunya faktor yang berkuasa mutlak, ia harus ditunjang oleh faktor lingkungan.
Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya :
“ Setiap manusia dilahirkan atas dasar fithrah, maka kedua orang tuanyalah (lingkungan yang pertama) yang akan menjadikan anak itu Yahudi, Nashrani dan Majusi.” (HR.Buchari-Muslim)
Mustofa Al Maraghy dalam tafsirnya mendefenisikan fithrah sebagai “ suatu keadaan yang telah Allah ciptakan bagi manusia, sehingga siap menerima dan melaksanakan suatu kebajikan.”
Kelahiran anak telah membawa potensi dasar/ fithrah, tapi ia akan berkembang sesuai/ tergantung dengan pendidikan/ pengaruh lingkungan yang ia terima, hal ini telah diisyaratkan Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah sabdanya: “Hati-hatilah terhadap tumbuhan hijau yang tumbuh ditempat yang kotor, shahabat bertanya : apa tumbuhan hijau yang tumbuh ditempat yang kotor itu ?, Rasul menjawab : Wanita cantik yang tumbuh berkembang di lingkungan yang kotor.”
Agar lingkungan baik dan diharapkan juga pembawaan baik, maka bukan hanya mengupayakan pembinaan anak saja secara baik, tapi juga Islam meletakkan pilar utama bagaimana pembentukan lingkungan yang baik bagi anak, yaitu dengan jauh sebelum pembentukan keluarga (sebagai lingkungan pertama dan utama bagi anak) harus dilakukan pemilihan pasangan yang selektif, seperti sabda Nabi :
“Pilihlah olehmu tempat menumbuhkan nutfahmu, karena darah itu mengalir terus …”
Potensi kearah kebajikan, atau oleh para ahli disebut dengan potensi ketuhanan, diakui adanya oleh para ahli Psikologi Agama, seperti :
a. Sigmun Freud berpendapat sejak kecil telah ada perasaan percaya pada zat yang maha kuasa.
b. Dorothy Wilsol berpendapat anak sejak 3 tahun telah ada kesadaran tentang Tuhan.
c. Young berpendapat bahwa naturaliter relegeosa atau pembawaan agama pada jiwa manusia.
Dari berbagai pendapat di atas jelaslah bahwa menurut pendapat para ahli potensi memang telah di bawa anak sejak lahir, dan tentu ini akan berkembang sesuai dengan pendidikan dan pengaruh lingkungan lainnya yang ia terima.
Karenanya ada hukum-hukum dasar psikologi yang harus diperhatikan dalam membimbing anak dalam proses pendidikan , yaitu :
a. Tiap anak memiliki sifat kepribadian yang unik, yang terbentuk karena peranan tiga faktor penting, yakni (1) keturunan (heredity); (2) lingkungan (environment); (3). Diri (self).
b. Tiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda
c. Tahap-tahap pertumbuhan memiliki ciri tertentu.
3. Guru/ Pendidik
Guru atau pendidik menurut Stari Imam Barnadib adalah “tiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai kedewasaan. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa pendidik ialah (1) orang tua, dan (2) orang dewasa lain yang bertanggung jawab tentang kedewasaan anak.
Pendidik yang utama adalah orang tua, karena orang tualah yang paling bertanggung jawab bagi pendidian anaknya. Orang tua memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang tinggi dan tulus kepada anak-anaknya. Perasaan ini dijadikan Allah sebagai asa kehidupan psikis, sosial dan fisik kebanyakan makhluk hidup. Dan perasaan ini yang membuat orang tua mampu bersabar dalam memelihara, mengasuh, mendidik anak serta memperhatikan segala kemaslahatannya.
Namun karena kesibukannya, orang tua bisa lalai menunaikan kewajibannya mendidik anak. Kelalaian ini tentu akan menimbulkan masalah bagi anak khususnya, dan bahkan keluarganya dan masyarakatnya, maka sejalan dengan tuntutan kebutuhan manusia, mereka melimpahkan pendidikan anaknya kepada orang lain, namun tentu tidak mengurangi tanggung jawab mereka terhadap pendidikan anak itu, agar dapat menjadi seorang yang sempurna dunia akhirat, mampu melaksanakan pengabdian kepada Allah SWT dan menjalankan tugas kekhalifahan sebagai bagian dari pengabdiannya kepada Allah SWT.
Orang yang menerima amanat orang tua untuk mendidik anak itu disebut guru. Namun karena perkembangan zaman jabatan guru tampaknya sudah menjadi profesi yang menjadi sumber mata pencaharian. Guru bukan hanya menerima amanat pendidikan, melainkan juga orang yang menyediakan dirinya sebagai pendidik profesional.
Ada 6 (enam) kriteria yang harus dipenuhi untuk mengatakan bahwa sebuah bidang pekerjaan sebagai bidang pekerjaan profesional, yaitu :
1. They involve essentially intelectual operations.
2. They derive their raw material from sciences and learning
3. They work up this material to a practical and definite end.
4. They posses an educationally communicable technique.
5. They tend toward self organization
6. They are becoming increasingly altruistic in nature
Dari kriteria tersebut dapat dipahami bahwa pekerjaan guru dapat dianggap pekerjaan profesional jika dilandasi dengan latar belakang pendidikan keahlian tertentu, dan bidang pekerjaan itu ada kaitannya dengan layanan kepada masyarakat tanpa bermaksud mengambil keuntungan, sebab layanan profesional kepada masyarakat mengandalkan keahliannya.
Selain itu profesi bukanlah cara untuk mencari nafkah, tapi profesi lebih terarah kepada suatu bidang pekerjaan yang menuntut standard kompetensi dan tanggung jawab, yang dengannya seorang profesional melakukan pekerjaannya dan memang bisa hidup secara layak.
Pekerjaan sebagai pendidik (guru) dilakukan bukan sekedar untuk mencari nafkah, tapi juga merupakan pekerjaan layanan dalam bidang pendidikan kepada masyarakat, yang menuntut adanya pengetahuan dan keahlian khusus, karenanya pekerjaan guru dapat dikatakan sebagai profesi. Untuk memperkuat alasan bahwa pekerjaan sebagai tenaga pendidik (guru) dapat dianggap sebagai profesi hal ini didasarkan kenyataan sebagai berikut :
1. Lapangan kerja guru atau pendidikan adalah lapangan kerja yang serius dan berencana yang secara teliti memperhitungkan komponen-komponen sistemnya yang terdiri dari komponen in put – proses – out put pemakai yang berada dalam lingkungan tertentu.
2. Lapangan kerja ini memerlukan dukungan ilmu atau teori yang akan memberikan konsepsi teoritis ilmu kependidikan beserta cabang-cabangnya
3. Lapangan kerja ini membutuhkan waktu pendidikan dan latihan yang lama sejak dari pendidikan dasar sampai kepada pendidikan tingkat sarjana bahkan ditambah pula dengan pendidikan profesional
Disamping punya kompetensi pribadi dan sosial, seorang agar dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru haruslah memiliki kemampuan profesional, yaitu : (1) Menguasai landasan kependidikan , yang meliputi pengenalannya terhadap tujuan pendidikan, mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat, mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam PBM; (2). Menguasai bahan pengajaran, yang meliputi bahan pengajaran dalam kurikulum dan bahan pengayaan; (3) Menyusun Program Pengajaran, yang meliputi penetapan tujuan, memilih dan mengembangkan bahan pengajaran, strategi belajar mengajar, media pengajaran dan memilih dan memanfaatkan sumber pengajaran; (4) Melaksanakan Program Pengajaran, yang meliputi penciptaan iklim belajar mengajar yang tepat, mengatur ruangan belajar dan mengelola interaksi belajar mengajar; dan (5) Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, meliputi penilaian prestasi murid untuk kepentingan pengajaran dan menilai proses belajar mengajar yang dilaksanakan.
Tugas utama guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar bearti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan kepada siswa.
Sebagai salah satu subjek pendidikan, keberadaan pendidik sangat menentukan, dimana secara umum pendidikan tidak akan berjalan manakala tidak ada pendidik atau guru, sebagai fasilitator dan bahkan dinamisator proses pendidikan.
Profesi Guru merupakan profesi mulia, tetapi punya tanggung jawab besar, sebagaimana dinyatakan al Ghazali :
“ Makhluk paling mulia di muka bumi ialah manusia, sedangkan bagian paling mulia dari substansinya adalah kalbunya. Guru adalah orang yang sibuk menyempurnakan, memuliakan, mensucikan dan menuntunnya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Atas dasar itu, mengajarkan ilmu tidak hanya mewujudkan peranan ibadah kepada Allah, tetapi juga kekhalifahan bagi Allah.”
Mengingatnya tanggung jawabnya yang besar, maka guru muslim hendaknya memiliki syarat dan sifat-sifat tertentu. Adapun syarat yang idealnya harus dimiliki guru, adalah :
1. Umur; harus sudah dewasa
2. Kesehatan; harus sehat jasmani dan rohani
3. Keahlian; harus menguasai bidang yang diajarkan dan menguasai ilmu mendidik (termasuk ilmu mengajar)
4. Harus berkepribadian muslim
Sementara sifat yang idealnya harus dimiliki guru, adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Mahmud Yunus berikut ini :
1. Menyayangi muridnya dan memperlakukan mereka seperti menyayangi dan memperlakukan anak sendiri.
2. Hendaknya guru memberi nasehat kepada muridnya seperti melarang mereka menduduki suatu tingkat sebelum berhak mendudukinya.
3. Hendaknya guru memperingatkan muridnya bahwa tujuan menuntut ilmu adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan untuk menjadi pejabat, untuk bermegah-megah atau untuk bersaing.
4. Hendaknya guru melarang muridnya berkelakuan tidak baik dengan cara lemah lembut, bukan dengan cara memaki-maki
5. Hendaknya guru mengajarkan kepada murid-muridnya mula-mula bahan pelajaran yang mudah dan banyak terjadi di dalam masyarakat
6. Tidak boleh guru merendahkan mata pelajaran lain yang tidak diajarkannya
7. Hendaknya guru mengajarkan masalah yang sesuai dengan kemampuan muridnya
8. Hendaknya guru mendidik muridnya supaya berfikir dan berijtihad, bukan semata-semata menerima apa yang diajarkan guru.
9. Hendaknya guru mengamalkan ilmunya, jangan perkataannya berbeda dari perbuatannya,
10. Hendaknya guru memberlakukan semua muridnya dengan cara adil, jangan membedakan murid atas dasar kekayaan atau kedudukan.
Melihat tugas, tanggung jawab dan syarat di atas, maka seorang guru agama, haruslah memiliki kemampuan baik paedagogis maupun psikologis.
Kemampuan paedagogis, tersebut meliputi :
a. Suka mengajar
b. Suka memperhatikan Mata Pelajarannya
c. Suka mengetahui cara mengajar anak
d. Suka Memperhatikan anak didik
e. Punya kepribadian yang menarik
Sedangkan kemampuan psikologis, meliputi :
a. Sehat Jasmani
b. Sehat akal dan mental
c. Punya kepribadian
d. Berwatak susila
e. Mengetahui/ pernah mendapatkan pendidikan umum dan keguruan.
Kemampuan-kemampuan ini akan sangat menunjang pelaksanaan tugasnya sebagai guru agama, sebab bagaimana pun juga dalam melakukan tugas kependidikan, Guru akan berhadapan dengan berbagai masalah, seperti :
a. Perbedaan Individual anak, yang meliputi perbedaan IQ, Watak, back ground, dll.
b. Penetapan materi yang sesuai dengan anak dan komponen pengajaran lainnya
c. Pemilihan dan penetapan metode
d. Penyediaan alat bantu
e. Proses pelaksanaan PBM dan evaluasinya, dll.
4. Alat Pendidikan
Sutari Imam Barnadib mendefinisikan alat pendidikan adalah “suatu tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan.” Senada dengan itu, Ahmad D.Marimba mendefenisikan alat pendidikan adalah “segala sesuatu atau apa yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan.”
Dari defenisi itu dapat dipahami bahwa segala tindakan, segala situasi yang dikondisikan, atau benda yang digunakan, atau program yang dipakai dengan sengaja diarahkan untuk mencapai tujuan, dapat dikategorikan sebagai alat pendidikan, termasuk tujuan itu sendiri. Manakala tujuan digunakan untuk mencapai tujuan yang secara hirarchis berada di atasnya, maka tujuan pun dapat dianggap sebagai alat pendidikan.
Diantara alat-alat pendidikan dan pengajaran yang penting , adalah :
4.1 Metode
Guru disamping harus memahami cara pengunaan, kelemahan dan keuntungan dari berbagai metode, juga harus mempertimbangkan beberapa hal dalam pemilihan dan penetapan sebuah metode, antara lain :
1) Keadaan murid yang mencakup pertimbangan tentang tingkat kecerdasan, kematangan, perbedaan individual lainnya.
2) Tujuan yang hendak dicapai; jika tujuannya pembinaan daerah kognitif, maka metode drill kurang tepat digunakan
3) Situasi yang mencakup hal yang umum seperti situasi kelas, situasi lingkungan. Bila jumlah murid begitu besar, maka metode diskusi agak sulit digunakan apabila ruangan yang tersedia kecil. Metode ceramah harus mempertimbangkan antara lain jangkauan suara guru.
4) Alat yang tersedia akan mempengaruhi pemilihan metode yang akan digunakan. Bila metode eksprimen yang akan dipakai maka alat-alat untuk eksprimen harus tersedia; dipertimbangkan juga jumlah dan mutu alat itu.
5) Kemampuan guru pengajar tentu menentukan, mencakup kemampuan fisik, keahlian. Metode ceramah memerlukan kekuatan guru secara fisik. Guru yang mudah payah, kurang kuat berceramah dalam waktu yang lama.
6) Sifat bahan pengajaran. Ini hampir sama dengan jenis tujuan yang dicapai seperti pada poin 2 di atas. Ada bahan pelajaran yang lebih baik disampaikan dengan metode ceramah, ada yang lebih baik dengan metode drill …
4.2 Hukuman dan Ganjaran
Hukuman dan ganjaran merupakan alat pendidikan yang penting adanya, dimana hukuman dan ganjaran yang tepat akan menimbulkan motivasi, konsentrasi dan perhatian anak terhadap proses pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran yang ditetapkan.
Prinsip keadilan dan tidak pilih kasih dalam memberikan hukuman dan ganjaran adalah salah satu syarat utama, agar hukuman dan ganjaran itu bisa bernilai positif dalam upaya pencapaian tujuan. Prinsip keadilan ini bukan hanya terhadap anak tapi juga terhadap hukuman bagi tindakan kesalahan yang sama dan ganjaran bagi hal yang positif yang sama, adalah harus sama pula.
Ada beberapa hal yang hendaknya diperhatikan dalam memberikan hukuman , seperti yang disarikan dari pendapatnya Noer Ali berikut ini :
1. Hukuman adalah metode kuratif. Artinya, tujuan hukuman ialah untuk memperbaiki peserta didik yang melakukan kesalahan dan memelihara peserta didik lainnya, bukan balas dendam. Oleh sebab itu. Oleh sebab itu, pendidik hendaknya tidak menjatuhkan hukuman dalam keadaan marah.
2. Hukuman baru digunakan apabila metode lain, seperti nasehat dan peringatan tidak berhasil guna dalam memperbaiki peserta didik
3. Sebelum dijatuhi hukuman, peserta didik hendaknya lebih dahulu diberi kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
4. Hukuman yang dijatuhkan kepada peserta didik hendaknya dapat dimengerti olehnya, sehingga ia sadar akan kesalahannya dan tidak mengulanginya.
5. Hukuman psikhis lebih baik ketimbang hukuman fisik.
6. Hukuman hendaknya disesuaikan dengan perbedaan latar belakang kondisi peserta didik.
7. Dalam menjatuhkan hukuman, hendaknya diperhatikan prinsip logis, yaitu hukuman disesuaikan dengan jenis kesalahan.
8. Pendidik hendaknya tidak mengeluarkan ancaman hukuman yang tidak mungkin dilakukannya.
Salah satu tindakan ganjaran yang dapat sangat efektif adalah reinsforsment (penguatan), baik berupa :
a. Kata-kata (verbal), seperti baik, bagus, tepat sekali, dsb., atau
b. Isyarat (gestural) seperti kerlingan mata, senyuman, acungan jempul, dll., atau
c. Sentuhan, seperti menyentuh bahu anak, dll, atau
d. Mendekati dan memperhatikan mereka
e. Pemberian tanggung jawab tertentu, seperti diminta bercerita, atau membacakan karangan dia kedepan kelas, dll.
1.3 Persuasi
Persuasi ialah meyakinkan peserta didik tentang suatu ajaran dengan kekuatan akal. Metode ini dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah ( uslub al-iqna wa al-iqtina).
Penggunaan metode persuasi didasarkan atas pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal. Al-Qur’an sarat dengan contoh yang menunjukkan penghargaan Islam terhadap akal, serta memerintahkan kepada manusia untuk menggunakan akal dalam membedakan antara yang benar dan yang salah serta anatara yang baik dan yang buruk. Seruan Allah kepada Rasul-Nya agar menyeru manusia dengan cara yang bijaksana, memberi pengajaran yang baik, dan berargumentasi secara baik, menunjukkan kepentingan penggunaan metode ini. Allah menjelaskan :
Serulah manusia kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (Q.S. al-Nahl/16:125)
Demikian pula penegasan Allah untuk tidak menggunakan pemaksaan dalam menyeru manusia untuk beragama:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. (Q.S. al-Baqarah, 2:256)
Dengan metode persuasi, pendidikan Islam menekankan pentingnya memperkenalkan dasar-dasar rasional dan logis segala persoalan yang dimajukan kepada peserta didik. Mereka dihindarkan dari meniru segala pengetahuan secara buta tanpa memahami hakikatnya atau pertaliannya dengan realitas, baik individual maupun sosial. Mereka juga diberi kesempatan untuk melakukan diskusi secara benar dan konstruktif dalam menganalisis berbagai aspek obyek yang didiskusikan.
Salah satu teknik yang mungkin dapat digunakan pendidik untuk meyakinkan peserta didik dalam persoalan keagamaan, terutama persoalan gaib, ialah penjelasan kepada mereka tentang adanya bermacam-macam pengetahuan, seperti pengetahuan mistik-transendental (laduniyyah ghaybiyyah) dan pengetahuan tradisional dari generasi terdahulu. Jenis pengetahuan ini kadang-kadang sulit dipahami melalui pola piker rasional. Banyak sekali fakta yang menjelaskan hal itu; bahkan dalam ilmu fisika atau ilmu-ilmu empiris sekalipun. Alam sekitar manusia penuh dengan fenomina-fenomina yang tidak dapat dilihat, dirasa, dan didengar. Meskipun demikian, tidak seorangpun dapat mengingkari keberadaannya. Ambilah contoh gelombang suara dan gelombang cahaya. Ada wujud yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat melalui mata telanjang; dan ada suara-suara sangat halus, seperti merayapnya semut, yang tidak mungkin didengar melalui telinga biasa. Semua itu ada dan keberadaannya tidak pernah diketahui oleh manusia di masa lalu. Kemudian akal kadang-kadang sulit untuk membayangkan pembakaran yang dihasilkan sinar laser terhadap tubuh-tubuh keras. Pendek kata, tidaklah perlu membuktikan wujud sesuatu dengan wujudnya secara langsung, tetapi cukup dengan mengetahui bekas atau tandanya. Orang bijak dahulu mengatakan bahwa unta betina itu ada karena ada untu jantan, dan berjalan itu ada karena ada langkah. Demikian pula, fakta-fakta penciptaan alam membuktikan keagungan Penciptanya.
Ilmu pengetahuan modern menggunkan pola berfikir ini.
Dalam pendidikan, umpamanya, belum dapat diketahui secara pasti apa yang terjadi pada akal manusia sebagai akibat dari proses belajar. Orang percaya bahwa manusia mempelajari berbagai pengetahuan, tingkah laku, dan keterampilan. Namun bagaimana belajar itu terjadi pada manusia, ini merupakan lapangan ijtihad berbagai teori yang berusaha menafsirkan belajar pada manusia.
Di dalam kehidupan sendiri terdapat hal-hal yang rasional dan irrasional. Orang kadang-kadang menolak aspek irrasional ketika berfikir dengan logika rasional. Meskipun demikian, ia tetap hidup dalam realitas ini dan terpengaruh olehnya. Banyak orang yang percaya secara ilmiahkepada teori yang mengatakan bahwa “ apabila orang hidup karena mengikuti dasar-dasar kesehatan, maka ia mesti mati karena sakit.” Namun, kehidupan menunjukkan bahwa hal itu hanya merupakan salah satu hukum kehidupan.Kebenaran ilmiah tidaklah abadi. Tidak sedikit teori ilmu yang pernah menguasai pemikiran di suatu masa kemudian terbukti tidak benar. Hal ini menjelaskan bahwa akal mempunyai keterbatasan.
Di samping itu, manusia tidak selamanya hidup dengan mengikuti dasar-dasar rasional. Kadang-kadang manusia dapat mencapai keyakinan rasional, tetapi ia sering kali terbelenggun oleh kebiasaannya. Contohnya, banyak orang yang yakin akan bahaya merokok, tetapi ia tidak mampu mencegah kebiasaannya. Seringkali orang yakin akan sesuatu dari sisi rasional, tetapi tidak yakin dari sisi emosional. Oleh sebab itu, pendidikan Islam berusaha membimbing manusia muslim agar mampu menguasai perasaan dan menjauhkan diri dari fanatisme buta; kemudian dasar rasional ditanamkan agar dapat membantu penyucian perasaan yang mulia serta nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan.
1.4 Keteladanan
Keteladanan adalah alat utama dalam pendidikan. Keteladanan ini, manakala kita mencontoh pendidikan di masa Rasullullah, adalah hal yang harus dilakukan oleh semua pendidik. Saking pentingnya maka da’wal bil hal dalam agama kita harus dikedepankan ketimbang da’wah bil maqal.
Pendidikan dengan keteladanan berarti pendididikan dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berfikir dan sebagainya. Dan pendidikan dengan keteladanan adalah yang paling berat dan sukar tapi diakui dengan keteladanan justru lebih berhasil guna, ketimbang hanya penyampaian pesan secara lisan saja. Pendidik barangkali akan merasa mudah mengkomunikasikan pesannya secara lisan. Namun, anak akan merasa kesulitan dalam memahami pesan itu apalagi ia melihat pendidiknya tidak memberi contoh tentang pesan yang disampaikannya.
Banyak ahli pendidikan yang berpendapat bahwa pendidikan dengan teladan merupakan metode yang paling berhasil guna. Hal itu karena dalam belajar, orang pada umumnya, lebih mudah menangkap yang konkrit ketimbang yang abstrak. ‘Abdullah ‘Ulwan, umpamanya, mengatakan bahwa pendidikan barangkali akan merasa mudah mengkomunikasikan pesannya secara lisan. Namun anak akan merasa kesulitan dalam memahami pesan itu apabila ia melihat pendidikannya tidak memberi contoh tentang pesan yang disampaikannya.
Didalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan kepentingan penggunaan teladan dalam pendidikan. Antara lain terlihat pada ayat-ayat yang mengemukakan pribadi-pribadi teladan seperti di bawah ini :
a. Pribadi Rasulullah saw :
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmad) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. al-Ahzab/33:21)
b. Pribadi Nabi Ibrahim as. Dan umatnya:
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia…(Q.S al-Mumtahanah/60:4)
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada hari kemudian)….(Q.S al-Mumtahanah/60:60)
c. Orang-oarang yang mendapat petunjuk dari Allah dan ikhlas dalam berdakwah:
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjukoleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (al-Qur’an). Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat. (Q.S al-An’am/6:90)
Kepentingan penggunaan keteladanan juga terlihat dari teguran Allah terhadap orang-orang yang menyampaikan pesan tetapi tidak mengamalkan pesan itu. Allah menjelaskan:
Hai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (Q.S. al-Shaff/61:2-3)
Dalam psikologi, kepentingan penggunaan keteladanan sebagai metode pendidikan didasarkan atas adanya insting (gharizah) untuk beridentifikasi dalam diri setiap manusia, 5 yaitu dorongan untuk menjadi sama (identik) dengan tokoh identifikasi (identificand). 6 Robert R. Sears dan kawan-kawan mengartikan identifikasi sebagai berikut :
Identification is the name we choose to give to whatever process occurs when the child adopts the method of role practice, i,e., acts as though he were occupying another person’s role. (Identifikasi ialah nama yang kami pilih untuk menunjuk proses apa pun yang berlangsung ketika anak mengadopsi cara berperan, yaitu berlaku seakan-akan ia sedang melakukan peranan orang lain). 7
Identifikasi, menurut pengertian di atas, mencakup segala bentuk peniruan yang dilakukan seseorang terhadap tokoh identifikasinya. Dengan perkataan lain, identifikasi merupakan mekanisme penyesuaiandiri yang terjadi melalui kondisi interaksional dalam hubungan sosial antara individu dan tokoh identifikasinya. 8
Tokoh identifikasi dapat ditemukan di dalam kelompok atau institusi sosial. Di antaranya yang berperan penting ialah keluarga, kelompok sebaya, sekolah dan kelompok keagaamaan. 9 Di lingkungan keluarga, tokoh yang hendak disamai anak biasanya adalah ayah atau ibunya. Dalam proses identifikasi ini, anak tidak saja menjadi identik secara lahiriah, tetapi terutama justru secara bathiniah. Anak mengambil alih (biasanya dengan tidak disadari oleh anak itu sendiri) sikap-sikap, norma, nilai dan sebagainya dari tokoh identifikasi. Oleh sebab itu, anak laki-laki yang terbiasa dekat dengan ibunya, apabila ibu mengasuhnya secara feminim, bisa membawa sifat-sifat kewanitaan ibu. Untuk memelihara sifat kelaki-lakiannya diperlukan pendidikan yang agak keras, tidak berarti kasar, yang disebut Anna Freud (1937) sebagai identification with the anggressor. 10 Demikian pula di sekolah anak tidak hanya mempelajari pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi juga sikap, nilai dan norma. Sebagai sikap dan nilai itu dipelajari anak secara informal melalui situasi formal di dalam dan di luar kelas dari para guru dan teman-temannya.11
Pada anak-anak, identifikasi mempunyai arti sangat penting bagi perkembangnan kepribadiannya. Anak-anak dari keluarga yang terpecah-pecah, atau anak-anak yang yatim piatu, tidak mempunyai tokoh identifikasi tertentu. Kondisi yang demikian bisa menyebabkan perkembangan kepribadiannya kurang sempurna, mudah terpengaruh dan mudah terjerumus dalam kenakalan atau kejahatan. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya anak-anak seperti itu diberi tokoh identifikasi pengganti seperti nenek, paman dan pengasuh panti asuhan. 12
Anak-anak tidak hanya beridentifikasi dengan tokoh-tokoh yang dapat ditemui atau dihadapinya secara fisik. Mereka juga bisa beridentifikasi dengan tokoh-tokoh dalam buku dan gambar. Wilbur Schramm dan kawan-kawan mengemukakan bahwa anak-anak mudah untuk beridentifikasi dengan tokoh-tokoh dalam cerita yang ditayangkan di televisi. Para orang tua dapat menyaksikan bagaimana anak-anak lelaki bertingkah laku seperti pahlawan berkuda, dan anak-anak gadisnya bertingkah laku seperti pasangan kekasih. 13
Identifikasi, sebagaimana dikemukakan Michael Howe, tidak terbatas pada anak-anak. Bettelheim (1943) berdasarkan observasinya terhadap para narapidana yang telah lama menghuni kamp konsentrasi Nazi mengemukakan bahwa mereka beridentifikasi dengan para aggressor. Mereka meniru tingkah laku para penjaga kamp, bahkan kadang-kadang bertindak lebih sadis daripada para penjaga terhadap para narapidana lainya. 14
Identifikasi dapat dibedakan menjadi dua macam:identifikasi instingtif dan identifikasi yang bertujuan . Identifikasi instingtif tidak mempunyai tujuan. Ia muncul karena adanya dorongan (motivasi), terutama, berupa perasaan lemah di hadapan pihak yang mempunyai kekuatan. Pihak yang kalah akan beridentifikasi dengan pihak yang menang dengan mengikuti dan tunduk kepada hukumnya, yang dipimpin akan mengikuti pemimpinnya, dan anak-anak akan beridentifikasi dengan orang tuanya. Di sini pihak yang lemah melakukan tindakan yang identik dengan tokoh identifikasinya, didasarkan atas dorongan untuk memperoleh perlindungan. 15
Seseorang yang berada dalam kondisi yang lemah bisa mengikuti apa pun yang dilakukan tokoh identifikasinya. Muhammad Quthb memandang orang yang tidak mempunyai akidah yang benar sebagai pihak yang berada kondisi lemah. Ia mengemukakan :
Manakala manusia hidup tanpa akidah yang benar, maka dia akan menjadi budak bagi berbagai macam benda dan situasi lingkungan hidupnya. Inilah yang berkuasa padanya dan membentuk hidupnya. Akan tetapi orang yang memiliki akidah yang benar, maka akidah itulah dengan isinya yang lengkap dengan petunjuk-petunjuk Ilahi akan mengatur kehidupannya dan segala tingkah lakunya, perasaannya dan segala pola berfikirnya, bukanlah lingkungannya. 16
Agar individu tidak menjadi “budak lingkungannya “, identifikasi pada anak-anak dan sebagian orang dewasa di atas hendaknya disertai dengan penanaman pengertian akan apa yang ditirunya dan kesadaran akan tujuan. Dengan pengertian dan kesadaran tersebut, ia akan dapat memilih apa yang patut untuk diikuti.
Identifikasi yang bertujuan merupakan proses berfikir yang memadukan ketergantungan serta dorongan untuk meniru dengan kesadaran akan apa yang ditiru. Kalau identifikasi instengtif disebut taqlid, maka identifikasi yang bertujuan disebut ittiba’. 1717 Identifikasi terakhir inilah yang hendaknya membentuk kepribadian peserta didik muslim. Inilah pula yang diserukan al-Qur’an dalam banyak ayatnya, antara lain :
Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. “ (Q.S. Yusuf/12:108)
1.5 Nasehat
Yang dikehendaki dengan nasehat ialah “penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahan dengan tujuan menghindarkan orang yang dinasehati dari bahaya serta menunjukkannya ke jalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat.”
Nasehat yang lemah lembut dan tulus ikhlas akan semakin dapat mengena/ mempengaruhi perasaan dan pada gillirannya dapat membentuk kepribadian dan jalan hidup seseorang. Dan Nasehat yang baik adalah nasehat yang diikuti dengan keteladanan dari pemberi nasehat.
Al-Qur’an sarat dengan nasihat, Allah menjelaskan:
Sesungguhnya Allah memberika pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu (Q.S. al-Nisa/4:58)
Yang dimaksud dengan nasihat ialah penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan menghindarkan orang yang dinasihati dari bahaya serta menunjukkannya ke jalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat. 27
Memberi nasihat merupakan salah satu metode penting dalam pendidikan Islam. Dengan metode ini pendidik dapat menanamkan pengaruh yang baik ke dalam jiwa apabila digunakan dengan cara yang dapat mengetuh relung jiwa melalui pintunya yang tepat. Bahkan dengan metode ini pendidik mempunyai kesempatan yang luas untuk mengarahkan peserta didik kepada berbagai kebaikan dan kemaslahatan serta kemajuan masyarakat dan umat. Cara dimaksud ialah hendaknya nasihat lahir dari hati yang tulus. Artinya pendidik berusaha menimbulkan kesan bagi peserta didiknya bahwa ia adalah orang yang mempunyai niat baik dan sangat peduli terhadap kebaikan peserta didik. Hal inilah yang membuat nasihat mendapat penerimaan yang baik dari orang-orang yang diberi nasihat. 28 Cara yang demikian sesungguhnya sesuai dengan pengertian etimologis kata nasihat itu sendiri. Kata ini dalam bahasa Arab berakar pada katanashaha dan mengandung pengertian bersih dari noda dan tipuan. Rajulun nashihun al-jaib berarti orang yang tidak memiliki sifat menipu dan al-nashih berarti madu murni. Atas dasar pengertian ini, kata ‘Abdurrahman al-Nahlawi, indikasi nasihat yang tulus ialah orang yang memberi nasihat tidak berorientasi kepada kepentingan material pribadi. Selanjutnya pendidik yang memberi nasihat secara tulus hendaknya menghindarkan diri dari segala bentuk sifat riya dan pamrih agar tidak menodai keikhlasannya sehingga kewibawaan edukatifnya dan pengaruhnya terhadap jiwa peserta didik menjadi hilang. 29
Dalam interaksi antara pihak yang memberi nasihat dan yang diberi nasihat pihak pertama menempati posisi lebih dan pihak kedua berada dalam posisi kurang. Dapat dikatakan bahwa dengan memberi nasihat pada dasarnya pendidik menggurui peserta didik. Kondisi yang demikian sering kali membuat pihak yang diberi nasihat merasa direndahkan, dan karenanya nasihat itu tidak baik, melainkan karena ia tidak berkenan dengan cara penyampaian nasihat itu. Oleh sebab itu, dalam menggunakan metode nasihat, pendidik hendaknya berusaha menghindari perintah dan larangan langsung seperti “ Kerjakan ini!” dan Jangan lakukan itu!” Sebaiknya pendidik menggunakan teknik-teknik tidak langsung seperti dengan bercerita dan membuat perumpamaan.
Cerita atau kisah bisa bermuatan ajaran moral dan nilai-nilai edukatif. Cerita-cerita yang disajikan di dalam al-Qur’an sarat dengan ajaran dan nilai yang demikian. Allah swt menegaskan :
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu……(Q.S Yusuf/12:3)
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S. Yusuf/12:111)
Dari kisah para nabi dan umat terdahulu banyak pelajaran yang dapat dipetik. Allah swt, umpamanya bercerita kepada kaum munafik dan kafir pada masa Nabi Muhammad saw tentang kaum kafir dan umat terdahulu yang ingkar kepada para rasul-Nya. Kemudian Allah swt menjelaskan akibat kezhaliman yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri:
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh,’Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduka) negeri-negeri yang telah musnah ? Telah dating kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata. Maka Allah tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.S. al-Taubah/9:70)
Ketika menggunakan kisah-kisah itu untuk memberi nasihat, pendidik dapat membahasnya secara panjang-lebar dan meninjaunya dari berbagai aspek selaras dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
Pendidik dapat pula menggunakan pelajaran sejarah untuk menyampaikan ajaran dan nasihat. Banyak umat yang jatuh karena akhlaknya rusak, tidak sedikit kebudayaan yang hancur karena masyarakat pendukung kebudayaan itu terpecah-belah, begitu pula banyak orang yang binasa karena kesombongan dan kekufurannya. Itulah beberapa ajaran dan nasihat yang dapat dipetik dari pelajaran sejarah. Tujuan pengungkapan peristiwa-peristiwa sejarah dalam al-Qur’an pun, kata ‘Abdurrahman al-Nahlawi, bukan untuk menanamkan fanatisme kebangsaan atau keagamaan tertentu, bukan pula untuk membanggakan nenek-moyang, melainkan untuk memetik pelajarannya dan mengetahui intisarinya. 30
Dalam al-Qur’an ditemukan banyak ayat yang bertalian dengan berbagai peristiwa. Meskipun peristiwa-peristiwa itu terjadi karena sebab khusus, tetapi nilai pelajaran yang terkandung di dalamnya berlaku bagi semua manusia. Umpamanya, Allah swt mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa jumlah tentara yang banyak, yang begitu dibangga-banggakan belum tentu akan dapat membawa kemenangan. Sebaliknya, keimanan yang kokoh, yang berakar dalam kalbu dan taufik dari Allah swt. (sambil menyadari sumber dan sebab segala kekuatan), niscaya membawa kemenangan. Pelajaran ini disajikan melalui peristiwa sejarah yang dikenal dengan Perang Hunain :
Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (hai orang-orang yang beriman) di medan perang yang banyak. Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi congkak karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikit pun. Dan bumi yang luas itu telah terasi sempit oleh kalian, kemudian kalian lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kalian tidak melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang kafir. (Q.S. al-Taubah/9:25-26)
Nasihat dapat pula disampaikan dengan membuat perumpamaan. Al-Qur’an telah menyajikan banyak perumpamaan yang dapat digunakan sebagai model dalam menyampaikan nasihat. Umpamanya, nasihat untuk beriman dan tidak kafir. Nasihat ini disajikan dalam perumpamaan sebagai berikut :
Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungannya, kemana saja dia disuruh oleh penanggungannya, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada di atas jalan yang lurus ? (Q.S. al-Nahl/16:76)
Dalam firman tersebut Allah mengumpamakan orang mukmin dengan orang yang mampu berjalan di atas jalan yang lurus, dan mengumpamakan orang kafir dengan orang yang tidak mampu mengerjakan apa pun, malah hanya menjadi beban bagi orang lain.
1.6 Bimbingan
Dimaksudkan adalah sebagai upaya yang harus digunakan manakala terkait dengan masalah kehidupan dan kesulitan lainnya yang dihadapi, dengan garisan bahwa pendidik hanya sebatas memberi petunjuk dan motivasi bukan sifatnya mendekti.
1.7 Pembiasaan
Pembiasaan merupakan proses penanaman kebiasaan. Yang dimaksud dengan kebiasaan (habit) ialah cara-cara bertindak yang persistent, uniform, dan hampir-hampir otomatis (hampir-hampir tidak disadari oleh pelakunya .
Pembiasaan dilakukan khususnya untuk penerapan norma agama yang menuntut harus melalui tingkah laku yang dibiasakan, sehingga lama kelamaan akan menyatu dalam kepribadian peserta didik.
1.8 Motivasi dan Intimidasi
motivasi dan intimidasi telah digunakan masyarakat secara luas: orang tua terhadap anak, pendidik terhadap murid, bahkan masyarakat luas dalam interaksi antar sesamanya. Al-Qur’an ketika menggambarkan surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala siksanya menggunakan metode ini. Demikian pula ketika mengemukakan prinsip logis tentang keseimbangan antara balasan dan perbuatan.
Pada hari ini manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzahrah pun (sekecil apa pun), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Q.S. al-Zalzalah/99:6-8)
Dalam bahasa Arab ini disebut uslub al-targhib wa al-tarhib.Metode ini sesuai dengan tabiat manusia di damana pun dan apa pun jenis, warna kulit, atau ideologinya. Manusia menurut tabiatnya bertingkah laku sesuai dengan kadar pengetahuannya tentang akibat yang mungkin lahir dari tingkah laku dan perbuatannya, apakah akibat itu membahayakan ataukah bermanfaat dan apakah menyenangkan ataukah menyengsarakan.
Motivasi dan intimidasi digunakan sesuai dengan perbedaan tabiat dan kadar kepatuhan manusia terhadap prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah Islam, Sebab pengaruh yang dihasilkan tiap-tiap metode itu tidaklah sama. Metode motivasi lebih baik ketimbang metode intimidasi. Yang pertama bersifat positif dan pengaruhnya relatif lebih lama karena bersandar pada pembangkitan dorongan intrinsik manusia. Sementara itu, metode kedua bersifat negatif dan pengaruhnya relatif temporal (sementara) karena bersandar pada rasa takut. 31
Penggunaan metode motivasi sejalan dengan apa yang dalam psikologi belajar disebut sebagai law of happiness, prinsip yang mengutamakan suasana menyenangkan dalam belajar. Ajaran Islam, kata Abdul Fattah Jalal, memberikan prioritas pada upaya menggugah suasana gembira disbanding dengan ancaman dan hukuman. Dalam pelaksanaan prinsip ini hendaknya guru atau pendidik tanggap akan adanya berbagai iklim dan kondisi yang dihayati peserta didik selama proses belajar-mengajar. 32
Pengutamaan penggunaa metode motivasi atas intimidasi terlihat melalui fakta-fakta sebagai berikut :
Rasulullah saw diutus kepada umat manusia denganmemberikan kabar kembira :
Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan…..(Q.S. al-Baqarah/2:119)
Allah memuji Rasulullah saw yang bersandar pada pemberian kabar gembira dan menyerunya untuk senantiasa menggunakannya :
Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali ‘Imran/3:159)
Dalam hal kebaikan, Allah melipatgandakan pahalanya, sementara dalam hal keburukan, Dia membalasnya setimpal dengan keburukan itu :
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa membawa perbuatan yang jelek, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejelekannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan). (Q.S. al-An’am/6:160)
Allah akan meminta pertanggungjawaban dari manusia atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Namun, sementara itu, dia pun membuka pintu taubat bagi mereka.
Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Mai’idah, 5:39)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Q.S. al-Baqarah/2:222)

Pembukaan pintu taubat itu sejalan dengan tabiat manusia sangat kondusif untuk berbuat keliru . Sulit untuk ditemukan ada orang yang tidak pernah berbuat keliru dan memiliki sifat yang sempurna. Oleh sebab itu, metode perbaikan (al-uslub al-ishlahi) yang digunakan pendidikan Islam memberi kesempatan bagi orang yang keliru untuk kembali ke jalan yang lurus. Hal ini mengandung kebaikan dan perbaikan bagi orang yang berdosa atau keliru. Seandainya orang yang berdosa tidak pernah diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya, boleh jadi ia akan mengalami frustasi, lalu tenggelam dalam dosa-dosanya. 33 Allah swt menjelaskan:
Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. SesungguhnyaDialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Zumur, 39:53)
Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam lebih mengutamakan penggunaan metode motivasi ketimbang metode intimidasi. Metode intimidasi dan hukuman baru digunakan apabila metode-metode lain seperti pemberian nasihat, petunjuk, dan bimbingan, tidak berhasil untuk mewujudkan tujuan.
1.9 Evaluasi
Untuk mengetahui hasil pengajaran diperlukan adanya evaluasi yang dalam bahasa Inggris berasal dari kata Evaluation yang berarti penilaian terhadap sesuatu.
Ada 2 istilah yang hampir sama dengan evaluasi pengertiannya, yaitu:
a) Testing atau menggunakan tes ( alat ukur )
b) Measurement ( pengukuran ) yang dalam pengertiannya lebih luas daripada testing, dan biasanya dikhususkan digunakan di sekolah
Evaluasi dalam pengertiannya lebih luas lagi dari measurement baik dilihat dari sudut instrumen yang digunakan atau data yang digunakan, karena menyangkut data kualitatif dan kuantitatif.
Evaluasi di sekolah utama sekali digunakan untuk mengetahui sejauh mana Tujuan dapat dicapai., menjernihkan hipotesis terhadap kurikulum yang digunakan, juga untuk penanganan / kegiatan BP.
Tes hasil belajar berarti memeriksa hasil belajar berupa kemampuan siswa. Dan yang menyangkut dengan KBM ada 2 test yang biasa bahkan selalu dilakukan, yaitu:
1) Pretes; test sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, dan berguna untuk mengetahui entering behavior (tingkah laku dasar) siswa
2) Posttest; test yang dilaksanakan sesudah kegiatan PBM berakhir.
Diantara kegunaan Post test adalah :
1) Untuk menentukan prestasi siswa
2) Untuk umpan balik dalam menentukan kembali ketepatan entering behavior
3) Dijadikan umpan balik dalam menentukan kembali ketepatan prosedur belajar mengajar.
Dalam menyusun tes hasil belajar, paling tidak ada dua prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan tes, diantaranya :
1. Validitas
Tes dikatakan valid manakala ia mengukur apa yang seharusnya diukur, maka tes hasil belajar akan dikatakan valid manakala sesuai dan atau mengukur Tujuan Pembelajaran, sebagaimana telah dirumuskan dalam bentuk TPK.
2. Reliabelitas
Reliable artinya dapat dipercaya, yang tentu ditandai oleh konsistensi tes tersebut.
Konsistensi maksudnya siswa akan memperoleh skor yang relatif tidak berbeda manakala ia diuji pada waktu yang berlainan.
Ada beberapa ciri yang menunjukkan reliablenya tes, yaitu :
1) Redaksinya tidak terlalu mudah atau sukar
2) Menghadapi tes siswa tidak menemui kesulitan dari segi penggunaan tenaga, emosi, kewaspadaan, dll
3) Pertimbangan dalam menjawab adalah pertimbangan kepastian, bukan untung-untungan.
1.10 Alat Bantu Pengajaran
Alat bantu Pengajaran atau Alat peraga atau juga disebut media instruksional ialah alat-alat pengajaran yang berfungsi atau pun memberikan gambaran yang konkret tentang hal-hal yang diajarkan.
Secara terperinci fungsi alat peraga/ media Instruksional, adalah :
a. membantu dan mempermudah para guru dalam mencapai tujuan khusus instruksional secara efektif dan efiesien
b. mempermudah para siswa menangkap materi pelajaran, memperkaya pengalaman belajar, serta membantu memperluas cakrawala pengetahuan mereka, dan
c. menstimulasi pengembangan pribadi serta profesi guru dalam usahanya mempertinggi mutu pengajaran di sekolah.
Pemilihan media instruksional, prosedurnya yang tepat mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
d. tujuan pengajaran
e. isi atau materi pelajaran
f. struktur kurikuler,
g. karakteristik murid
h. kondisi belajar, dan
i. satu atau kombinasi dari beberapa jenis media
Alat bantu ini sangat berperan dalam menunjang pemahaman peserta didik, dan pemberian pengalaman langsung serta mengurangi verbalisme dalam pengajaran.
Alat bantu pengajaran ini, dapat dikelompokkan menurut jenisnya, sbb. :
(a) Soft Ware ( Perangkat Lunak ), yaitu segala bentuk perencanaan dalam pengajaran, seperti film skrip, naskah drama, satpel, RP, program VCD, dll
(b) Hard Ware (Perangkat Keras) adalah peralatan yang mendukung bagi digunakannya dalam menyampaikan pesan dari perangkat lunak, seperti :
a. Media Audio, yaitu media yang bisa didengar, seperti radio, tape recorder, dll
b. Media Visual, yaitu media yang dapat dilihat seperti peta, gambar, Over Head Proyektor (OHP), dll
c. Media Audio Visual (AVA), seperti komputer, televisi, Vedio, Vedio CD, dll
d. Media Taktil, yaitu media yang bisa disentuh atau diraba, seperti media-media yang punya ukuran, baik satu, dua atau tiga demensi.
5. Lingkungan Pendidikan
Potensi memang telah di bawa anak sejak lahir, dan tentu ini akan berkembang sesuai dengan pendidikan dan pengaruh lingkungan lainnya yang ia terima.
Keberhasilan pendidikan akan turut ditentukan oleh dukungan lingkungan dimana peserta didik berada, yang meliputi :
a. Lingkungan keluarganya
b. Lingkungan Pergaulannya
c. Lingkungan organisasinya
d. Lingkungan masyarakatnya
e. Lingkungan sekolahnya itu sendiri.
Misalnya Guru berbicara tentang shalat berjamaah, di sekolah shalat berjamaah diwajibkan, di rumah, di masyarakat, di organisasi dan bahkan di lingkungan teman sepergaulannya senantiasa mengedepankan shalat berjamaah ini, maka secara cepat keberhasilan pendidikan itu akan berhasil secara maksimal. Berbeda halnya dengan manakala anak hidup ditengah keluarga yang tidak terlihat mengerjakan shalat apa lagi shalat berjamaah … dst.
C . Penutup
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa : Proses Pendidikan , ditentukan keberhasilannya oleh beberapa faktor, dan dalam proses pendidikan , faktor-faktor tersebut berproses sebagai sebuah sistem, yang satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan, saling tunjang menunjang. Faktor yang dimaksud adalah : (1) Tujuan Pendidikan; (2) Anak/ Peserta didik; (3)Guru/ Pendidik; (4) Alat; dan (5) Lingkungan.
Guru/ Pendidik, harus memperhatikan ke lima faktor tersebut, dalam melaksanakan proses pendidikan ( mendidik – mengajar – melatih ) peserta didiknya, agar proses tersebut dapat berhasil secara optimal dalam mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan.

DAFTAR BACAAN
Abdul Fattah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam, Terjemahan Hery Noer Aly dari Min al-Ushul al-Tarbawiyyah fi al-Islam, (Bandung: Diponegoro, 1988)
Abdullah Ulwan, Tarbiyatul Awlad Fil Islam, Juz I, (Beirut : Darussalam, 1978)
Abdurrahman An Nahlawi, Ushuluttarbiyatil Islamiyyah wa ashalibuha fil baiti wal Madrasati Wal Mujtama’ , (Damaskus : Darul Fikry, 1979 )
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Surabaya:Bina Ilmu, 1982)
Ahmad D.Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Al Ma’arif, 1980)
Al Ghazali (terjemahan), Ihya Ulumuddin, Juz 1, ( Semarang : Toha Putra, tt )
DR.Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung : Rosda Karya, 1992)
DR.M.J.Langeveld, Paedagogik Teoritis-Sistematis, (terjemahan), tp, tt,
Dra. Hj. Zuhairini, dkk.,Metodik Khusus Pendidikan Agama , ( Surabaya : Usaha Nasional , 1983 )
Drs.Amir Daein Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan sebuah tinjauan teoritis filosofis, ( Surabaya : Usaha Nasional , 1973 )
Drs.Hery Noer Aly,MA, Ilmu Pendidikan Islam,( Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999 )
Drs.Wasty Soemanto, Dasar & Teori Pendidikan Dunia; tantangan bagi Para Pemimpin Pendidikan, (Surabaya : Usaha Nasional, 1982)
Fathiyah Hasan Sulaiman (terjemahan Hyri Nor Aly), Alam Pikiran Al Gazali mengenai Pendidikan dan Ilmu, ( Bandung : Diponegoro, 1986)
Lihat Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung:Remadja Karya, 1986)
Tafsir Al Maraghy
M. Ja’far, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Surabaya : al-Ikhlas, 1982)
M.D.Dahlan, Prinsip-prinsip dan teknik Belajar : Analisa Terbentuknya Tingkah Laku, (Bandung : FIP FKIP – Jurusan Bimbingan Penyuluhan, 1979)
Mahmud Yunus, Sedjarah Pendidikan Islam, (Djakarta : Mutiara, 1966)
Mar’at, Sikap Manusia; Perubahan serta Pengukurannya, (Jakarta;Ghalia Indonesia, 1982)
Michael Howe, Learning in Infants and Young Children, (Stanford, Calofornia; Stanford University Press, 1975)
Muh.Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional,Remaja Rosdakarya,Bandung,1996
Muhammad Munir Mursa, Al-Tarbiyah al-Islamiyyah:Uhsuluha wa Tathawwuha fi al-‘Arabiyyah, (Cairo: ‘Alam al-Kutub, 1977)
Ny. Roestiyah NK, Masalah-masalah Ilmu Keguruan, Bina Aksara, Jakarta, 1982
Robert R. Sears, et. al., Patterns of Child Rearing, (Stanford, California: Stanford University Press, 1976)
Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umun Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996)
Soejono Trimo, Pengembangan Pendidikan, Bandung, Remaja Karya,1986
Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis, Andi Offset, Yogyakarta, 1993
T.M.Stinnet, The Profession of Theaching, Prentice Hall of India, New Delhi, 1965
Tim Dosen FKIP-Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1980
Wilbur Schramm dkk., Television in the Lives of Our Children, (Stanfornd, California: Stanford University Press, 1975)


Responses

  1. […] bookmarks tagged altruisticFlorida Homeowners Insurance – Free Quotes FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN saved by 3 others     fatalscorpion bookmarked on 12/21/08 | […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: