Oleh: H. Ahmad Subehan, Lc, S.Pd.I | 20 Desember 2008

EVALUASI TERHADAP MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

EVALUASI TERHADAP MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR
Oleh :
H. TAUFIKURRAHMAN
Bab I
Pendahuluan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa salah satu tugas Direktorat Pembinaan SMA – Subdirektorat Pembelajaran adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum. Lebih lanjut dijelaskan dalam Permendiknas Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum.
Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Kebijakan pemerintah tersebut mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.
Pada kenyataannya dalam melaksanakan KTSP termasuk sistem penilaiannya, banyak pendidik yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun tes dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel serta pengadministrasiannya.
Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas beberapa aspek pengadministrasian Tes. Yang dimaksud dengan pengadministrasian tes dalam kaitan pembahasan sekarang ini adalah pelaksanaan tes mulai dari proses penyuntingan naskah tes, sampai dengan mengerjakan tes. Langkah-langkah itu meliputi penyuntingan tes, penggandaan naskah tes, pelaksanaan tes, dalam makalah ini juga dibicarakan kekuatan dan keterbatasan beberapa cara pelaksanaan media tes.
Bab II
Penyusunan Perangkat Tes dan Pengadministrasiannya
Penyusunan suatu perangkat tes yang akan dgunakan harus mempertimbangkan 2 (dua) hal utama :
1. Penyuntingan naskah tes.
Suatu naskah tes terdiri dari beberapa butir soal. Penyusunan butir tes tersebut sehingga menjadi suatu perangkat tes haruslah mempertimbangkan beberapa hal yang memungkinkan peserta tes dapat mengarahkan kemampuan terbaiknya dalam mengerjakan tes tersebut. Ini berarti bahwa pertimbangan utama dalam penyuntingan tes adalah peserta tes. Untuk itu hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Tes bentuk objektif sebaiknya tidak dilaksanakan secara lisan.
b. Butir tes disusun mulai dari pokok bahasan yang dibahas paling awal ke pokok bahasan yang dibahas terakhir,
c. Tingkat kesukaran disusun mulai dari yang termudah meningkat terus sampai kepada yang sukar, dalam arti bahwa butir soal yang mudah diletakkan pada awal naskah sedangkan butir soal yang yang sukar diletakkan pada akhir naskah.
d. Butir tes yang setipe hendaknya dikelompokkan dalam satu kelompok. Jadi jangan sampai ada satu tipe tes tersebar dibeberapa kelompok. Misalnya tes pilihan ganda sederhana dicampurkan dengan pilihan ganda sebab akibat, dsb. Setiap bagian tes haruslah berisi satu tipe tes, dan dikumpulkan dalam satu klompok.
e. Tulislah petunjuk pengerjaan tes secara jelas, sehingga tidak seorangpun perlu bertanya lagi tentang cara mengerjakan tes tersebut atau bertanya tentang apa yang harus dilakukan. Petunjuk tes ini sangat besar perannya bagi keberhasilan peserta tes. Selain itu petunjuk tes juga akan turut menentukan apakah pengukuran hasil belajar peserta tes dapat dilakukan secara akurat atau tidak. Suatu petunjuk tes minimal harus mencantumkan : (1) apa yang harus dilakukan oleh peserta tes, (2) bagaimana peserta tes harus mengerjakan tes tersebut, dan (3) dimana jawaban tes harus ditulis. Karena itu maka setiap perangkat tes harus mempunyai : (1) petunjuk umum yang menjadi pedoman mengerjakan keseluruhan perangkat tes, dan (2) petunjuk khusus yang merupakan pedoman mengerjakan satu kelompok tes tertentu. Dalam petunjuk itu sebaiknya juga diikutsertakan contoh mengerjakan tes tersebut (terutama untuk tes yang penting, yaitu tes yang akan menentukan keputusan bagi individu). Disamping itu, dalam petunjuk tes itu juga harus dijelaskan apakah ”guessing formula” atau ”correction formula” akan diterapkan atau tidak. Dalam petunjuk tes juga harus tercantum tentang tata cara peserta tes untuk mengubah jawabannya. Misalnya bila ia pada mulanya memilih jawaban tertentu, tetapi kemudian ia ingin mengubah jawaban tersebut, haruslah dijelaskan cara yang harus ditempuhnya
f. Penyusunan butir tes tersebut hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan kesan berdesak-desak. Setiap butir tes hendaklah diatur sehingga memudahkan peserta tes untuk membacanya.
g. Susunlah setiap butir tes sehingga stem dan seluruh option-nya terletak dalam satu halaman yang sama.
h. Letakanlah wawancara (passage) yang digunakan sebagai rujukan bagi suatu atau beberapa butir tes diatas butir tes yang bersangkutan.
i. Hindarilah meletakkan kunci jawaban dalam suatu pola tertentu.
Dalam hal pengadministrasian penyusunan naskah tes ini, dapat dilakukan sbb. :
a. Administrasi kisi-kisi soal :
Sebelum menyusun kisi-kisi dan butir soal perlu ditentukan jumlah soal setiap kompetensi dasar dan penyebaran soalnya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh penilaian akhir semester berikut ini. Contoh penyebaran butir soal untuk penilaian akhir semester ganjil

No
Kompetensi
Dasar
Materi Jumlah soal tes tulis Jumlah soal
Praktik
PG Uraian
1 1.1 ………… ……….. 6 — —
2 1.2 ………… ……….. 3 1 —
3 1.3 ………… ……….. 4 — 1
4 2.1 ………… ……….. 5 1 —
5 2.2 ………… ……….. 8 1 —
6 3.1 ………… ……….. 6 — 1
7 3.2 ……….. ……….. — 2 —
8 3.3 ………. ……….. 8 — —
Jumlah soal 40 5 2

Setelah itu lalu dibuat dan diadministrasikan kisi-kisi soal, dengan contoh sbb. :
FORMAT KISI-KISI PENULISAN SOAL

Jenis sekolah : ……………………… Jumlah soal : ………………………
Mata pelajaran :……………………… Bentuk soal/tes :………………
Kurikulum :……………………… Penyusun :1. …………………
Alokasi waktu :……………………… …………………

No. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Kls/
smt Materi
pokok Indikator soal Nomor
soal

Keterangan:
Isi pada kolom 2, 3. 4, dan 5 adalah harus sesuai dengan pernyataan yang ada di dalam silabus/kurikulum. Penulis kisi-kisi tidak diperkenankan mengarang sendiri, kecuali pada kolom 6.
Kisi-kisi yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini.
1. Kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional.
2. Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami.
3. Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya.
Untuk non tes skala sikap, kisi-kisinya dapat dibuat sebagaimana contoh berikut :
NO DIMENSI INDIKATOR NOMOR SOAL YANG MENGUKUR
KOGNISI AFEKSI KONASI
+ – + – + –
1. Toleransi a. Mau menerima pendapat orang lain atau tidak memaksakan kehendak pribadi
b. Tidak mudah tersinggung
1

7 2

8 3

9 4

10 5

11 6

12
2. Kebersamaan dan gotong royong a. Dapat bekerja kelompok
b. Rela berkorban untuk kepentingan umum

3. Rasa kesetiakawanan a. Mau memberi dan meminta maaf

4. dst

Untuk pengukuran non tes dalam hal ini pengukuran minat, kisi-kisinya dapat dibuat dan diadministrasikan sbb. :
kisi-kisi dan soal minat belajar sastra Indonesia.

NO. DIMENSI INDIKATOR NOMOR SOAL
1.

2.

3.

4.

Kesukaan

Ketertarikan

Perhatian

Keterlibatan

Gairah
Inisiatif
Responsif
Kesegeraan
Konsentrasi
Ketelitian
Kemauan
Keuletan
Kerja Keras
8, 13
16, 17
10, 15, 20
2, 6, 9
7, 19
3, 10
4, 5
1, 18
12, 14

b. Administrasi Kartu soal
Menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian, yaitu menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang digunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskorannya. Hal yang paling sulit dalam penulisan soal bentuk uraian adalah menyusun pedoman penskorannya. Penulis soal harus dapat merumuskan setepat-tepatnya pedoman penskorannya karena kelemahan bentuk soal uraian terletak pada tingkat subyektivitas penskorannya, untuk itu soal harus ditulis dan diadministrasikan dalam bentuk kartu soal dan berikut kunci jawabannya, dengan contoh sbb. :

KARTU SOAL

Jenis Sekolah : ………………………………Penyusun : 1. ……………………
Mata Pelajaran : …………………………….. 2. ……………………
Bahan Kls/Smt : ……………………………… 3. ……………………
Bentuk Soal : ………………………………Tahun Ajaran : ……………………….
Aspek yang diukur : ………………………………

KOMPETENSI DASAR

BUKU SUMBER:

RUMUSAN BUTIR SOAL
MATERI

NO SOAL:

INDIKATOR SOAL

KETERANGAN SOAL
NO DIGUNAKAN UNTUK TANGGAL JUMLAH SISWA TK DP PROPORSI PEMILIH ASPEK KET.
A B C D E OMT

FORMAT PEDOMAN PENSKORAN

NO
SOAL KUNCI/KRITERIA JAWABAN SKOR

Untuk kisi-kisi tes motivasi prestasi, dapat dilihat pada contoh berikut :

CONTOH KISI-KISI PENYUSUNAN INSTRUMEN
VARIABEL MOTIVASI BERPRESTASI

INDIKATOR NOMOR PERNYATAAN JUMLAH
POSITIF NEGATIF
1. Berusaha unggul
2. Menyelesaikan tugas
dengan baik
3. Rasional dalam meraih keberhasilan
4. Menyukai tantangan
5. Menerima tanggung
jawab pribadi untuk
sukses
6. Menyukai situasi
pekerjaan dengan
tanggung jawab pribadi, umpan balik, dan resiko tingkat menengah 1,2,3

7,8,9

13,14,15
19,20,21

25,26,27,28

33,34,35,36 4,5,6

10,11,12

16,17,18
22,23,24

29,30,31,32

37,38,39,40 6

6

6
6

8

8
Jumlah Pernyataan 20 20 40

Dengan pedoman penskorannya, sbb. :

SKOR JAWABAN

Skor Jawaban a b c d e
Pernyataan Positif 5 4 3 2 1
Pernyataan Negatif 1 2 3 4 5

Untuk tes kreativitas peserta didik dapat dibuat kisi-kisinya sebagaimana contoh berikut :
NO. TES INDIKATOR NOMOR SOAL
1.

2. VERBAL

Gambar a. Kelancaran
b. Keluwesan
c. Keaslian
d. Keelaborasian

a. Kelancaran
b. Keluwesan
c. Keaslian
d. Keelaborasian 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10

1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10

Untuk tes stress belajar, kisi-kisi nya sbb. :

NO. DIMENSI INDIKATOR NOMOR SOAL
1.

2.

3. Tanggapan
Psikologis terhadap kendala
dan tuntutan)

Tanggapan Fisik
(akibat tuntutan)

Tanggapan Persepsual
(terhadap pencapaian) a. Perasaan cemas
b. Khawatir
c. Takut
d. Tidak senang
e. Perasaan terganggu
f. Lepas Kendali

a. Rasa lelah
b. Jantung berdebar
c. Rasa sakit
d. Tekanan darah terganggu

a. Tanggapan dan keyakinan 1,2
3,4,5
6,7,8,9
10,11,12,13,14,15,16,
17,18,19,20,21,22,
23,24,25,26,27,28,29,30

31,32,33,34,
35,36,37,
38,39,40,
41,42,43,

44,45,46,47,48,49,50

Keterangan: nomor soal ganjil adalah pernyataan positif, nomor soal genap adalah pernyataan negatif.

b. Pengadministrasian Soal
Pengadministrasian soal tes hendaknya dilakukan dalam bentuk bank soal, begitu juga untuk skala soal pun harus diadministrasikan dengan baik. Contoh pengukuran non tes dalam bentuk skala sikap, sbb. :

Contoh soalnya sebagai berikut :

NO. PERNYATAAN SS S TS STS
1.

2.

3.
4.

5.

6.
7. Mau menerima pendapat orang lain merupakan
ciri bertoleransi.
Untuk mewujudkan cita-cita harus memaksakan kehendak
Saya suka menerima pendapat orang lain
Memilih teman di sekolah, saya utamakan mereka yang pandai saja
Kalau saya boleh memilih, saya akan selalu
mendengarkan usul-usul kedua orang tuaku.
Bekerja sama dengan orang yang berbeda
Suku lebih baik dihindarkan.
……

Keterangan : SS = sangat setuju, S = setuju, TS = tidak setuju, STS = sangat tidak setuju.

Untuk pembuatan soal tes minat dan harus diadministrasikan dapat dicontohkan, sbb. :
CONTOH TES MINAT PESERTA DIDIK
TERHADAP MATA PELAJARAN

NO. PERNYATAAN SL SR JR TP
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.

9.
10. Saya Senang mengikuti pelajaran ini.
Saya rugi bila tidak mengikuti pelajaran ini.
Saya merasa pelajaran ini bermanfaat.
Saya berusaha menyerahkan tugas tepat waktu.
Saya berusaha memahami pelajaran ini.
Saya bertanya kepada guru bila ada yang tidak jelas
Saya mengerjakan soal-soal latihan di rumah.
Saya mendiskusikan materi pelajaran dengan teman sekelas.
Saya berusaha memiliki buku pelajaran ini.
Saya berusaha mencari bahan pelajaran di perpustakaan

Keterangan : SL = selalu, SR = sering, JR = jarang, TP = tidak pernah.

Keterangan : Dari 4 kategori: skor terendah 10, skor tertinggi 40.
33- 40 Sangat berminat
25- 32 Berminat
17- 24 Kurang berminat
10- 16 Tidak berminat

Soal tes kreativitas, dapat dicontohkan, sbb. :
Contoh Tes Verbal
 Misalnya diberikan tiga gambar ikan dalam akuarium yang masing-masing dibedakan jumlah ikan dan makanannya. Pertanyaan: pilih salah satu gambar yang anda sukai dan jelaskan mengapa anda menyukainya! (waktu 3 menit).
 Buatlah kalimat sebanyak-banyaknya dengan kata “pintar“! (waktu 3 menit).
 Tuliskan berbagai cara tikus masuk ke dalam rumah! (waktu 3 menit).
b. Contoh Tes Gambar
 Disajikan sebuah gambar yang belum selesai.
Pertanyaan: selesaikan rancangan gambar berikut dan berikan judul sesuai dengan selera Anda! (waktu 3 menit).
 Disajikan sebuah sketsa gambar yang belum selesai.
Pertanyaan : selesaikan sketsa gambar berikut menurut kesukaan anda dan setelah selesai berikut judulnya! (waktu 3 menit).
 Disajikan 6 buah titik A, B, C, D, E, dan F dengan posisi yang telah ditetapkan.Pertanyaan: Buatlah gambar dari 6 titik ini, kemudian berikan judulnya!.
 Disajikan gambar sebuah segitiga dan tiga lingkaran yang letaknya mengelilingi segitiga. Pertanyaan: Tafsirkan makna gambar berikut! (waktu 5 menit).

Bentuk soal stress belajar dapat dicontohkan sbb. :
NO. PERNYATAAN SS S KK J TP
1.
2.
3.
.
4.

Saya cemas terhadap kemampuan saya di sekolah.
Saya takut ranking saya turun.
Saya kehilangan nafsu makan setiap menghadapi tuntutan tugas.
Jantung saya berdebar-debar ketika sedang menyelesaikan tugas
…..
Butir-butir soal yang akan disimpan di dalam bank soal harus diproses melalui prosedur pengembangan bank soal. Prosedur pengembangan butir soal yang digunakan di dalam pengembangan bank soal adalah :
(1) Penyusunan kisi-kisi, (2) Penulisan butir soal, (3) Revisi/validasi butir, (4) Perakitan tes, (5) Uji coba tes, (6) Memasukkan data, (7) Analisis butir soal secara klasik dan IRT, (8) Menyeleksi butir untuk bank soal yang terkalibrasi.
Setiap butir soal dimasukkan berdasarkan : tingkat sekolah, tipe sekolah, jurusan, standar kompetensi dan kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, perilaku yang diukur/taxonomi, format soal, tingkat kesulitan butir soal, tingkat kemampuan peserta didik, semester, statistik, tahun.
Dalam mengolah butir-butir soal dalam bank soal diperlukan perangkat lunak yang tepat. Secara singkat, perangkat lunak yang digunakan memiliki tiga kelebihan, yaitu : (1) Kemudahan pada penyimpanan dan pencarian kembali, (2) Kesanggupan untuk memunculkan kembali grafik butir-butir secara tepat, (3) Kelengkapan susunan data butir soal.
Gagasan lain yang perlu dipertimbangkan pada setiap sekolah adalah adanya konsep bank tes. Gunanya adalah untuk menyusun beberapa paket paralel tes kecil berdasarkan unit-unit pembelajaran, seperti ulangan harian, ulangan bersama setiap selesai mengerjakan kompetensi minimal pada beberapa standar kompetensi/kompetensi dasar, ulangan tengah semester, atau ulangan akhir semester.
Para guru dapat memilih tes itu untuk penilaian kelas. Hal ini tidak hanya dapat menghemat waktu bagi guru, model tes seperti ini dapat diharapkan memiliki mutu yang lebih baik. Karena kurikulum di Indonesia adalah standar, maka model seperti ini sangat tepat.
Proses pengembangan bank soal dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

Gambar 1 : Pengembangan Bank Soal (Wright and Bell, 1984: 336)

Bab IV
Penggandaan naskah tes
Setelah naskah tes selesai disunting, langkah berikutnya adalah penggandaan naskah tes. Tentu saja prosedur penggadaan ini harus dapat menjamin kerahasiaan naskah tes, disamping adanya jaminan hasil penggandaan tersebut tidak akan mengganggu konsentrasi peserta tes dalam melaksanakan tes.
Penggandaan tes sebaiknya terpisah antara lembaran tes dari lembaran jawaban. Pemilahan ini akan lebih memudahkan bagi peserta tes dalam menentukan tempat menjawab tes yang diberikan. Sedangkan bagi dosen hal ini sangat memudahkan dalam penskoran, karena tidak perlu digalaukan oleh lembaran tes yang dapat mengganggu dalam penskoran.
Beberapa petunjuk praktis dalam penggandaan ini (termasuk pengetikan) disampaikan berikut ini.
a. Antar butir tes harus cukup tersedia ruangan, sehingga tidak terkesan berdesak-desak.
b. Angka atau huruf yang disediakan di depan alternatif jawaban hendaknya sepenuhnya sama dengan angka atau huruf yang digunakan dalam lembaran jawaban.
c. Untuk tipe tes menjodohkan, maka kedua kolom yang berisi tes atau alternatif jawaban itu harus terletak dalam satu halaman yang sama.
d. Butir tes yang menggunakan wacana, maka butir tes yang berhubungan dengan wacana tersebut harus terletak dalam halaman yang sama.
e. Semua wacana, grafik, diagram atau gambar yang digunakan sebagai landasan bagi butir tes harus terjamin kejelasannya, keakuratannya, dan keterbacaannya.
f. Kalau naskah digandakan dalam jumlah yang banyak, maka harus terjamin setiap naskah sama jelasnya. Jangan sampai terjadi sebagian peserta tes mendapat naskah yang kurang baik dibandingkan dengan peserta tes lainnya.

Bab V
Pelaksanaan Tes.
Pengadministrasian tes juga harus mempertimbangkan berbagai cara pelaksanaan tes. Cara pelaksanaan tersebut antara lain meliputi : (1) tes catatan tertutup atau tes catatan terbuka, (2) tes diumumkan atau tes dirahasiakan (mendadak), (3) tes lisan atau tes tertulis, dan (4) tes tindakan (praktek). Dalam bagian ini hanya akan dibahas kekuatan dan keterbatasannya.
2. Open vs close books (catatan terbuka vs catatan tertutup).
Dalam melaksanakan tes hasil belajar seorang pengajar mempunyai hak penuh untuk menentukan apakah para peserta tes boleh melihat buku/catatan dan menggunakan berbagai alat belajar seperti tabel, kamus, kalkulator dan sebagainya atau tidak. Boleh ataupun tidak boleh, keduanya mempunyai keuntungan/kekuatan dan kelemahan/keterbatasannya.
Kekuatan-kekuatannya jika peserta tes diizinkan mempergunakan buku atau catatan atau alat-alat belajar yang lain adalah :
a. para mahasiswa tidak terlalu tegang pikirannya pada soal, menghadapi atau pada saat melaksanakan ujian.
b. Para mahasiswa akan “bertanya” kepada buku atau catatan atau alat belajar lain yang dimilikinya ketimbang menyontek pekerjaan temannya.
c. Para mahasiswa akan terbiasa membuat catatan yang sebaik-baiknya dan atau memiliki buku-buku dan alat belajar lainnya karena mengetahui betul manfaatnya.
d. Para mahasiswa akan terbiasa membaca buku atau catatan atau berlatih menggunakan tabel, kalkulator dan sejenisnya karena terasa benar manfaatnya, yakni kelak kalau tes tidak akan mengalami kesulitan dalam menggunakannya.
Sebaliknya, keterbatasan-keterbatasannya dapat berupa :
a. Para mahasiswa mungkin saja malas membaca buku atau catatan dengan alasan dalam ujian akan bebas melihat buku atau catatan.
b. Mereka yang jarang membuka buku/catatan akan habis waktu ujiannya untuk mencari/membolak balik lembaran buku untuk mendapatkan jawaban.
c. Ada kecenderungan para siswa malas berpikir; hal yang sangat mudah pun dicari jawabannya di dalam buku atau catatan.
d. Bagi mahasiswa yang alat kelengkapan belajarnya minimal akan dirugikan
Tes yang tidak mengijinkan para peserta membuka buku atau catatan mempunyai keuntungan/kekuatan :
a. membiasakan para mahasiswa untuk memahami isi buku atau catatan yang dimilikinya sebab jika tidak, akan tidak berhasil dalam ujian.
b. Membiasakan para mahasiswa untuk berpikir sendiri, bukan menggantungkan diri kepada buku atau catatan yang ada.
c. Membiasakan para mahasiswa membuat rangkuman mengenai isi buku atau catatan yang dipelajarinya.
Keterbatasan dari tes yang tidak mengijinkan membuka buku atau catatan antara lain :
a. Mendorong mahasiswa untuk melihat pekerjaan temannya (nyontek) apabila sudah betul-betul tak berhasil menemukan jawabannya.
b. Mahasiswa belum tentu terlatih menggunakan buku atau catatan sebagai sumber belajar.
c. Kaburnya prinsip bahwa buku itu untuk digunakan, bukan untuk dihafal. Bahkan dalam kehidupan nyata kelak buk itu memang untuk digunakan. Seorang jaksa akan mempelajari dan membuka-buka KUHP menjelang mengajukan tuntutannya; seorang insinyur sipil akan melihat tabel-tabel perhitungan konstruksi baja pada saat harus menghitung konstruksi sebuah jembatan; seorang dokter akan melihat buku patologi pada saat akan menentukan diagnosis pasien yang ditanganinya; dan masih banyak contoh-contoh lain.

3. Tes diumumkan vs dirahasiakan
Pelaksanaan/pengadministrasian tes dapat dilakukan dengan memberi pengumuman lebih dahulu atau tanpa pemberitahuan sebelumnya. Pada umumnya para ahli psikologi belajar atau psikologi pendidikan tidak dapat menyetujui adanya tes yang pelaksanaannya tidak diumumkan sebelumnya (dirahasiakan). Tetapi pelaksanaan tes yang dirahasiakan itu masih dapat memenuhi tujuan tes tertentu, karena ia mempunyai beberapa kelebihan, seperti :
a. Dapat mengukur pengetahuan siap yang dimiliki oleh mahasiswa,
b. Dapat memotivasi/meningkatkan usaha belajarnya secara terus menerus, karena pengadministrasian tes yang tidak diketahui dengan pasti waktu pelaksanaannya.
c. Dapat digunakan sebagai alat peningkatan disiplin belajar.
Sifat rahasia atau terbuka itu tidak hanya diterapkan pada pengadministrasian tes tetapi juga pada hasil tes. Kekuatan dan keterbatasan hasil tes yang diumumkan itu antara lain :
Kekuatan-kekuatan adalah :
a. Peserta tes yag lulus, apalagi kalau nilainya bagus, akan menjadi bangga karena diketahui oleh teman-temannya. Dan ini akan memacu untuk belajar lebih baik lagi atau sekurang-kurangnya untuk mempertahankannya.
b. Terjadi semacam perasaan dilayani secara layak da perasaan dihargai.
c. Tumbuh kepercayaan para mahasiswa kepada lembaga pendidikan dimana mereka belajar khususnya kepada dosen yang bersangkutan bahwa tes beserta penilaiannya dilakukan secara objektif. Kepercayaan ini makin kuat lagi apabila hasil pekerjaan tes dikembalikan kepada mereka, dan dosen yang bersangkutan memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk membahas kunci jawabannya dan mempersoalkan nilai mereka.
d. Pihak dosen tentu akan mengoreksi dan memberi nilai kepada setiap pekerjaan peserta tes dengan cermat karena tidak ingin kepercayaan mahasiswa kepada dirinya hilang karena kecerobohannya.
Keterbatasannya adalah :
a. Membuat malu mahasiswa yang tidak lulus atau nilainya rendah yang pada gilirannya akan menghapuskan motivasi belajarnya.
b. Kesempatan untuk demokratis seperti yang diutarakan pada keuntungan butir c di atas dapat saja cenderung menjadi protes-protes yang mengarah kepada keadaan ”chaos”.
c. Dosen yang karena satu dan lain hal tidak dapat mengumumkan tepat waktu, akan merasa mempunyai beban mental yang berat dan memang dapat menjurus kepada cemoohan oleh para mahasiswa.
d. Memerlukan kemampuan administrasi yang prima yang memerlukan fasilitas dan dana tambahan
Jika hasil tes tidak diumumkan, maka kekuatan-kekuatan antara lain adalah :
a. Tidak menuntut kemampuan administratif yang prima dan mahal.
b. Tidak akan terjadi protes-protes dari pihak peserta tes yang akan merepotkan para dosen maupun lembaga pendidikan yang bersangkutan.
c. Jika dipandang perlu, nilai seorang peserta tes dapat diputuskan dengan mengikut sertakan faktor-faktor non tes, kerajinan misalnya.
Dan keterbatasan-keterbatasan adalah :
a. Tes itu tidak ada atau kurang berguna karena tidak komunikatif dengan para mahasiswa atau orang tua mahasiswa yang bersangkutan. Padahal tes hasil belajar itu berfungsi dan bermanfaat jika dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang bersangkutan.
b. Dapat saja terjadi seseorang dosen itu ”main hakim sndiri” tanpa diketahui oleh siapapun
c. Para mahasiswa tidak merasakan hasil jerih payahnya padahal hasil yang diperoleh ini memberi motivasi yang sangat penting dalam proses belajar.
4. Tes Lisan atau tes tertulis
Kekuatan tes tertulis antara lain adalah :
a. Kemampuan memilih kata-kata, kekayaan informasi, kemampuan berbahasa, kemampuan memilih ataupun memadukan ide-ide, dan proses berpikir peserta tes dapat dilihat dengan nyata
b. Kemampuan-kemampuan seperti yang disebutkan pada butir a di atas dapat dibandingkan antara yang satu dengan yang lain.
c. Dalam waktu yang relatif terbatas dapat dilaksanakan tes yang terdiri atas sejumlah besar peserta tes sehingga ekonomis.
d. Memungkinkan dikoreksi oleh lebih dari seorang korektor (jika bentuk tesnya esei) sehingga lebih objektif.
Sedangkan keterbatasan-keterbatasannya antara lain :
a. Khusus untuk tes bentuk esei, tes tertulis itu menuntut tugas peserta tes yang terlalu berat.
b. Dalam hal tes bentuk esei khususnya, maka ketunabahasaan akan merugikan peserta tes yang bersangkutan apabila masalah bahasa diperhitungkan di dalam memberi nilai.
c. Yang bersifat massal itu biasanya kurang baik dibandingkan dengan yang individual
d. Mahasiswa cenderung menuliskan jawabannya berpanjang-panjang, sehingga jawaban tersebut malah menyimpang dari persoalannya, hal ini tidak dapat dikontrol oleh dosen. Di samping itu karena asyiknya terpaku pada salah satu butir, akhirnya mahasiswa lupa waktu sehingga pada saat waktu tes habis peserta tes yang bersangkutan belum beranjak ke butir tes yang lain
Bagi tes lisan kekuatan-kekuatan antara lain :
a. Dapat dilaksanakan secara individual sehingga lebih cermat dan dapat dilakukan ”probing” sehingga penguji mengetahui persis dimana posisi hasil belajar peserta didik yang bersangkutan.
b. Kemampuan-kemampuan seperti yang ada pada tes tertulis yang telah diuraikan di atas dapat dipantau secara langsung oleh dosen yang mengujinya.
c. Dengan tes lisan memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah dan dialog aktif. Ini mendorong mahasiswa menyiapkan diri sebaik-baiknya.
d. Mahasiswa dapat mengemukakan argumentasi-argmentasinya secara lebih bebas sehingga dosen yang mnguji mengetahui persis jalan pikiran mahasiswa.
Sementara itu keterbatasan-keterbatasannya antara lain adalah :
a. Tidak ekonomis.
b. Jika yang melaksanakannya hanya seseorang, jadi satu lawan satu maka dapat terjadi subjektifitas yang sukar dikontrol.
c. Memungkinkan dosen ”main hakin sendiri” bahkan dendam pribadi dapat dilampiaskan disitu.
d. Bagi peserta tes yang ”gagap” atau ”grogi” dirugikan oleh sistem ujian lisan ini.
5. Tes tindakan atau praktek
Bagi tes tindakan atau praktek, kekuatan-kekuatannya antara lain adalah :
a. Terjadinya pengecekan terhadap terbentuk atau tidaknya keterampilan yang dirumuskan di dalam TIK
b. Membuat pergantian suasana sehingga kejenuhan dapat dikurangi atau dihilangkan.
Sementara itu keterbatasan-keterbatasannya antara lain adalah :
a. Tidak semua bahan dapat diujipraktekkan
b. Mahal dan dosen dituntut lebih mampu dari mahasiswanya yang hal ini mungkin tidak dapat dipenuhi, terutama dalam bidang olah raga.
c. Jika prakteknya tidak dalam keadaan yang sesungguhnya maka mahasiswa cenderung main-main, atau kalau mereka juga sungguh-sungguh maka kurang manfaatnya karena dalam praktek di dalam kehidupan sehari-hari tidak sama dengan situasi praktek ”tiruan”. Dalam praktek tiruan ini mahasiswa umumnya justru kikuk; jadi tidak berlangsung wajar.

Bab VI
Penutup

Administrasi tes sebenarnya sangat penting dilakukan pada setiap tahapan, mulai tahap perencanaan, kemudian pelaksanaan dan bahkan analisis dan tindak lanjut terhadap hasil tes.
Kesulitan yang paling menonjol pada tes adalah pembuatan naskah, karenanya bagian ini sangat penting untuk diadministrasikan secara baik, bukan hanya memudahkan bahan acuan pembuatan ke depan, tetapi lebih jauh lagi untuk perbaikan perencanaan tes ke depan bagi hasil belajar peserta didik, karena baiknya administrasi semakin memudahkan untuk melakukan evaluasi terhadap perencanaan tes itu dan melakukan tindak lanjutnya pada evaluasi berikutnya.
Untuk itu, yang terpenting di administrasikan adalah :
1. Kisi-kisi soal
2. Kartu soal dan kunci jawaban
3. Bank Soal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: