Oleh: H. Munadi | 20 Desember 2008

PENYUSUNAN DESAIN MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR

PENYUSUNAN DESAIN MANAJEMEN BELAJAR MENGAJAR
Oleh A.Nawawi A.Rauf

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam suatu ruang kelas ketika sesi Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM) berlangsung, nampak beberapa atau sebagian besar siswa belum belajar sewaktu guru mengajar. Sebagian besar siswa belum mampu mencapai kompetensi individual yang diperlukan untuk mengikuti pelajaran lanjutan. Juga, beberapa siswa belum belajar sampai pada tingkat pemahaman. Siswa baru mampu mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum dapat menggunakan dan menerapkannya secara efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari yang kontekstual. Ini terjadi karena, guru belum optimal memberdayakan ‘tambang emas’ potensi masing-masing siswa yang sering kali tersembunyi..
Kalau masalah ini dibiarkan dan berlanjut terus, lulusan sebagai generasi penerus bangsa akan sulit bersaing dengan lulusan dari negara-negara lain. Lulusan yang diperlukan tidak sekedar yang mampu mengingat dan memahami informasi tetapi juga yang mampu menerapkannya secara kontekstual melalui beragam kompetensi. Di era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi sekarang ini diperlukan pengetahuan dan keanekaragaman keterampilan agar siswa mampu memberdayakan dirinya untuk menemukan, menafsirkan, menilai dan menggunakan informasi, serta melahirkan gagasan kreatif untuk menentukan sikap dalam pengambilan keputusan.
Model Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ini menyajikan sejumlah gagasan dan langkah profesional, mulai dari prinsip KBM, dilanjutkan dengan ciri KBM, Cara mengelola KBM, Cara menyediakan Pengalaman Belajar, Cara memilih strategi Pembelajaran, dan terakhir, cara mengelola kegiatan lintas kurikulum. Inti dari paparan materi ini adalah untuk mengembangkan kompetensi peserta didik secara optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik, keadaan sekolah dan tuntutan kehidupan di masa depan. Informasi yang disajikan diharapkan dapat membantu guru untuk mengembangkan gagasan tentang penyediaan strategi mengajar yang mengacu pada pencapaian kompetensi individual masing-masing peserta didik.
Kegiatan Belajar Mengajar adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan kegiatan pendidikan di dalam lingkungan sekolah dengan kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah dalam wujud penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik. Ini berarti, diversifikasi kurikulum tidak terbatas pada diversifikasi materi, tetapi juga terjadi pada diversifikasi pengalaman belajar, diversifikasi tempat dan waktu belajar, diversifikasi alat belajar, diversifikasi bentuk organisasi kelas, dan diversifikasi cara penilaian. Pandangan ini memberikan dampak pada penyelenggaraan KBM. Bila selama ini KBM hanya ditandai kegiatan satu arah penuangan informasi dari guru ke siswa dan hanya dilaksanakan dan berlangsung di sekolah maka KBM dengan nuansa Kurikulum Berbasis Kompetensi diindikasikan dengan keterlibatan siswa secara aktif dalam membangun gagasan/ pengetahuan oleh masing-masing individu dan lazimnya dapat diselenggarakan di beberapa lokasi seperti di kelas, di lingkungan sekolah, di perpustakaan, di laboratorium, di pasar, di toko, di pantai, di tempat rekreasi, di kebun binatang, atau di tempat-tempat lain.
Bila dibuat suatu ilustrasi tentang siswa, kegiatan belajar-mengajar lulusan, kurikulum, dan lingkungan dalam sebuah sistem, maka hal itu akan terlihat kurang lebih seperti berikut:

• Kurikulum
• Buku
• Alat bantu
Siswa Lulusan

• Lingkungan

Siswa dengan karakteristiknya sendiri mengalami PBM di sekolah menjadi lulusan dengan karakteristik barunya. Karakteristik lulusan yang diinginkan sering disebut-sebut sebagai lulusan yang peka, kritis, kreatif, mandiri, bertanggung jawab, dan bertaqwa. Cerdas secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Pertanyaannya adalah sejauhmana PBM selama ini menunjang pencapaian lulusan dengan karakteristik tersebut?
Hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan, Depdiknas (BP3K, ketika itu), di sekolah dasar, pada tahun 1979, menunjukkan antara lain bahwa pada umumnya gaya guru mengajar adalah berceramah sementara siswa mendengarkan. Sebagian besar guru yang diamati menggunakan sebagian besar waktu untuk menyampaikan informasi kepada siswa. Mereka seakan-akan menganggap fungsi utama pengajaran adalah penyampaian informasi. Guru tampaknya kurang menyadari adanya teknik-teknik lain dalam pengajaran.
Di beberapa pertemuan, para guru SD, SMP, dan SMA mengakui bahwa keadaan PBM seperti itu terjadi juga di SMP dan SMA dan sampai sekarang (tahun 2004). Jika hal itu benar dan melanda sebagian besar sekolah kita, maka hal itu berarti sudah 25 tahun keadaan PBM di sekolah tidak berubah. Akankah kita biarkan keadaan PBM seperti itu hingga berusia 100 tahun? Siapakah yang akan melakukan pembaharuan? Seberapa besar kemungkinan PBM seperti itu menghasilkan lulusan dengan karakteristik tersebut di atas? Jelas, terdapat kesenjangan antara ‘proses’ yang terjadi dan ‘hasil’ yang diinginkan !!!
Paling sedikit terdapat dua pilihan. (1). sederhanakan karakteristik lulusan jika PBM tidak akan diubah. (2). perbaiki PBM jika karakteristik lulusan akan dipertahankan. Kemungkinan besar kita akan mengambil pilihan ke dua, memperbaiki PBM, karena lulusan dengan karakteristik seperti tersebut di atas sangat diperlukan untuk menghadapi kehidupan masa depan. Masa yang penuh dengan persaingan. Kita ingin menjadi bangsa yang bukan memenangkan persaingan itu, melainkan yang lebih penting menjadi bangsa yang dapat memberikan manfaat banyak bagi kehidupan bangsa sendiri dan bangsa lain, bukan bangsa kuli atau pengekor bangsa lain. Dengan demikian kita harus menjadi bangsa yang kreatif, yang menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.
B. Tujuan Penulisan
1. Memberikan pemahaman dan pengembangan manajemen belajar mengajar, khususnya yang berkenaan dengan desaian gagasan.
2. Sebagai keharusan untuk memenuhi tugas-tugas perkuliahan Pasca Sarjana, khususnya mata kuliah Manajemen Belajar Mengajar yang diasuh oleh Dr.H.Purwadhi, M.Pd, pada Universitas Islam Nusantara Bandung.
3. Sebagai bahan kajian dan wacana yang menjadi bagian dari dunia akademik, untuk dianalisa dan dievaluasi serta dikaji kembali pemikiran-pemikiran tersebut khususnya mahasiswa-mahasiswa Panca Sarjana Universitas Islam Nusatara Bandung.
C. Sistematika Penulisan

Bab I : Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Sistematika Penulisan, dan Metode
Penulisan.
Bab II : Tinjauan Teoritis
Bab III : Pembahasan
Bab IV : Kesimpulan dan Rekomendasi.
D. Metodetologi Penulisan

Penyusunan dan penulisan ini akan mempunyai pengertian yang lebih khusus dan mendalam, serta mempunyai arti lebih spesifik dalam kontek penulisan yang sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan ilmiah (Panduan Penulisan Karya Ilmiah, Makalah, Laporan Buku, Tesis, dan Desertasi, UNINUS Bandung)

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

1. Pengertian Manajemen
Sebuah definisi mengenai manajemen yang banyak dikutip : ” management is getting thing trough other people ” (manajemen adalah melakukan suatu pekerjaan melalui orang-orang lain). Definisi tersebut kelihatannya masih belum lengkap, karena manajemen sebagai penggerak dalam administrasi adalah untuk mencapai ”tujuan”. Disamping itu, perlu juga dijelaskan bagaiman orang-orang itu mencapai tujuan, yaitu berupa kerjasama. Oleh karena itu definisi yang kemudian banyak digunakan adalah : ” manajemen adalah proses pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan dan kerjasama orang-orang lain, ” Dibawah ini dikutipkan beberapa definisi dari pakar-pakar/ahli manajemen.
a. George R. Terry (2001 : 23 )
Management is accomplishing of the predetermined objective trough the efforts of other people. (Manajemen adalah pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui kegiatan-kegiatan orang lain).
a. Harold Koontz dan Ceryill O. Donel (2001 :24)
Management is getting things done thrpugh other people (manajemen adalah penyelesaian pekerjaan melalui orang lain)
b. John M. Pfiffner (2001 : 24 )
Management is concerned with the direction of these individuals and function achieve ends previously determined (manajemen berhubungan dengan pengarahan orang dan fungsi-fungsinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
c. Howard M. Carlisle (2001 : 24 )
Management is the process by which the element of a group are integrated, coordinated, and efficiently achieve objective. (manajemen adalah proses pengintegrasian, pengkoordinasian, dan /atau pemampaatan elemen-elemen suatu kelompok untuk mencapai tujuan secara efesien)
d. Heresy dan Blanchard (1982 : 3 )
Management as working with trough individuals and groups accomplish organization goals (manajemen adalah pengelolaan merupakan kegiatan yang dilakukan bersama dan melalui orang-orang serta kelompok dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
e. James Stoner (1981 : 6 )
Management is a process of planning, orgazing, leading and controlling the efforts of organizing goals (manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Dari ke enam definisi atau pendapat diatas terdapat tiga dimensi penting, yaitu :
Dimensi pertama : Bahwa manajemen terjadinya suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang pengelola (seperti pemimpin, kepala, komandan, ketua dan lain-lain) bersama orang lain atau kelompok. Pada dimensi ini membuktikan betapa pentingnya kemampuan yang harus dimiliki oleh pengelola (seperti pemimpin, kepala, komandan, ketua dan lain-lain) untuk melakukan hubungan kemanusiaan dengan lain baik melalui hubungan perorangan maupun hubungan kelompok.
Dimensi kedua : Bahwa kegiatan yang dilakukan bersama dan melalui orang lain itu memiliki tujuan yang akan dicapai, dimensi ini juga memberikanmakna bahwa kegiatan trsebut diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan disepekati bersama. Sedangkan Dimensi ketiga : Bahwa pengelolaan dilaksanakan dalam organisasi, sehingga tujuan yang ingin dicapai merupakan tujuan sebuah organisasi.

2. Obyek Manajemen Belajar Mengajar

a. Memahami Problem Belajar
Beberapa yang berkaitan dengan beban belajar adalah :
1) Beban belajar untuk pendidikan dasar dan menengah menggunakan jam pembelajaran setiap minggu setiap semester dengan sistem tatap muka, penugasan, terstruktur, sesuai kebutuhan dan ciri khas masing-masing
2) Pendidikan yang berbasis agama dapat menambah beban belajar untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian sesuai dengan kebutuhan dan ciri khasnya.
3) Ketentuan mengenai beban belajar, jam pelajaran, waktu efektif dan tatap muka, dan persentasi beban belajar ditetapkan dengan peraturan Menteri Berdasarkan usulan BSNP
4) Beban belajar menimal dan maksimal bagi satuan pendidikan yang menerapkan sistem satuan kredit semester (SKS) ditetapkan dengan peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.
5) Beban belajar pada pendidikan kesetaraan disampaikan dalam bentuk tatap muka, praktik keterampilan, dan kegiatan mandiri yang terstruktur sesuai kebutuhan, yang secara efktif ditetapkan dengan Peraturan menteri berdasarkan usulan BNSP.
6) Kurikulum SMP dan SMA, serta bentuk lain yang sederajat dapat dimasukkan pendidikan kecakapan hidup (kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik, kecakapan vokasional), serta pendidikan berbasis keunggulan lokal.
7) Pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan non formal yang sudah memperoleh akreditasi.
8) Beban SKS minimal dan maksimal bagi program pendidikan tinggi ditetapkan dengan peraturan menteri berdasarkan usulan BNSP.

b. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Beberapa yang dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah :
1) Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun BNSP.
2) Kurikulum dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi dan karakteristek daerah, serta sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik,
3) Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi kelulusan, dibawah supervisi dinas pendidikan dan departemen agama yang bertaggung jawab dibidang pendidikan.
4) Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruna tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu Standar Nasional Pendidikan.
c. Kalender Pendidikan / Akademik
Beberapa hal dalam kaitannya dengan kalender pendidikan / akademik adalah :
1) Kalender pendidikan / akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu efektif belajar, dan hari libur.
2) Hari libur dapat berbentuk jeda tenga semester selama-lamanya satu minggu, dan jeda antar semester.
3) Kalender pendidikan/akademik untuk setiap satuan pendidikan diatur ebih lanjut dengan Peraturan Menteri.
3. Standar Kompetensi Lulusan
Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup, sikap, pengetahuan, dan keterampilan, yang dideskripsikan adalah :
a. standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik, yang meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran, serta mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterapilan.
b. standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan pendidikan lebih lanjut.
c. standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
d. standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
e. standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan serta menerapkan ilmu pengetahuan
f. standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan nonformal dikembangkan BNSP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
Sosok manusia Indonesia lulusan dari berbagai jenjang pendidikan memiliki ciri sebagai berikut :
1. Pendidikan Dasar
a. Tumbuh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME
b. Tumbuh sikap beretika (sopan santun dan beradab)
c. Tumbuh penalaran yang baik (mau belajar, ingin tahu, senang membaca, memiliki enovasi, berinisiatif, dan bertanggungjawab)
d. Tumbuh kemampuan komunikasi / sosial (tertib, sadar aturan, dapat bekerja sama, dengan teman, dapat berkompetisi).
e. Tumbuh kesadaran untuk menjaga kesehatan badan.
2. Pendidikan Menengah Umum
a. Memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME mulai mapan
b. Memiliki etika ( sopan santun dan beradab).
c. Memiliki penalaran yang baik (dalam kajian materi kurikulum, kreatif, insiatif, serta memiliki tanggung jawab) dan penalaran sebagai penekanannya.
d. Kemampuan berkomunikasi/ sosial (tertib, sadar aturan dan perundang-undangan, dapat bekerja sama, mampu bersaing, toleransi, menghargai hak orang lain).
e. Dapat mengurus dirinya sendiri.
3. Pendidikan Menengah Kejuruan
a. Memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME mulai mapan
b. Memiliki etika (sopan santun dan beradab).
c. Memiliki penalaran yang baik (untuk mengerjakan keterampilan khusus, inovatif dalam arah tertentu, kreatif dibidangnya, banyak inisiatif dibidangnya serta bertanggung jawab terhadap karyanya).
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi / sosial (tertib, sadar aturan dan huku, dapat bekerja sama, mampu bersaing, toleransi, menghargai hak orang lain, dapat berkompromi).
e. Memiliki kemampuan berkompetensi secara sehat.
f. Dapat mengurus dirinya sendiri.

4. Pendidikan Tinggi
a. Memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME mulai mapan
b. Memiliki etika (sopan santun dan beradab).
c. Memiliki penalaran yang baik terutama dibidang keahliannya (berwawasan ke depan dan luas, mampu mengambil akurat dan benar, mampu melakukan analisa, berani mengemukakan pendapat, berani mengakui kesalahan, beda pendapat dan mengambil keputusan sendiri.
d. Memiliki kemampuan berkomunikasi / sosial (tertib, sadar aturan dan huku, dapat bekerja sama, mampu bersaing, toleransi, menghargai hak orang lain, dapat berkompromi).
e. Memiliki kemampuan berkompetensi secara sehat.
f. Dapat mengurus dirinya sendiri.

5. Pendidikan Luar Sekolah
Meskipun pendidikan luar sekolah diarahkan untuk keterampilan tertentu dalam berbagai tindakan usia, acuan seperti pendidikan dalam institusi sekolah secara berjenjag dapat dirujuk untuk tujuan pendidikan.
Bab III
PEMBAHASAN
A. Prinsip Belajar-Mengajar

Kegiatan belajar mengajar (KBM) dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip khas yang edukatif. Kegiatan itu berfokus pada kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar tetap berada pada diri siswa, dan guru hanya bertangung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Berikut dikemukakan 5 prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang memberdayakan potensi siswa.

gambar
anak sedang berdiskusi/berdebat
B. Berpusat pada Siswa
Mengingat pendidikan secara umum merupakan proses pengembangan potensi peserta didik, maka pembelajaran hendaknya dirancang untuk mengembangan potensi itu.
Siswa terlahir dengan memiliki potensi rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Sementara, fitrah ber-Tuhan merupakan cikal bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan. Mendorong siswa untuk mengungkapkan pengalaman, pikiran, perasaan, bereksplorasi, dan berekspresi merupakan wujud upaya pengembangan potensi tersebut.
Di sisi lain, siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Siswa tertentu lebih mudah belajar melalui dengar-baca (auditif), siswa lain melalui melihat (visual), sementara yang lain lagi melalui bergerak (kinestetik). Oleh karena itu KBM perlu beragam sesuai karakteristik siswa tersebut. Ketika guru berceramah, hanya siswa dengan tipe auditiflah yang mengalami pembelajaran secara optimal. Supaya semua siswa mengalami persitiwa belajar, guru perlu menyediakan beragam pengalaman belajar. Dengan cara ini perbedaan individu terakomodasi.

Pada dasarnya, semua anak memiliki potensi untuk mencapai kompetensi. Kalau sampai mereka tidak mencapai kompetensi, hal itu bukan lantaran mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi lebih banyak akibat mereka tidak disediakan pengalaman belajar yang cocok dengan keunikan masing-masing karakteristik individu.
Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa. KBM perlu menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Artinya KBM memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa. KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal.
C. Belajar melalui Berbuat

“Belajar yang sukses lahir dari mengerjakannya”

KBM perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari. Karena itu, semua siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh informasi dari melihat, mendengar, meraba/menjamah, mencicipi, dan mencium. Dalam hal beberapa topik tidak mungkin disediakan pengalaman nyata, guru dapat menggantikannya dengan penyediaan model analogi atau situasi buatan dalam wujud simulasi. Jika ini juga tidak mungkin, sebaiknya siswa dapat memperoleh pengalaman melalui alat audio-visual (dengar-pandang). Pilihan pengalaman belajar melalui kegiatan mendengar adalah pilihan terakhir.
Mengalami langsung apa yang sedang dipelajari akan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain/guru menjelaskan; dan informasi yang masuk melalui beragam indera akan bertahan lama dalam pikiran siswa. Mengenal bahwa ada perbedaan susunan tulang daun tumbuhan berakar serabut dengan tumbuhan yang berakar tunggang akan lebih mantap bila siswa secara langsung mengamati daun-daun dari kedua jenis tumbuhan itu daripada mendengarkan penjelasan guru tentang hal itu. Di samping itu, membangun pemahaman dari pengamatan langsung akan lebih mudah daripada membangun pemahaman dari uraian lisan guru, apalagi bila siswa masih berada pada tingkat berpikir konkret.
D. Kecerdasan Intelektual, Emosional, Spiritual, dan Sosial
Pemahaman siswa tentang sesuatu, yang terbangun ketika terjadi peristiwa belajar, akan lebih baik bila ia berinteraksi dengan teman-temannya. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau guru.
KBM perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain. Dengan demikian, KBM memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan pend apat, perbedaansikap, perbedaan kemampuan, perbedaan prestasi dan berlatih untuk bekerjasama. Artinya, KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan tindakan di lingkungan sosialnya.
E. Belajar Sepanjang Hayat
Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bisa bertahan (survive) dan berhasil (sukses) dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. Karena itu, siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. KBM perlu mendorong siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif, mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan YME kepadanya.
Ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat. Informasi berlipat ganda setiap 72 hari. Keadaan ini sangat memungkinkan ilmu yang dipelajari siswa saat ini akan kadaluarsa pada saat mereka dewasa. Mereka harus siap belajar lagi tentang hal-hal baru. Artinya, KBM di sekolah harus lebih menumbuhkembangkan semangat belajar daripada hanya membekali siswa informasi temuan ahli dalam bentuk ilmu pengetahuan. KBM perlu membekali siswa dengan sejumlah keterampilan belajar, yang meliputi pengembangan rasa percaya diri, keingintahuan, kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama, senang membaca dan mampu membaca cepat, supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas. Dengan kata lain KBM harus memberdayakan siswa sehingga menjadi pembelajar seumur hidup.
F. Belajar mandiri dan belajar bekerjasama
KBM perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk terbiasa belajar mandiri melalui penyelesaian tugas individual, pembuatan karya individual yang memungkinkan mereka berkompetisi secara spotif untuk memperoleh penghargaan hakiki. Namun pada saat bersamaan, KBM juga perlu menyediakan tugas-tugas yang mendorong siswa untuk bekerja dalam kelompok sehingga memungkinkan tumbuhnya semangat bekerjasama yang mendorong tumbuhnya solidaritas, simpati dan empati terhadap orang lain. Dengan demikian, ragam KBM selalu bergerak dari kedua kutub: belajar mandiri dan belajar bersama. Kondisi ini, memungkinkan siswa berkompetisi secara sportif dan pada sisi lain siswa juga merasa tidak mungkin bekerja sendiri.

Bekerja Kelompok

G. KBM yang Menunjang Pencapaian Kompetensi

Pembahasan ciri KBM ini akan diawalai dengan pembahasan tentang makna belajar dan makna mengajar. Selanjutnya baru diteruskan dengan Ciri-Ciri KBM yang menggelitik pikiran. Dengan ciri KBM seperti maka peluang untuk pencapaian kompetnsi menjadi besar karena sebagian besar daftar kompetensi itu berkaitan dengan keterampilan berpikir.
1. Makna Belajar dan Mengajar
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku guru dalam mengajar adalah pemahaman guru tentang arti belajar dan mengajar. Oleh karena itu, sebelum membahas ciri PBM yang menunjang pencapaian kompetensi, terlebih dahulu perlu dibahas tentang arti belajar dan mengajar.
Makna dan hakikat belajar seringkali hanya diartikan sebagai penerimaan informasi dari sumber informasi (guru dan buku pelajaran). Akibatnya, guru masih memaknai kegiatan mengajar sebagai kegiatan memindahkan informasi dari guru atau buku kepada siswa. Proses mengajar lebih bernuansa ‘memberi tahu’ daripada ‘membimbing siswa menjadi tahu’, sehingga sekolah lebih berfungsi sebagai ‘pusat pemberitahuan’ daripada sebagai pusat ‘pengembangan potensi siswa’. Perilaku guru yang selalu ‘menjelaskan’ dan ‘menjawab langsung’ pertanyaan siswa merupakan salah satu contoh tindakan yang menjadikan sekolah sebagai pusat pemberitahuan.
Apa pandangan Saudara tentang mengajar?
• Seperti menuangkan air kedalam gelas? dimana air perlambang ilmu pengetahuan, keterampilan, atau sikap; dan gelas adalah siswa, atau
• Seperti memelihara tanaman? dimana tanaman adalah siswa yang memiliki potensi untuk tumbuh, guru hanya sekedar pencipta lingkungan agar potensi itu berkembang dengan baik.

Gb. Orang sedang menuangkan air dari ceret ke gelas

Gb petani sedang memelihara tanaman

Perhatikan dua suasana PBM berikut:
Gb 1 Gb 2
Guru sedang menjelaskan perbedaan susunan tulang daun tumbuhan berakar tunggang dan tumbuhan berakar serabut. Siswa secara berkelompok sedang mengamati perbedaan susunan tulang daun tumbuhan berakar tunggang dan tumbuhan berakar serabut.
- Perilaku mengajar manakah yang lebih bersifat mengembangkan potensi siswa?
- Perilaku mengajar manakah yang sering Saudara lakukan?
Bila suasana mengajar lebih bersifat ‘memberitahu’, anehkah bila terbentuk mitos bahwa:
- Gurulah yang paling tahu?
- Gurulah yang paling benar?
dan terbentuk ketergantungan siswa pada guru dalam memutuskan benar-tidaknya sesuatu?
“Begini betul tidak pak?” merupakan contoh gambaran ketergantungan siswa pada guru. Mereka lebih sering bertanya seperti itu daripada “ Ini pendapat ku, bagaimana komentar Bapak/Ibu?”, atau ‘Menurutku …….., bagaimana menurut Bapak/ Ibu?
Pandangan belajar yang lebih bersifat ‘menyerap’ informasi berakibat pada perilaku mengajar yang lebih bersifat ‘menuangkan’ informasi (baca: memberitahu), Hal ini pada akhirnya dapat membuat siswa memiliki sifat ketergantungan pada orang lain. Pada pandangan ‘konstruktivisme’, Belajar diartikan sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dilakukan sendiri oleh siswa dan dimantapkan bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap makna (baca: pengetahuan) yang sudah jadi bentukan guru. Hal ini diperkuat dengan bukti bahwa, hasil ulangan siswa pada akhir KBM beragam padahal mereka mengalami PBM yang sama, dari guru yang sama, dan pada saat yang sama. Pengetahuan ternyata tidak pindah begitu saja dari guru ke siswa, melainkan dibangun sendiri oleh siswa.
Akibat logis dari pengertian belajar di atas, maka mengajar merupakan kegiatan partisipasi guru dalam membangun pemahaman siswa. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa dalam membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya. Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Partisipasi guru hendaknya dibatasi pada peran fasilitator dan mitra-belajar, misalnya dengan cara bertanya yang merangsang berpikir dan berbuat, mempertanyakan, meminta kejelasan, atau menyajikan situasi berpikir untuk siswa. Mengajar ada yang menggambarkan sebagai berikut:
“Guru sajikan situasi untuk dipikirkan. Guru amati apa yang siswa perbuat dengan situasi itu daripada guru beritahu apa yang harus dilakukan siswa terhadap situasi itu”
Gambaran mengajar seperti itu mungkin terlihat pada kasus berikut :
Seorang siswa meminta bantuan kepada gurunya dalam merumuskan kalimat pertanyaan. Dua orang guru menanggapinya secara berbeda.
Guru A:
Ya, siapkan alat tulismu. Tulis, “Siapa namamu?, di mana rumahmu?”, dsb.
Guru B:
Guru :Jika kamu punya kawan baru, kamu ingin tahu apa saja tentang dia?
Siswa: Ingin tahu nama ayahnya.
Guru : Nanyanya bagaimana?
Siswa: … (berpikir) … “Siapa nama ayahmu?”
Guru : Bagus, tulis!
Guru manakah yang lebih mengamati siswa daripada memberitahu siswa apa yang harus dilakukan? Guru manakah yang lebih mewakili Saudara dalam mengajar selama ini?
Dampak pengertian belajar terhadap perilaku mengajar terlihat dalam tabel berikut:
Pengertian Belajar
Akibat pada Perilaku Mengajar
Menyerap gagasan, informasi • ‘Menuangkan’ gagasan, informasi
• Memberitahu
• Tidak toleran terhadap kesalahan
Membangun gagasan • Menciptakan suasana berpikir
• Memancing ungkap gagasan
• ‘Mengijinkan’ (mentolelir) salah
• Mempertanyakan gagasan

Tabel 1: Dampak pengertian belajar terhadap perilaku mengajar
2. Ciri KBM yang ‘menggelitik pikiran’ (Challenging)
Sebagai akibat logis dari pengertian belajar dan mengajar di atas, yaitu lebih pada ‘membangun gagasan’ dan ‘menciptakan suasana berpikir’, maka proses belajar mengajar haruslah bercirikan sebagai berikut:

Gambar Komponen KBM

a. Mengalami dan Eksplorasi

Mengalami dan mengeksplorasi berarti melibatkan berbagai indera: lihat, cium, dengar, raba, dan rasa. Hal ini akan meningkatkan pemahaman siswa tentang suatu konsep dan meningkatkan daya bertahan pemahaman itu (informasi) dalam pikiran siswa. Pepatah berikut mungkin masih berlaku sampai saat ini
• .Saya dengar, saya lupa;
• Saya lihat, saya ingat;
• Saya kerjakan, saya mengerti.
Gb. Siswa sdg melakukan percobaan IPA

Hasil penelitian berikut yang diungkapkan pada ‘piramid pengalaman belajar’ memperkuat pernyataan bahwa belajar dengan cara mengalami langsung akan meningkatkan kebertahanan informasi dalam pikiran kita.
Daya tahan ingatan
setelah 24 jam

Dengar

5 %

Baca

10 %

Dengar-lihat

20 %

Demonstrasi

30 %

Diskusi Kelompok

50 %

Praktik/Mengerjakan

75 %

Mengajari Orang lain/
Menerapkan Hasil Belajar dg segera

90 %
Diagram 1: Daya tahan ingatan setelah 24 jam
Sumber: Sausa, David A. (2001)
Hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan guru ketika merancang suatu PBM sebagi berikut:
Berpikirlah mulai dari bawah diagram berikut: “Apa yang harus diajarkan siswa kepada temannya?”. Jika tidak mungkin, bergerak ke atas, “Apa yang harus dilakukan siswa?”. Demikian seterusnya, yang akhirnya dengan sangat terpaksa, kita merencanakan, “Apa yang harus diceramahkan kepada siswa?”
Kegiatan mengalami dapat pula berupa bermain peran, simulasi, selain mengalami hal yang nyata.
b. Interaksi

Gagasan yang dibangun, sebagai hasil dari proses belajar, berkemungkinan masih belum sempurna bahkan salah. Berinteraksi dengan temannya memungkinkan si pembelajar memperbaiki kesalahan itu atau memperkaya gagasan yang dibangunnya. Di samping itu, interaksi dapat merupakan wahana pengembangan kemampuan sosial siswa seperti berkomunikasi, menyanggah pendapat, dan menyampaikan pendapat secara santun.
Interaksi dapat diciptakan oleh guru antara lain dengan cara merancang kegiatan belajar bagi siswa secara berkelompok, siswa diminta untuk saling menjelaskan kepada temannya tentang temuannya (Ingat: “Siapa yang menjelaskan, sesungguhnya ia belajar”), atau guru mengembalikan pertanyaan siswa kepada siswa lain.

(Gb para siswa sedang berdiskusi)
c. Komunikasi

Gagasan yang benar atau salah baru akan diketahui guru bila siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan atau mengekspresikannya. Guru perlu mengetahui gagasan apa yang ada dibenak siswa agar ia dapat merangsang pengembangannya, bila gagasan benar; atau merangsang perbaikannya, bila gagasan salah. Di samping itu, hal yang pokok adalah bahwa ungkap atau ekspresi gagasan merupakan kebutuhan mendasar manusia. Pemajangan hasil karya siswa, meminta pendapat siswa, atau tidak mentertawakan pendapat siswa sekalipun lucu/sederhana, merupakan beberapa cara/kondisi yang menghidupkan kegiatan komunikasi.

Gb ruang kelas penuh pajangan hasil karya siswa dan siswa yang sedang ungkap gagasan di kelas

d. Refleksi

Siswa perlu dibiasakan untuk merenungkan kembali apa yang dipikirkan dan dilakukannya agar mereka terlatih menilai diri sendiri (pikiran dan tindakan) dan tidak tergantung pada orang lain. Pertanyaan guru seperti “Mengapa demikian?” “Apa hal itu berlaku untuk …?” dapat menimbulkan kegiatan refleksi pada diri siswa;

(gb siswa sedang merenung sambil menuliskan sesuatu)

atau setelah mempelajari satu atau beberapa konsep, siswa diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut dan menuliskannya.
• Apa yang saya pelajari dari kegiatan ini? (Belajar apa dari kegiatan ini?)
• Bagaimana pengetahuan/kemampuan baru terkait dengan pengetahuan/ kemampuan lama?
• Apa manfaat kemampuan baru untuk keperluan di kemudian hari?
Jawaban terhadap pertanyaan itu dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh guru dalam membimbing siswa untuk belajar selanjutnya. Menjawab pertanyaan tersebut sekaligus menjadi ajang pelatihan bagi siswa dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya serta menilai diri sendiri.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan.
1. Pendidikan dalam realitas kehidupan secara sederhana harus menjadi alat kritik konstruktif yang memungkinkan kita memahami realitas pendidikan yang tertuang dalam ajaran agama Islam, Undang-undang Pendidikan RI dan nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia.
2. Manusia adalah makhluq termulia dan harus menjadi khalifah bagi diri dan orang lain. Untuk mempertahan kemuliaan dan mempertangung jawabkan itu. Manusia dilengkapi akal, jasmani dan fitrah beragama, juga berhadapkan dengan tantangan, dan untuk itu diperlukan proses pendidikan yang profesional di era Globalisasi dan Standarisasi pendidikan.
3. Subyek dan obyek manajemen pembinaan keagamaan hendaknya memilki dasar-dasar hukum baik hukum positif maupun hukum dari aspek lainnya.

B. Rekomendasi
1. Untuk membangun struktur masyarakat, diperlukan dasar-dasar pembangunan masyarakat dan dimulai dari Pendidikan (in formal, formal dan non formal) sebagaimana Paradigma yang diterapkan Nabi Muhammad Saw dan itu harus dimulai dari Individu yang Hatinya bersih dan hati seperti ini hanya didapat bila dicuci, diasah dengan Dzikir lihat Q.s. Ar-ra’ad; 28.
2. Masyarakat harus turut serta mengawasi dan pengawal Pemerintah agar Proses Pendidikan berjalan sesuai kebutuhan dan pangsa pasar global dan fitrah dasar Pendidikan itu sendiri.
3. Komite Sekolah Orang tua hendaknya turut serta aktif membantu program MBM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: